Breaking

Lonjakan Harga Minyak Tekan Ekonomi Global dan Pasar Keuangan RI

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 28 Agustus 2026
Lonjakan Harga Minyak Tekan Ekonomi Global dan Pasar Keuangan RI
Ilustrasi minyak dunia (FOTO : NET)

JAKARTA – Kenaikan harga minyak dunia menjadi pemicu utama yang memengaruhi arah perekonomian dunia selama semester I 2026. Lonjakan harga energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah dinilai menimbulkan gejolak pada pasar keuangan dan memengaruhi arah kebijakan moneter di berbagai negara.

Chief Economist PT Bahana TCW Investment Management, Emil Muhamad, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi dunia di awal tahun sebenarnya tergolong stabil. Namun, meletusnya konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dunia hingga lebih dari 40 persen dan mengubah peta perekonomian global.

"Kalau kami diminta merangkum apa sih yang terjadi sampai bulan Juli, Januari dan Februari ekonomi global bisa dibilang cukup sehat. Kemudian datang perang di Timur Tengah yang membuat harga energi, harga minyak naik lebih dari 40 persen," ujar Emil dalam acara CIMB Niaga Wealth Talks! Global Pressures, Domestic Realities: Economics Insights to Start The Second Semester 2026, Rabu (5/8/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut pandangan Emil, Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapatkan dampak buruk karena ketergantungan pada impor minyak demi memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Hal ini mengakibatkan lonjakan harga minyak dunia turut memberi tekanan terhadap pasar keuangan di dalam negeri.

"Indonesia termasuk negara yang dirugikan, bukan diuntungkan. Karena Indonesia adalah salah satu negara importir minyak. Kami ini memang produksi minyak tapi produksi kami belum mencapai kebutuhan konsumsi domestik. Karena Indonesia adalah negara konsumen minyak, importir minyak, maka pasar keuangan kami juga terdampak secara negatif ketika harga minyak itu naik," lanjutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menerangkan bahwa lonjakan harga minyak turut mengubah arah kebijakan bank sentral di pelbagai negara. Sejumlah pemangku kebijakan moneter yang tadinya berencana memangkas suku bunga akhirnya memilih untuk menahannya, bahkan menimbang ulang opsi kenaikan suku bunga guna menekan inflasi akibat lonjakan harga energi.

Selain berimbas pada harga bahan bakar di berbagai negara, kenaikan harga minyak juga mengerek biaya avtur maskapai penerbangan. Di Indonesia sendiri, pemerintah terus berusaha menahan dampak lonjakan tersebut, termasuk penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang diterapkan bertahap.

Kendati demikian, Emil menganggap bahwa gejolak yang tengah berlangsung saat ini belum dapat dikategorikan sebagai pergeseran struktural pada ekonomi global. Tekanan tersebut berpeluang mereda jika ketegangan geopolitik berhasil diredam sehingga harga minyak dapat kembali melandai.

"Jadi kalau ditanya apakah ini menjadi sesuatu yang struktural? Di tahap ini kami belum percaya ini struktural. Karena kalau misalkan konfliknya berakhir, katanya Trump mau mengadakan deal ya antara hari ini atau besok gitu, let's see. Kalau misalkan deal-nya terjadi, mungkin harga minyak turun, harga-harga BBM turun, sehingga tekanan terhadap Indonesia juga bisa jadi akan berkurang," lanjut Emil sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa tingginya volatilitas pasar sepanjang separuh pertama tahun ini berpotensi surut apabila konflik geopolitik mereda. Dengan begitu, tekanan bagi sektor dunia usaha maupun masyarakat diharapkan tidak berlangsung secara berkepanjangan.

"Kami lihat ini belum struktural, masih ada harapan bahwa ini bisa mereda dalam waktu dekat," tandasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua