JAKARTA - Memasuki periode persiapan Angkutan Lebaran 2026, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat melakukan langkah preventif besar-besaran di salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia.
Kemenhub secara resmi melaksanakan uji kelaikan (ramp check) terhadap 55 unit kapal yang beroperasi di lintas Ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Bali). Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh armada dalam kondisi prima demi menjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pemudik yang diprediksi akan mengalami lonjakan signifikan tahun ini.
Jalur Ketapang-Gilimanuk merupakan urat nadi transportasi yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali. Oleh karena itu, standardisasi kelaikan kapal menjadi harga mati untuk menghindari kendala teknis yang dapat menghambat distribusi logistik maupun mobilisasi penumpang selama masa puncak arus mudik dan balik.
Fokus Inspeksi: Dari Keandalan Mesin Hingga Alat Keselamatan
Proses ramp check ini dilakukan secara mendetail oleh tim penguji kelaikan dari Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD). Pemeriksaan tidak hanya menyasar pada aspek administrasi dan dokumen kapal, tetapi juga menyentuh komponen vital operasional. Fokus utama pemeriksaan meliputi:
Keandalan Mesin dan Navigasi: Memastikan sistem penggerak dan alat komunikasi berfungsi optimal untuk menghadapi dinamika arus laut di Selat Bali.
Alat Keselamatan: Pengecekan ketersediaan dan kondisi life jacket (jaket pelampung), life craft (sekoci), serta alat pemadam api ringan (APAR).
Fasilitas Penumpang: Kelayakan area dek, kebersihan fasilitas umum, dan ketersediaan akses bagi penyandang disabilitas di atas kapal.
Kemenhub menegaskan bahwa setiap kapal yang ditemukan memiliki kekurangan minor harus segera melakukan perbaikan sebelum masa angkutan Lebaran dimulai. Sementara itu, kapal dengan temuan kerusakan mayor yang berisiko pada keselamatan tidak akan diberikan izin beroperasi hingga dinyatakan laik oleh tim penguji.
Strategi Mengurai Kepadatan di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk
Selain kesiapan armada, Kemenhub juga menyiapkan skema pengaturan lalu lintas di area pelabuhan. Dengan 55 kapal yang telah diuji kelaikannya, pola operasi kapal akan diatur berdasarkan tingkat kepadatan penumpang. Pada saat puncak arus mudik, durasi bongkar muat (port time) akan dioptimalkan guna mempercepat perputaran kapal (sirkulasi) sehingga antrean kendaraan di kantong-kantong parkir pelabuhan dapat diminimalisir.
Penerapan sistem tiket elektronik (e-ticketing) juga terus diperketat di lintas ini. Pemudik diimbau untuk sudah memiliki tiket sebelum tiba di pelabuhan demi menghindari penumpukan di pintu masuk. Koordinasi antara ASDP, Kemenhub, dan kepolisian setempat menjadi kunci untuk menjaga kelancaran alur masuk kendaraan, baik dari arah Banyuwangi maupun dari Bali.
Mitigasi Cuaca Ekstrem dan Keamanan Pelayaran di Selat Bali
Kemenhub menyadari bahwa Selat Bali memiliki karakteristik arus yang cukup kuat dan perubahan cuaca yang seringkali mendadak. Oleh karena itu, uji kelaikan ini juga mencakup kesiapan nakhoda dan awak kapal dalam menghadapi situasi darurat. Kemenhub bekerja sama dengan BMKG untuk memberikan pembaruan informasi cuaca secara real-time kepada setiap kapal yang akan bertolak.
"Keselamatan adalah prioritas utama. Kami tidak ingin ada kompromi sekecil apa pun terkait kelaikan kapal. Penumpang harus merasa aman sejak mereka naik hingga turun dari kapal," tegas pejabat Kemenhub di sela-sela inspeksi. Sinergi dengan Basarnas dan otoritas terkait juga telah disiapkan untuk siaga di titik-titik rawan sepanjang jalur penyeberangan.