Wall Street Terkoreksi Usai The Fed Beri Sinyal Hawkish Suku Bunga
JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (17/6/2026) setelah Federal Reserve memberi sinyal peluang kenaikan suku bunga tahun ini. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing tercatat terkoreksi lebih dari 1 persen akibat sikap hawkish bank sentral.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 507,12 poin atau 0,98 persen ke level 51.492,55. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 1,21 persen menjadi 7.420,10, dan Nasdaq Composite terkoreksi 1,34 persen ke posisi 26.021,66.
The Fed memang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen, namun proyeksi ekonomi menunjukkan sembilan pejabat memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan bunga tahun ini. Bank sentral juga menghapus pernyataan yang mengindikasikan peluang pemangkasan suku bunga, yang memperkuat sikap tegas bank sentral.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam rapat pertamanya menegaskan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas harga. "Kami akan memastikan mandat stabilitas harga tetap tercapai," ujar Warsh dalam konferensi pers usai rapat sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Warsh juga memperkenalkan agenda evaluasi menyeluruh terhadap proses pengambilan kebijakan moneter agar pasar fokus pada data ekonomi. Pasca rapat, pasar uang meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga pada September mendatang, dengan probabilitas suku bunga tetap hingga akhir tahun turun drastis menjadi 13 persen.
Managing Director Equity Sales Trader Rosenblatt Securities, Michael James, menyatakan bahwa pernyataan tersebut memberikan sinyal jelas mengenai prioritas inflasi. "Terdapat nada yang cukup hawkish dalam pernyataan The Fed maupun konferensi pers Ketua Warsh. Pesan utamanya adalah komitmen kuat untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi," ujar Michael James sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Seluruh 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 ditutup di zona merah, dengan sektor layanan komunikasi mencatatkan penurunan terdalam sekitar 3 persen. Saham perbankan regional juga tertekan lebih dalam dibandingkan dengan bank besar karena sensitivitasnya terhadap suku bunga.
Selain itu, sektor properti turut melemah secara signifikan karena kekhawatiran kenaikan biaya pinjaman akan menekan permintaan. Indeks KBW Regional Banking turun 1,8 persen, sementara sektor perbankan dalam S&P 500 melemah 0,2 persen.