JAKARTA – BRI mencatat total kredit dan pembiayaan sebesar Rp 1.562 triliun di kuartal I 2026, dengan kredit UMKM mendominasi sebesar Rp 1.211 triliun atau tumbuh 13,68% secara tahunan, mempertegas posisi bank pelat merah ini sebagai tulang punggung pembiayaan usaha kecil di Indonesia.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat pertumbuhan positif pada penyaluran kredit dan pembiayaannya sepanjang kuartal I 2026. Seperti tahun sebelumnya, segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi penopang utama portofolio kredit perseroan.
Direktur Finance Strategy BRI, Achmad Royadi, menyebut total kredit dan pembiayaan yang disalurkan bank tersebut mencapai Rp 1.562 triliun hingga akhir kuartal I 2026, atau tumbuh 13,68% secara year-on-year (yoy). Angka ini menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global yang masih membayangi sektor perbankan nasional.
"Portofolio pembiayaan BRI tersebar luas di jutaan nasabah mikro dengan plafon yang relatif kecil, sehingga menciptakan diversifikasi risiko yang sangat granular," ucap Royadi saat paparan kinerja BRI, Kamis (30/4/2026).
Royadi mencatat, dari total kredit yang disalurkan, segmen UMKM berkontribusi sebesar Rp 1.211 triliun hingga kuartal I 2026. Portofolio yang tersebar di jutaan nasabah mikro dengan plafon relatif kecil itu dinilai mampu menciptakan diversifikasi risiko yang sangat granular.
Direktur Utama BRI Hery Gunadi menyatakan, kondisi ekonomi global yang penuh gejolak justru memperlihatkan keunggulan struktur kredit BRI yang berfokus pada UMKM. Menurutnya, dengan portofolio yang tidak terkonsentrasi pada debitur besar, potensi risiko kredit perseroan menjadi lebih terdiversifikasi.
"Dan jumlah kreditnya juga kecil-kecil, beda dengan korporasi kalau satu kredit itu bisa triliunan. Ini kan tidak terpusat," ujarnya.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BRI pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 3,01%. Angka ini menjadi salah satu indikator bahwa kualitas aset perseroan masih berada dalam batas yang dapat dikelola meski tekanan dari sisi global terus berlanjut.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) BRI tumbuh 9,4% secara tahunan menjadi Rp 1.555 triliun. Komposisi dana murah atau CASA turut menguat 13,2% yoy menjadi Rp 1.058,6 triliun, yang sekaligus mendorong efisiensi biaya dana perseroan dengan cost of fund turun dari 3% menjadi 2,3%.
Kinerja positif BRI juga tercermin dari sisi pendapatan bunga yang mencapai Rp 52,83 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 5,94% secara tahunan. Di sisi lain, beban bunga justru menyusut 9,31% menjadi Rp 12,68 triliun pada periode yang sama, sehingga margin bunga bersih bank semakin melebar.
Kinerja operasional BRI pada kuartal I 2026 turut mencatat pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp 32,2 triliun atau tumbuh 7,7% yoy. Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan dengan loan at risk (LAR) yang menurun ke level 9,7%, sementara return on assets (ROA) naik menjadi 2,8% dan return on equity (ROE) meningkat ke 18,4%.
Hery juga memastikan BRI akan terus memantau secara ketat sektor-sektor yang berpotensi terdampak dinamika global, termasuk sektor yang berkaitan dengan komoditas ekspor maupun sektor yang rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
Ke depan, BRI menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran sebagai bank yang berfokus pada ekonomi kerakyatan dengan UMKM sebagai pusat pertumbuhan, termasuk melalui penguatan ekosistem dan integrasi digital guna mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.