JAKARTA - Performa atlet muda Indonesia di panggung internasional terus menjadi sorotan, terutama setelah menjalani rangkaian turnamen besar.
Hasil yang diraih tidak hanya dilihat dari capaian akhir, tetapi juga dari proses dan perkembangan permainan yang ditunjukkan di setiap pertandingan. Hal ini penting sebagai bagian dari pembinaan jangka panjang.
Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Alwi Farhan, yang tampil cukup konsisten dalam tur Eropa 2026. Meski belum berhasil meraih gelar juara, penampilannya menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan di level kompetisi elite dunia.
Performa menjanjikan di turnamen besar
Alwi Farhan menunjukkan performa yang cukup menjanjikan dalam rangkaian turnamen tur Eropa 2026. Tunggal putra Indonesia tersebut mampu bersaing secara stabil di level elite dunia.
Di All England yang merupakan turnamen BWF Super 1000, Alwi menembus perempat final. Dia ditaklukkan andalan Thailand Kunlavut Vitidsarn dengan straight game 17-21 dan 12-21.
Sementara di Swiss Open, pebulu tangkis berusia 20 tahun tersebut mencapai final. Dia kalah dari wakil Jepang Yushi Tanaka 18-21 dan 12-21 dalam perebutan gelar juara turnamen BWF Super 300 tersebut.
Kemenangan penting jadi sorotan pelatih
Indra Wijaya menyoroti kemenangan Alwi atas unggulan pertama asal China Li Shifeng di semifinal Swiss Open dengan skor 21-10 dan 21-19. Dia menilai kemenangan tersebut sebagai salah satu pencapaian penting.
"Di semifinal, penampilan Alwi sangat baik, terutama saat mengalahkan Li Shifeng yang secara level permainan sudah berada di atas. Tapi di final, performanya tidak sebaik saat semifinal," jelas Indra dalam rilis PP PBSI.
Hasil tersebut menjadi bukti bahwa Alwi memiliki potensi besar untuk bersaing dengan pemain papan atas dunia, meski masih membutuhkan konsistensi dalam setiap laga.
Evaluasi aspek fisik dan mental
Kendati secara umum performanya meningkat, Kepala Pelatih Tunggal Putra Utama PP PBSI Indra Wijaya mengungkapkan masih ada beberapa aspek penting yang perlu diperbaiki.
"Masih ada yang harus ditingkatkan, terutama dari sisi fisik, pengontrolan emosi di lapangan, dan penguasaan permainan saat menghadapi berbagai tipe lawan," papar Indra.
Indra menekankan peningkatan fisik menjadi faktor penting mengingat padatnya jadwal turnamen internasional yang menuntut daya tahan prima agar performa tetap terjaga.
Pentingnya recovery dan konsistensi
Selain itu, kematangan mental dan kemampuan mengontrol emosi saat berada dalam tekanan pertandingan juga dinilai menjadi pembeda di level tertinggi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Indra menambahkan faktor recovery juga menjadi salah satu evaluasi penting. Sehingga Alwi bisa tampil konsisten dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.
"Dengan jadwal yang cukup padat, recovery menjadi sangat penting agar performa bisa tetap stabil," ucapnya.
Daya saing meningkat meski tanpa gelar
Eng Hian selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI menilai daya saing Alwi Farhan dan rekan-rekannya dalam tur Eropa 2026 menunjukkan progres yang cukup baik.
Selain All England dan Swiss Open, tur Eropa juga meliputi German Open dan Orleans Masters. Dalam tur tersebut, Indonesia memang belum berhasil meraih gelar juara.
"Kalau melihat hasil memang belum sesuai harapan. Tapi dari sisi performa dan progres, kami melihat ada perkembangan yang cukup baik. Daya saing pemain terlihat, terutama saat menghadapi pemain top dunia," ujar Eng Hian.
Pengalaman jadi modal ke depan
Menurut Eng Hian, pengalaman bertanding di level tinggi ini menjadi modal penting dalam meningkatkan kematangan permainan serta mental bertanding para atlet.
"Yang perlu ditingkatkan adalah konsistensi di momen-momen krusial. Dari situ biasanya menjadi pembeda antara menang dan kalah. Ini yang terus kami benahi bersama tim pelatih," paparnya.
Ia berharap pengalaman dari rangkaian Tur Eropa dapat menjadi bekal penting bagi Alwi Farhan untuk terus berkembang dan memperkuat daya saing di turnamen elite dunia ke depannya.