Harga Avtur Indonesia Tetap Bersaing di Tengah Kenaikan Global Energi

Senin, 06 April 2026 | 14:37:20 WIB
Harga Avtur Indonesia Tetap Bersaing di Tengah Kenaikan Global Energi

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai bahwa harga avtur di Indonesia masih berada pada tingkat yang kompetitif, meskipun terjadi kenaikan akibat tekanan dari pasar energi global. 

Penilaian ini disampaikan seiring dengan dinamika harga bahan bakar sektor penerbangan yang terus bergerak mengikuti kondisi internasional.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa meski terjadi penyesuaian harga oleh Pertamina, posisi harga avtur di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa daya saing energi nasional masih terjaga dengan baik.

“Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain khususnya tetangga, itu kita masih jauh lebih kompetitif,” ujarnya dalam keterangan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin.

Harga Avtur Mengikuti Mekanisme Pasar Global

Menurut Bahlil, harga avtur tidak bisa dilepaskan dari mekanisme pasar global karena berkaitan erat dengan industri penerbangan internasional. Aktivitas penerbangan lintas negara yang berlangsung di Indonesia turut mempengaruhi penentuan harga bahan bakar ini.

Ia menegaskan bahwa pergerakan harga avtur sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar energi dunia. Hal ini menjadi konsekuensi dari keterbukaan sektor penerbangan yang melayani maskapai domestik maupun internasional.

“Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar, dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat-pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme pasar yang terjadi adalah mekanisme pasar,” ujarnya.

Dengan demikian, fluktuasi harga menjadi hal yang tidak terhindarkan dan harus direspons secara adaptif oleh pelaku industri dan pemerintah.

Dampak Kenaikan Harga terhadap Industri Penerbangan

Kenaikan harga avtur memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional maskapai penerbangan. Hal ini berpotensi mempengaruhi harga tiket pesawat serta strategi operasional maskapai dalam jangka pendek.

Sebagai bahan bakar utama dalam sektor penerbangan, avtur menjadi komponen biaya yang cukup signifikan. Oleh karena itu, setiap perubahan harga akan berdampak pada rantai industri secara keseluruhan.

Baca juga: Konsumsi BBM Naik 19% dan Avtur 13% di Jatim pada Periode Lebaran

Selain itu, kenaikan harga ini juga menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi mobilitas masyarakat dan konektivitas antarwilayah di Indonesia. Dalam konteks ini, keseimbangan antara harga dan layanan menjadi hal yang penting untuk dijaga.

Kenaikan Harga Avtur Terbaru oleh Pertamina

Sebagai penyedia utama bahan bakar penerbangan di Indonesia, Pertamina telah merilis harga avtur terbaru yang berlaku untuk periode 1–30 April 2026. Penyesuaian harga ini mencerminkan kondisi pasar yang sedang mengalami tekanan.

Untuk penerbangan domestik, harga avtur mengalami kenaikan rata-rata sekitar 70 persen dibandingkan dengan periode Maret 2026. Sementara itu, untuk penerbangan internasional, kenaikan mencapai sekitar 80 persen, meskipun besaran tersebut berbeda di setiap bandara.

Kebijakan ini merupakan bagian dari penyesuaian terhadap dinamika harga minyak dunia yang terus berubah. Dengan demikian, harga avtur domestik tetap mengikuti tren global yang sedang berlangsung.

Contoh Kenaikan Harga di Bandara Utama

Sebagai ilustrasi, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang (CGK) menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Pada periode 1–31 Maret 2026, harga avtur domestik tercatat sebesar Rp13.656,51 per liter.

Namun, pada periode 1–30 April 2026, harga tersebut naik menjadi Rp23.551,08 per liter. Artinya, terdapat lonjakan sebesar Rp9.894,57 per liter atau sekitar 72,45 persen secara bulanan.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan harga global benar-benar berdampak pada harga bahan bakar di tingkat nasional. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri penerbangan.

Lonjakan Harga dalam Perspektif Jangka Panjang

Jika dibandingkan dengan harga avtur pada tahun 2019, kenaikan yang terjadi saat ini terlihat jauh lebih signifikan. Pada saat itu, harga avtur domestik rata-rata berada di kisaran Rp7.970 per liter.

Dengan harga terbaru yang mencapai Rp23.551,08 per liter, kenaikan tersebut mencapai sekitar 195 persen. Angka ini menunjukkan betapa besar pengaruh dinamika global terhadap harga energi di Indonesia.

Kondisi ini menjadi refleksi bahwa sektor energi sangat sensitif terhadap perubahan pasar internasional. Oleh karena itu, diperlukan strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan energi nasional.

Harapan Stabilitas dan Upaya Adaptasi ke Depan

Pemerintah berharap agar harga avtur tetap berada dalam koridor yang kompetitif, sehingga tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap industri penerbangan nasional. Upaya ini menjadi bagian dari menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan kepentingan masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong inovasi dan efisiensi di sektor energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga global. Hal ini termasuk pengembangan bahan bakar alternatif dan optimalisasi produksi dalam negeri.

Dengan berbagai langkah tersebut, diharapkan sektor penerbangan Indonesia tetap mampu tumbuh dan bersaing di tengah tantangan global. Stabilitas harga energi menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Terkini