IHSG Menguat 0,86 persen ke 6.228, Ditopang Net Buy Asing Rp 1,2 Triliun dan Reli Saham Migas
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan di tengah tekanan yang melanda pasar keuangan global akibat kekhawatiran terhadap potensi bubble sektor kecerdasan buatan (AI) dan memanasnya kembali konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Di saat mayoritas bursa saham dunia berada di zona merah, pasar saham Indonesia justru mencatatkan penguatan yang ditopang aksi beli investor.
Praktisi Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana Hans Kwee mengatakan kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi sektor teknologi, khususnya emiten yang terkait dengan AI, telah memicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham semikonduktor global.
Menurutnya, pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja modal (capital expenditure/capex) yang agresif dari perusahaan-perusahaan teknologi raksasa yang sebagian besar dibiayai utang.
Di sisi lain, belum ada kepastian mengenai kemampuan bisnis AI menghasilkan arus kas yang memadai untuk membayar bunga dan pokok pinjaman tersebut.
"Kekhawatiran terhadap perlambatan belanja AI telah memicu sentimen risk off yang meluas di pasar keuangan global," kata Hans dikutip Senin (20/7/2026).
Tekanan tersebut tercermin dari kinerja Philadelphia Semiconductor Index (SOX) yang merosot lebih dari 18 persen sepanjang Juli dan telah memasuki wilayah bearish setelah terkoreksi lebih dari 20 persen dari puncaknya.
Meski demikian, secara tahun berjalan (year to date/YtD), indeks semikonduktor tersebut masih mencatat kenaikan hampir 65 persen, jauh melampaui penguatan indeks S&P 500.
Selain sentimen sektor teknologi, pasar global juga dibayangi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu aksi risk off.
Hans menjelaskan serangkaian serangan militer yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi global, khususnya melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Ancaman terhadap jalur distribusi energi tersebut telah mendorong lonjakan harga minyak internasional dan meningkatkan ekspektasi inflasi global.
Kondisi ini berpotensi memaksa bank-bank sentral dunia mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga guna mengendalikan tekanan harga.
"Lonjakan harga minyak akibat risiko geopolitik berpotensi memperpanjang periode suku bunga tinggi secara global, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap pasar saham dan aset berisiko," imbuhnya.
IHSG Melawan Arus
Menariknya, ketika mayoritas bursa saham global berada dalam tekanan akibat kombinasi risiko geopolitik dan kekhawatiran bubble AI, IHSG justru mampu mencatat penguatan yang cukup signifikan.
Hans memaparkan kinerja positif tersebut didukung oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing di pasar reguler sebesar sekitar Rp 1,2 triliun dengan total nilai transaksi mencapai Rp 13,2 triliun dalam satu hari perdagangan.
Arus dana asing ini, sebutnya, menjadi sinyal penting setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan capital outflow dalam beberapa bulan terakhir.
Hans menilai salah satu faktor yang mulai menarik kembali minat investor global adalah langkah konkret reformasi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
BEI baru-baru ini menyempurnakan metodologi penentuan kategori High Shareholder Concentration (HSC) dengan menambahkan indikator price impact. Perubahan tersebut membuat jumlah saham yang masuk kategori HSC meningkat menjadi 51 emiten.
Menurut Hans, kebijakan tersebut menjadi respons langsung terhadap isu transparansi pasar yang sebelumnya menjadi perhatian MSCI.
"Reformasi yang dilakukan OJK dan BEI menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan transparansi pasar modal Indonesia. Langkah ini berpotensi menjadi katalis positif menjelang review MSCI pada November mendatang," katanya.
Saham Migas Topang Penguatan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan sesi I, Senin (20/7/2026). Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG naik 0,86 persen ke level 6.228,91 dengan 398 saham menguat, 188 saham melemah, dan 205 saham stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 10.849,63 triliun.
Penguatan IHSG turut ditopang reli saham-saham migas seiring lonjakan harga minyak dunia. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) Naik 3,25 persen, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) Menguat 4,03 persen, PT Elnusa Tbk. (ELSA) Naik 2,34 persen, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) Menguat 2,31 persen, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) Bertambah 2,41 persen.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut harga minyak Brent naik 2,51 persen menjadi dolar AS 90,31 per barel, sedangkan WTI menguat 2,25 persen menjadi dolar AS 84,35 per barel. Kenaikan tersebut dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, lonjakan harga minyak berpotensi menjadi sentimen positif bagi emiten sektor energi, seperti MEDC, ENRG, ELSA, PGEO, dan AKRA. Risiko terganggunya distribusi minyak global juga diperkirakan akan terus menjadi perhatian pelaku pasar dalam jangka pendek.