Bio Farma Luncurkan Bio-TCV, Vaksin Tifoid Konjugat Dalam Negeri

Peluncuran Bio-TCV oleh Bio Farma menandai kemajuan vaksin tifoid konjugat dalam negeri. (Sumber Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 17 Juli 2026 | 11:24:21 WIB

JAKARTA - PT Bio Farma (Persero) memperkuat daftar vaksin negara dengan meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil kreasi dalam negeri.

Hadirnya produk teranyar ini diproyeksikan dapat mencukupi kebutuhan vaksin dalam negeri sekaligus mendukung usaha perusahaan memperlebar pasar ekspor.

Direktur Utama dari Sumbernya, Shadiq Akasya, menerangkan Bio-TCV merupakan hasil kerja sama jangka panjang dengan International Vaccine Institute (IVI) yang bermula sejak 2010 serta diperkuat melalui tahapan alih teknologi pada 2013.

Pengembangannya juga melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam pelaksanaan uji klinis hingga mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi," ujar Shadiq di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat yang digunakan guna membantu mencegah demam tifoid akibat infeksi bakteri Salmonella typhi.

Vaksin tersebut dapat diberikan kepada anak bermula usia enam bulan sampai orang dewasa sesuai indikasi yang sudah disetujui BPOM.

Peluncuran produk tersebut dilaksanakan di tengah tingginya kasus tifoid di Indonesia.

Merujuk informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2024, terdapat kurang lebih 9 juta kasus tifoid tiap tahun di dunia dengan kurang lebih 110.000 kematian.

Sementara di Indonesia, prevalensi tifoid diramalkan mencapai 1,6% populasi dengan angka kejadian kurang lebih 148,7 kasus per 100.000 penduduk.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan kemampuan memproduksi vaksin di dalam negeri menjadi salah satu poin krusial dalam memperkuat kemandirian bidang kesehatan nasional.

Menurutnya, pengembangan vaksin memerlukan kerja sama antara pemerintah, akademisi, industri, regulator, sampai lembaga penelitian agar inovasi kesehatan dapat terus maju.

"Indonesia masih menghadapi beban kasus tifoid yang tinggi sehingga membutuhkan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Bio-TCV menunjukkan bahwa melalui sinergi yang kuat, kami mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," katanya.

Senada, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan lembaganya mendampingi seluruh tahapan pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, tahapan produksi, hingga evaluasi mutu, keamanan, serta khasiat vaksin.

Menurut Taruna, pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran krusial bahwa Indonesia perlu memperkuat kemampuan riset serta produksi vaksin agar tidak bergantung pada pasokan global saat terjadi krisis kesehatan.

Selaku bagian dari ekosistem Danantara, dari Sumbernya juga sedang meningkatkan kapasitas fasilitas produksi vaksin berbasis teknologi konjugasi.

Langkah tersebut dilaksanakan guna mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri sekaligus membuka kans ekspansi ke pasar internasional melalui tahapan WHO Prequalification serta registrasi di bermacam negara.

Perusahaan berharap Bio-TCV tidak hanya memperkuat daftar vaksin nasional, tetapi juga menjadi salah satu produk ekspor dari Sumbernya ke negara-negara dengan beban penyakit tifoid yang tinggi, khususnya di kawasan Asia, Afrika, serta Amerika Latin.

Reporter: Akbar