JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Selasa, 31 Maret 2026, menunjukkan sinyal penguatan meskipun tekanan global belum sepenuhnya mereda.
Mata uang Garuda berhasil dibuka di zona hijau, mencerminkan adanya respons positif pasar terhadap koreksi dolar Amerika Serikat di pasar internasional.
Kondisi ini menarik perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah situasi global yang masih diliputi ketidakpastian. Di satu sisi, rupiah menunjukkan ketahanan, namun di sisi lain tekanan eksternal masih berpotensi membatasi ruang penguatan. Hal ini membuat pergerakan rupiah tetap berada dalam rentang yang fluktuatif.
Rupiah dibuka menguat di tengah pelemahan dolar global
Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini, Selasa di tengah koreksi tipis dolar AS di pasar global. Merujuk data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di zona hijau dengan terapresiasi tipis 0,03% ke posisi Rp16.980/US$.
Penguatan ini terjadi setelah di perdagangan sebelumnya, Senin (30/3/2026), rupiah ditutup melemah 0,15% ke level Rp16.985/US$. Pergerakan ini menunjukkan adanya upaya pemulihan meskipun masih terbatas. Pelaku pasar cenderung menahan diri sambil mencermati perkembangan global.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah pada pagi ini. Per pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,15% ke posisi 100,358.
Indeks dolar masih berada di level tinggi
Meski terkoreksi, posisi indeks dolar tersebut masih berada di level tinggi setelah sempat menyentuh 100,61 pada perdagangan Senin kemarin. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Mei tahun lalu, menandakan kekuatan dolar masih cukup dominan di pasar global.
Kondisi ini membuat penguatan rupiah menjadi terbatas. Walaupun dolar melemah secara harian, tren jangka menengah masih menunjukkan dominasi mata uang AS. Hal ini menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pergerakan dolar yang masih kuat mencerminkan tingginya permintaan terhadap aset safe haven. Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung memilih dolar sebagai instrumen yang lebih aman.
Sentimen geopolitik memengaruhi pergerakan pasar
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih dibayangi faktor eksternal, terutama memanasnya perang AS-Israel melawan Iran yang terus mendorong lonjakan harga minyak dunia. Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.
Aliran dana pun beralih ke aset safe haven, termasuk dolar AS. Kondisi ini secara langsung menekan mata uang emerging market seperti rupiah. Ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memicu volatilitas pasar global.
Tekanan pasar kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin memperingatkan bahwa Washington akan menghancurkan fasilitas energi dan sumur minyak Iran apabila Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak dorong kekhawatiran pasar
Di sisi lain, Iran menilai proposal damai AS tidak realistis dan kembali meluncurkan rudal ke Israel. Situasi ini memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.
Sentimen negatif juga datang dari laporan bahwa sebuah kapal tanker minyak Kuwait yang tengah berlabuh di Dubai terkena serangan Iran. Insiden ini semakin memicu kenaikan harga minyak dunia.
Lonjakan harga minyak menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar keuangan global. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, sehingga menambah tekanan pada aset berisiko.
Kinerja dolar menguat sepanjang bulan Maret
Kondisi tersebut tercermin dari kinerja dolar AS yang mencatat penguatan signifikan sepanjang Maret ini. Indeks dolar bahkan menuju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025, dengan penguatan sekitar 2,9% sepanjang bulan ini.
Artinya, permintaan terhadap dolar masih sangat kuat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko perlambatan ekonomi global. Hal ini menjadi alasan utama mengapa rupiah sulit menguat secara signifikan.
Investor global cenderung meningkatkan kepemilikan aset berbasis dolar sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi. Strategi ini membuat tekanan terhadap mata uang lain tetap tinggi.
Pernyataan The Fed beri sedikit ruang bagi pasar
Ketua Bank Sentral AS Jerome Powell sebenarnya telah meredam spekulasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Ia menegaskan bank sentral AS masih mengambil pendekatan wait and see dan menyebut ekspektasi inflasi jangka panjang masih terjaga.
Pernyataan tersebut sempat menekan imbal hasil obligasi tenor pendek AS, namun belum cukup untuk melemahkan dolar secara signifikan. Dolar tetap menjadi pilihan utama investor di tengah ketidakpastian.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh sentimen global dalam jangka pendek. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik dan ekonomi dunia.
Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada kombinasi faktor eksternal dan domestik. Jika tekanan global mereda, peluang penguatan rupiah bisa kembali terbuka, namun untuk saat ini volatilitas masih menjadi tantangan utama.