JAKARTA - Manchester City kembali menapaki fase penting dalam perjalanan mereka di Liga Champions musim ini.
Kepastian lolos ke babak gugur menjadi bukti konsistensi tim asuhan Pep Guardiola dalam menjaga performa di level tertinggi kompetisi Eropa. Hasil tersebut sekaligus menegaskan ambisi besar The Citizens yang tak sekadar ingin tampil, tetapi juga berburu gelar bergengsi.
Kemenangan krusial atas Galatasaray dengan skor 2-0 pada laga terakhir fase liga menjadi penentu langkah City. Tambahan tiga poin itu cukup untuk mengamankan posisi di delapan besar klasemen, membuka jalan lebih lapang menuju fase knockout. Stabilitas permainan dan efektivitas penyelesaian peluang kembali menjadi pembeda dalam laga tersebut.
Di tengah euforia kelolosan, Manchester City tetap menyadari bahwa persaingan ke depan akan semakin ketat. Babak gugur selalu menuntut kedalaman skuad, konsistensi fisik, serta kecerdikan strategi. Karena itu, perhatian klub tidak hanya tertuju pada lapangan, tetapi juga pada langkah-langkah jangka menengah yang dapat memperkuat tim.
Kemenangan Penentu Dan Kebangkitan Haaland
Laga melawan Galatasaray tidak hanya penting dari sisi hasil, tetapi juga memberi sinyal positif bagi lini serang City. Erling Haaland akhirnya mencetak gol non-penalti pertamanya dalam sepuluh pertandingan terakhir. Gol tersebut menjadi pelepas dahaga sekaligus dorongan kepercayaan diri bagi sang striker menjelang fase krusial musim.
Kontribusi Haaland menunjukkan bahwa City masih memiliki senjata utama yang bisa diandalkan saat tekanan meningkat. Pergerakan tanpa bola dan insting mencetak golnya tetap menjadi ancaman bagi lawan. Guardiola tentu berharap momentum ini terus berlanjut ketika tim memasuki babak gugur Liga Champions.
Kebangkitan Haaland juga memberi keseimbangan psikologis bagi tim. Ketika mesin gol utama kembali tajam, beban kreativitas tidak sepenuhnya bertumpu pada lini tengah. Situasi ini membuat permainan City lebih cair dan sulit ditebak oleh lawan-lawan kuat Eropa.
Sorotan Aktivitas Transfer Di Balik Layar
Di balik pencapaian di lapangan, Manchester City mulai dikaitkan dengan berbagai rumor transfer. Fokus utama kabarnya mengarah pada sektor pertahanan, area yang dianggap masih bisa ditingkatkan untuk menghadapi jadwal padat dan tekanan kompetisi ganda. Manajemen klub disebut tengah memantau sejumlah nama potensial.
Langkah ini sejalan dengan filosofi City yang selalu mempersiapkan diri lebih awal. Guardiola dikenal sebagai pelatih yang detail dalam memilih pemain, terutama yang mampu beradaptasi dengan sistem penguasaan bola dan transisi cepat. Karena itu, kandidat yang masuk radar bukan sekadar bertahan, tetapi juga berkontribusi dalam membangun serangan.
Situasi inilah yang membuat nama Trent Alexander-Arnold mencuat ke permukaan. Bek kanan yang kini memperkuat Real Madrid itu dinilai memiliki karakteristik permainan yang cocok dengan gaya City. Kombinasi visi, teknik, dan kemampuan distribusi bola menjadi nilai jual utama sang pemain.
Manchester City Melirik Trent Alexander-Arnold
Manchester City dikabarkan memandang Trent Alexander-Arnold sebagai solusi ideal di sisi kanan pertahanan. Mantan eks wakil kapten Liverpool tersebut dikenal sebagai bek kreatif dengan jangkauan umpan yang luas. Kualitas itu dianggap selaras dengan kebutuhan City dalam memaksimalkan dominasi penguasaan bola.
Menurut laporan Football Insider, Pep Guardiola disebut tertarik memboyong Alexander-Arnold ke Etihad Stadium. Kemampuannya dalam membaca ruang dan mengalirkan bola ke sepertiga akhir lapangan diyakini bisa menambah variasi serangan. Peran bek kanan kreatif menjadi elemen penting dalam skema permainan City.
Namun, ketertarikan itu tidak lepas dari sejumlah catatan. Perjalanan Alexander-Arnold bersama Real Madrid sejauh ini belum sepenuhnya mulus. Faktor kebugaran menjadi perhatian utama yang harus dipertimbangkan secara matang oleh City sebelum melangkah lebih jauh.
Tantangan Cedera Di Real Madrid
Sejak bergabung dengan Real Madrid, Alexander-Arnold baru tujuh kali menjadi starter di semua kompetisi. Rentetan cedera otot menghambat kontinuitas penampilannya bersama Los Blancos. Kondisi ini membuat kontribusinya belum maksimal di musim berjalan.
Pemain berusia 27 tahun tersebut tercatat sudah mengalami tiga cedera otot. Ia bahkan diperkirakan harus menepi hingga Februari akibat masalah pada paha. Situasi ini menjadi kemunduran keenam sejak awal musim 2024/2025 dan memunculkan tanda tanya terkait masa depannya di Madrid.
Bagi Manchester City, risiko cedera tentu menjadi bahan pertimbangan serius. Klub harus menilai apakah potensi jangka panjang sang pemain sebanding dengan tantangan kebugaran yang ada. Keputusan transfer di level ini selalu melibatkan kalkulasi teknis dan medis yang ketat.
Potensi Besar Dalam Perebutan Gelar
Terlepas dari kendala fisik, kualitas Alexander-Arnold tetap diakui. Ia sempat menunjukkan chemistry menjanjikan dengan penyerang seperti Kylian Mbappe dan Vinicius Junior melalui akurasi umpan panjangnya. Karakter tersebut memberi dimensi ofensif yang berbeda dari posisi bek kanan.
Dengan satu assist sejauh ini bersama Real Madrid, potensinya dinilai belum sepenuhnya tergali di La Liga. Jika mampu menjaga kebugaran, kontribusinya bisa meningkat signifikan. Hal inilah yang membuat City melihat peluang besar untuk memaksimalkan kemampuannya.
Manchester City sendiri kini hanya terpaut empat poin dari Arsenal di klasemen Liga Inggris. Pertemuan langsung pada April mendatang berpotensi menjadi penentu arah perburuan gelar. Kehadiran bek kanan kreatif bisa menjadi pembeda dalam laga-laga krusial.
Jika City mampu mengelola kondisi fisik Alexander-Arnold dengan baik, transfer ini berpeluang menjadi langkah strategis. Perannya diyakini dapat membantu The Citizens kembali ke puncak Liga Inggris sekaligus menjaga ambisi menjuarai Liga Champions musim ini.