Breaking

CPO Menguat di Bursa Malaysia, Prospek Permintaan Global Meningkat

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 25 Juli 2026
CPO Menguat di Bursa Malaysia, Prospek Permintaan Global Meningkat
Ilustrasi penguatan CPO didukung oleh kenaikan harga minyak nabati dan prospek permintaan global yang membaik. (sumber foto: NET)

JAKARTA - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) menguat pada Jumat (24/7/2026), menembus level tertinggi sejak awal April. Penguatan didorong kombinasi sentimen positif dari pasar minyak nabati, harga energi, hingga prospek permintaan global.

Data BMD menunjukkan kontrak berjangka CPO Agustus 2026 melemah 5 Ringgit Malaysia ke 4.591 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak September naik 14 Ringgit Malaysia ke 4.677 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober terkerek 12 Ringgit Malaysia ke 4.722 Ringgit Malaysia per ton, kontrak November naik 12 Ringgit Malaysia ke 4.753 Ringgit Malaysia per ton, kontrak Desember melesat 11 Ringgit Malaysia ke 4.779 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Januari 2027 menguat 7 Ringgit Malaysia ke 4.800 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari TradingView, penguatan harga CPO ditopang kenaikan harga minyak nabati di Bursa Dalian China, pelemahan ringgit Malaysia, serta tetap tingginya harga minyak mentah di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. Secara mingguan, harga CPO naik sekitar 3,3 persen, mencatat penguatan tiga pekan berturut-turut.

Faktor utama yang menopang harga adalah kebijakan peningkatan mandat biodiesel di Indonesia dan Malaysia. Kebijakan ini diperkirakan meningkatkan konsumsi minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel sehingga menopang permintaan CPO. Prospek permintaan juga membaik dari India sebagai importir terbesar, dengan perkiraan impor meningkat pada Juli–Oktober seiring menipisnya pasokan menjelang musim perayaan.

Di sisi pasokan, pemerintah Malaysia memperingatkan suhu ekstrem berpotensi mengganggu produksi minyak sawit tahun depan. Data ekspor Malaysia periode 1–20 Juli menunjukkan hasil beragam. AmSpec Agri melaporkan ekspor turun 0,9 persen, sementara Intertek Testing Services mencatat ekspor naik 4,1 persen, mencerminkan permintaan global masih solid meski pasokan menghadapi tantangan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua