TOBA Beralih Fokus dari Batu Bara ke Bisnis Non-Komoditas
JAKARTA — Bisnis pengelolaan limbah menjadi kontributor terbesar terhadap EBITDA PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) pada semester I-2026. Segmen ini menyumbang 92 persen dari adjusted EBITDA konsolidasi, menandai pergeseran portofolio TOBA dari batu bara ke bisnis non-komoditas.
Laporan keuangan menunjukkan bisnis limbah membukukan adjusted EBITDA USD23,6 juta, naik lebih dari dua kali lipat dibanding periode sama tahun lalu. Pendapatan segmen ini mencapai USD105,9 juta atau 61,2 persen dari total pendapatan konsolidasi.
Pendapatan tumbuh 77,8 persen YoY dari USD59,6 juta, sementara laba kotor naik 91,9 persen menjadi USD17,6 juta. Margin kotor meningkat ke 16,6 persen dari 15,4 persen.
Analis Ciptadana Sekuritas Rizal Rafly menilai peningkatan kontribusi limbah menunjukkan TOBA mulai bergeser dari bisnis berbasis komoditas ke pendapatan berulang.
“Kalau sebelumnya investor melihat TOBA terutama sebagai perusahaan yang sangat terkait dengan batu bara, sekarang profilnya mulai berubah. Ketika waste management sudah menyumbang sebagian besar EBITDA, artinya sumber laba operasional perseroan mulai memiliki basis yang berbeda dari sebelumnya,” kata Rizal sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Secara keseluruhan, bisnis non-batu bara (limbah dan ekosistem kendaraan listrik) menyumbang 66,5 persen pendapatan TOBA, lebih dari dua kali lipat kontribusi batu bara yang 31,4 persen.
Bisnis limbah TOBA beroperasi melalui aset di Indonesia dan Singapura. Cora Environment mengelola 752.000 ton limbah dengan tingkat ketersediaan 86 persen, Asia Medical Enviro Services mengelola 2.100 ton dengan ketersediaan 90 persen, dan ARAH Environmental di Indonesia mengelola 5.800 ton dengan ketersediaan 84 persen.
Rizal menilai karakter recurring income dari pengelolaan limbah dapat membantu TOBA membangun earnings lebih stabil dan mengurangi sensitivitas terhadap siklus komoditas.
Selain itu, bisnis kendaraan listrik Electrum juga tumbuh pesat. Pendapatan naik 184 persen YoY menjadi USD9,1 juta, laba kotor berbalik positif USD0,4 juta, dan EBITDA positif USD0,5 juta. Ekosistem mencakup 14.000 motor listrik dan 550 Battery Swapping Station dengan 1,7 juta aktivitas penukaran baterai per bulan.
Meski demikian, TOBA tetap mempertahankan bisnis batu bara. Pendapatan segmen ini turun 4,1 persen menjadi USD34,9 juta, tetapi laba kotor melonjak ke USD9,3 juta dari USD1,3 juta, margin kotor naik ke 26,6 persen, dan adjusted EBITDA berbalik positif USD1,3 juta.
Secara konsolidasi, laba kotor TOBA naik 102,9 persen menjadi USD28,2 juta, sementara adjusted EBITDA tumbuh 23,7 persen menjadi USD25,7 juta.