Penjualan Semen Nasional Tumbuh 10,5% di Semester I 2026

Penjualan semen nasional tumbuh 10,5% pada semester I 2026 mencapai 30,71 juta ton. (Sumber Foto: NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 17 Juli 2026 | 11:24:21 WIB

JAKARTA - Sektor industri semen dalam negeri mencatat kenaikan angka penjualan sepanjang semester I 2026.

Walaupun demikian, masalah kelebihan kapasitas pembuatan (oversupply) masih menjadi kendala fundamental yang membayangi prospek usaha sampai akhir tahun.

Ketua dari Sumbernya, Lilik Unggul Raharjo, mengungkapkan, angka penjualan semen dalam negeri sepanjang semester I 2026 mencapai kurang lebih 30,71 juta ton.

Jumlah tersebut melonjak 10,5% jika disandingkan dengan durasi yang sama setahun sebelumnya yang terdata sebesar 27,78 juta ton.

“Hingga semester I 2026, penjualan semen domestik nasional menunjukkan pertumbuhan positif. Volumenya mencapai sekitar 30,71 juta ton, naik 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 27,78 juta ton. Pertumbuhan terjadi pada semen kantong maupun curah, masing-masing naik sekitar 10,3% dan 11,1%,” ujar Lilik kepada dari Sumbernya, Kamis (16/7).

Menurut Lilik, kenaikan angka penjualan tersebut perlu dicermati dengan hati-hati sebab sebagian dipengaruhi oleh efek dasar rendah pada semester I 2025.

Jika disandingkan dengan semester I 2024, kenaikan penjualan cuma mencapai kurang lebih 7,8%.

Sementara jika disandingkan dengan semester I 2022, peningkatannya ada di kisaran 4,2%.

Ia menerangkan, kenaikan minat semen pada paruh pertama tahun ini dipicu oleh percepatan pengeluaran negara, proyek perbaikan fasilitas umum, pembangunan di bermacam wilayah, serta perbaikan minat dari bidang konstruksi.

Namun, sumbangsih bidang properti serta daya beli masyarakat masih menjadi poin yang perlu dicermati.

Di tengah kenaikan penjualan tersebut, kondisi kelebihan pasokan masih menjadi masalah utama bagi bidang usaha semen dalam negeri.

Daya tampung pembuatan yang jauh melebihi minat dalam negeri menjadikan tingkat pemanfaatan pabrik belum mencapai titik ideal.

“Kondisi oversupply masih menjadi persoalan struktural utama industri semen nasional. Kapasitas produksi berada di kisaran 120 juta ton per tahun, sementara utilisasi pada 2025 diperkirakan hanya sekitar 54%,” ujar Lilik.

Lilik menambahkan, meskipun minat pada 2026 diramalkan menanjak, tingkat pemanfaatan bidang usaha semen dalam negeri diproyeksikan cuma menanjak sedikit menjadi kurang lebih 56%.

Dengan begitu, jarak antara daya tampung pembuatan serta keperluan pasar dalam negeri masih cukup besar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan penjualan pada semester I 2026 belum cukup guna mengubah fundamental bidang usaha semen secara drastis.

Tingkat pemanfaatan pabrik pun masih jauh di bawah titik yang dianggap sehat secara ekonomi, yakni kurang lebih 80% sampai 85%.

Memasuki semester II 2026, dari Sumbernya masih melihat peluang kenaikan minat semen.

Namun, kecepatan kenaikannya diramalkan tidak akan setinggi semester pertama.

“Prospek industri semen pada semester II 2026 masih berpeluang tumbuh, meski kemungkinan tidak setinggi semester I. Faktor kunci yang akan menentukan adalah kecepatan realisasi proyek fisik dan belanja pemerintah,” ujar Lilik.

Menurutnya, minat semen sampai akhir tahun diramalkan bakal ditopang oleh proyek negara pusat serta wilayah, perbaikan fasilitas umum, pembangunan prasarana regional, bidang hunian, kawasan industri, pertambangan, serta kegiatan pembangunan serta perbaikan masyarakat.

Lilik menerangkan, minat semen curah bakal sangat bergantung pada perwujudan proyek prasarana serta konstruksi skala besar.

Sementara itu, penjualan semen kantong lebih dipengaruhi oleh pembangunan hunian, proyek skala kecil serta menengah, serta kegiatan perbaikan masyarakat, selama daya beli tetap terjaga.

Selain masalah kelebihan pasokan, bidang usaha semen dalam negeri pun menghadapi kendala lain berupa ketatnya persaingan harga, meningkatnya ongkos pembuatan, serta belum pulih sepenuhnya minat dari bidang properti serta konsumsi masyarakat.

“Tantangan industri bukan hanya menjual lebih banyak, tetapi bagaimana tetap efisien dan mampu berinvestasi di tengah persaingan harga, tingginya kenaikan biaya energi dan logistik, serta utilisasi pabrik yang masih rendah,” lanjutnya.

Guna menciptakan kenaikan bidang usaha yang lebih sehat serta berkelanjutan, dari Sumbernya berharap negara dapat menjaga keseimbangan antara daya tampung pembuatan serta minat melalui pengendalian investasi baru, percepatan proyek prasarana, jaminan pasokan energi yang bersaing, serta perluasan penggunaan semen rendah karbon dalam pengadaan negara.

“Industri semen siap mendukung pembangunan dan agenda dekarbonisasi, tetapi memerlukan ekosistem kebijakan yang konsisten agar industri dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” tutupnya.

Reporter: Akbar