JAKARTA – Harga kebutuhan pokok di Jawa Timur kembali bergerak dinamis pada hari ini. Sejumlah komoditas seperti daging ayam kampung, cabai keriting, dan bawang putih mengalami penurunan harga, sedangkan minyak goreng sederhana, daging sapi, telur ayam kampung, serta bawang merah justru merangkak naik.
Memantau perkembangan harga bahan pokok secara rutin merupakan tindakan penting bagi masyarakat. Langkah ini sangat membantu dalam mengatur anggaran belanja harian dan menjaga pengeluaran rumah tangga tetap terkendali di tengah situasi harga yang tidak pasti.
Sembako atau sembilan bahan pokok merupakan kebutuhan dasar yang rutin diperlukan masyarakat demi memenuhi gizi serta kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Komoditas pokok tersebut meliputi beras, gula pasir, minyak goreng dan mentega, daging sapi dan daging ayam, telur ayam, susu, bawang merah dan bawang putih, gas elpiji dan minyak tanah, serta garam.
Di luar sembilan bahan dasar tersebut, cabai juga menjadi kebutuhan dapur penting yang harganya rutin dipantau. Berikut daftar harga bahan pokok terbaru di Jawa Timur pada Minggu, 26 Juli 2026 pukul 10.01 WIB berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur.
Beras Premium dijual seharga Rp 14.994/kg, Beras Medium Rp 12.989/kg, dan Gula Kristal Putih Rp 17.176/kg. Sementara itu, Minyak Goreng Curah berada di angka Rp 20.391/kg, Minyak Goreng Kemasan Premium Rp 21.808/liter, Minyak Goreng Kemasan Sederhana Rp 18.816/liter, serta Minyak Goreng Minyakita Rp 16.097/liter.
Untuk komoditas daging dan telur, Daging Sapi Paha Belakang dipatok Rp 127.901/kg, Daging Ayam Ras Rp 33.756/kg, Daging Ayam Kampung Rp 69.447/ekor, Telur Ayam Ras Rp 25.012/kg, dan Telur Ayam Kampung Rp 47.023/kg.
Pada kelompok produk olahan susu, Susu Kental Manis (Bendera) dijual Rp 12.431 (370 gr/kl), Susu Kental Manis (Indomilk) Rp 12.421 (370 gr/kl), Susu Bubuk (Bendera) Rp 41.724 (400 gr/dos), dan Susu Bubuk (Indomilk) Rp 41.564 (400 gr/dos). Sementara untuk bumbu pelengkap, Garam Bata dibanderol Rp 1.915/buah dan Garam Halus Rp 9.410/kg.
Pada kelompok cabai, bawang, dan bahan bakar, Cabai Merah Keriting dipatok Rp 30.971/kg, Cabai Merah Besar Rp 32.243/kg, Cabai Rawit Merah Rp 38.397/kg, Bawang Merah Rp 31.917/kg, Bawang Putih (Sinco/Honan) Rp 31.630/kg, serta Gas Elpiji 3 Kg sebesar Rp 19.870.
Berdasarkan pergerakan harga rata-rata di Jawa Timur hari ini, daging ayam kampung tercatat turun Rp 377 atau 0,54 persen, cabai merah keriting turun Rp 140 atau 0,45 persen, dan bawang putih turun Rp 197 atau 0,62 persen.
Sementara itu, minyak goreng kemasan sederhana naik Rp 116 atau 0,62 persen, daging sapi naik Rp 622 atau 0,49 persen, telur ayam kampung naik Rp 910 atau 1,97 persen, serta bawang merah naik Rp 127 atau 0,40 persen.
Pergeseran harga kebutuhan pokok ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari besaran biaya produksi, arah kebijakan pemerintah, nilai tukar mata uang, hingga kondisi cuaca.
Apabila permintaan meningkat namun penawaran tetap atau berkurang, harga cenderung naik. Sebaliknya, jika tingkat penawaran lebih tinggi daripada permintaan, harga barang dapat menurun.
Cuaca ekstrem, bencana alam, serta perubahan musim dapat mengganggu proses produksi pertanian. Kekurangan pasokan akibat faktor cuaca buruk ini akan memicu kenaikan harga.
Kebijakan terkait impor, subsidi, pajak, serta regulasi lain dari pemerintah turut mempengaruhi harga sembako. Sebagai contoh, adanya pembatasan impor maupun penyesuaian tarif pajak.
Peningkatan biaya bahan baku, harga pupuk, bahan bakar, hingga upah pekerja dapat mendongkrak biaya produksi dan transportasi. Kondisi ini pada akhirnya berimbas langsung pada harga jual sembako.
Fluktuasi nilai tukar mata uang, khususnya pada komoditas yang diimpor, turut memegang peranan. Pelemahan mata uang lokal akan membuat harga barang impor menjadi lebih mahal.
Laju inflasi yang tinggi berpotensi mendorong kenaikan harga bahan pokok akibat meningkatnya biaya barang dan jasa. Kondisi perekonomian yang tidak stabil juga dapat memperburuk keadaan tersebut.
Kendala pada rantai distribusi seperti kemacetan, pemogokan, atau masalah logistik dapat memicu keterlambatan pengiriman. Hal ini mengurangi ketersediaan pasokan dan mendorong harga naik.
Berbagai faktor tersebut menyebabkan harga sembako sering berubah-ubah sehingga memerlukan pengawasan serta kebijakan yang tepat demi menjaga stabilitas pasar. Perlu diingat bahwa harga dapat berbeda di setiap pasar karena angka di atas merupakan rata-rata di Jawa Timur.