Investasi Logistik Lampung: Proyek Tol Pelabuhan Panjang–Lematang Diusulkan Masuk PSN

Kamis, 05 Februari 2026 | 11:00:52 WIB
Investasi Logistik Lampung: Proyek Tol Pelabuhan Panjang–Lematang Diusulkan Masuk PSN

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) resmi mengusulkan proyek Jalan Tol Pelabuhan Panjang–Lematang di Provinsi Lampung untuk ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Langkah ini diambil untuk memperkuat konektivitas antara jaringan Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS) dengan infrastruktur pelabuhan guna menekan biaya logistik nasional.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Wilan Oktavian, menyatakan bahwa proyek ini telah masuk dalam Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Umum Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) periode 2025-2029.

“Jalan tol ini telah masuk dalam Renstra PU 2025-2029 dan Rencum KPBU 2025-2029, serta saat ini sedang dalam proses pengajuan Proyek Strategis Nasional,”.

Spesifikasi Teknis dan Konektivitas

Jalan tol yang dirancang sepanjang 11,68 kilometer ini akan menjadi urat nadi baru yang menghubungkan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar langsung menuju area pelabuhan. Pembangunannya akan dibagi menjadi dua tahap konstruksi:

Tahap I: Konstruksi at grade (di atas permukaan tanah) sepanjang 6,76 kilometer.

Tahap II: Konstruksi elevated (layang) sepanjang 4,92 kilometer.

Proyek ini akan dilengkapi dengan satu Interchange (simpang susun) Lematang dan satu On/Off Ramp Soekarno, dengan kecepatan rencana kendaraan mencapai 80 kilometer per jam.

Efisiensi Distribusi Logistik dan Alternatif Simpul Ekonomi

Kehadiran Tol Pelabuhan Panjang–Lematang diproyeksikan mampu menyerap potensi permintaan logistik sebesar 500 hingga 800 truk per hari, terutama dari klaster industri Lematang–Tanjung Bintang. Selama ini, arus truk logistik di wilayah tersebut sangat bergantung pada Pelabuhan Bakauheni.

Dengan adanya tol ini, Pelabuhan Panjang berpeluang besar berfungsi sebagai simpul logistik alternatif yang lebih efisien untuk distribusi barang menuju Banten dan Jabodetabek. Saat ini, pemerintah tengah merampungkan dokumen perencanaan dasar serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Dampak Ekonomi bagi Lampung Bagian Barat

Akademisi dan Wakil Ketua MTI Pusat, Djoko Setijowarno, menilai pembangunan tol ini akan menjadi katalisator kemajuan ekonomi bagi empat kabupaten di Lampung bagian barat, yakni:

Lampung Barat: Mempercepat distribusi komoditas padi, kopi, karet, dan lada.

Tanggamus: Mendukung pengiriman hasil bumi melimpah seperti kakao, hasil laut, dan peternakan.

Pringsewu: Memudahkan akses bagi komoditas hortikultura dan perikanan air tawar yang memiliki luas lahan signifikan.

Pesisir Barat: Mendorong sektor pariwisata pantai serta distribusi hasil hutan dan tambang (granit).

"Hasil pertanian dari beberapa kabupaten di Lampung akan lebih mudah diangkut ke Banten dan Jabodetabek dengan menggunakan jaringan konektivitas JTTS," ungkap Djoko.

Terkini