ERAA Naik 23,92 Persen Sebulan, Laba Kuartal III Diproyeksi Melonjak

Ilustrasi Saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) naik 23,92 persen dalam sebulan terakhir. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 08 September 2026 | 22:56:17 WIB

JAKARTA - Harga saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mencatat kenaikan signifikan dalam sebulan terakhir di tengah pergerakan pasar saham yang fluktuatif. Meski telah menguat cukup tinggi, analis masih merekomendasikan beli saham ERAA.

Emiten ritel dan distribusi perangkat elektronik terkait telekomunikasi tersebut diperkirakan mampu mempertahankan kinerja positif hingga akhir 2026. Prospek tersebut berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan saham ERAA.

Pada perdagangan Senin (7/9/2026), saham ERAA ditutup di Rp 575, turun 15 poin atau 2,54% secara harian. Namun, dalam sebulan terakhir saham ERAA telah mengakumulasi kenaikan 23,92%.

Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya tumbuh 3,28% dalam 30 hari terakhir ke level 6.619,67.

Kinerja Erajaya diproyeksikan tetap solid di tengah tantangan industri. Pertumbuhan tersebut ditopang tren premiumisasi smartphone serta semakin kuatnya portofolio bisnis di luar segmen handset.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi memperkirakan penjualan ERAA pada kuartal III 2026 tumbuh 4,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara laba bersih diprediksi mengalami pertumbuhan lebih tinggi hingga 53% yoy.

Kenaikan laba tersebut terutama didorong tren up-trading, yakni pergeseran konsumen menuju smartphone dengan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) yang lebih tinggi.

“Sebagian besar merek telah meluncurkan model premium baru untuk meneruskan kenaikan biaya chipset global kepada konsumen,” jelas Jonathan dalam risetnya yang dirilis pada 17 Juli 2026. sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kinerja operasional ERAA juga terlihat dari capaian Same-Store Sales Growth (SSSG) pada lima bulan pertama 2026 yang mencapai 7,2%.

Permintaan konsumen domestik terhadap perangkat flagship kelas atas, termasuk lini iPhone 17 Pro Max, juga masih menunjukkan tren yang kuat.

Selain bisnis handset, pertumbuhan ERAA didukung ekspansi segmen active lifestyle melalui anak usahanya, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL).

Dalam lima bulan pertama 2026, ERAL mencatatkan SSSG sebesar 10,8%. Kinerja tersebut ditopang kontribusi positif dari berbagai lini produk gaya hidup aktif.

Di tengah tekanan terhadap volume pengiriman smartphone global, ERAA masih memiliki peluang pertumbuhan. Data IDC memperkirakan pengiriman smartphone global pada 2026 terkoreksi 13,9%.

Namun, blended ASP global diproyeksikan meningkat dari sekitar US$100 menjadi US$550.

Segmen smartphone kelas atas dengan harga di atas US$600 bahkan diperkirakan tumbuh 30% yoy dan menyumbang 8,3% dari total pengiriman. Sebaliknya, pengiriman smartphone dengan harga di bawah US$150 diproyeksikan turun 19%.

Situasi tersebut menjadi peluang bagi ERAA yang memiliki posisi pasar kuat pada produk segmen premium.

Untuk menghadapi risiko perubahan nilai tukar rupiah, manajemen perseroan menyiapkan strategi penyangga (buffer) persediaan lebih awal serta memperkuat dukungan promosi untuk mempertahankan volume penjualan.

Dalam jangka panjang, ERAA juga menargetkan peningkatan kontribusi pendapatan dari bisnis active dan lifestyle hingga sekitar 25–30% dari total pendapatan. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan Return on Equity (ROE).

Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham ERAA dengan target harga Rp 500 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 35,9% dari harga acuan riset sebesar Rp 368.

Dari sisi valuasi, ERAA dinilai menarik dibandingkan emiten lain di sektornya. Saham tersebut diperdagangkan pada P/S 2026F sebesar 0,1 kali dan proyeksi P/E 2026 sebesar 3,5 kali, serta memiliki proyeksi dividend yield sebesar 7,2%.

Selain itu, ERAA tengah melaksanakan aksi korporasi pembelian kembali atau buyback saham dengan menyiapkan dana maksimal Rp 500 miliar.

Pelaksanaan buyback berlangsung selama tiga bulan, mulai 4 September hingga 4 Desember 2026. Perseroan menargetkan pembelian maksimal 797,5 juta saham atau setara 5% dari modal disetor penuh.

Reporter: Ibtihal