Damai AS-Iran Picu Penurunan Harga Minyak, Pertamax Bisa Turun
JAKARTA - Harga jual produk BBM nonsubsidi mempunyai peluang untuk turun. Potensi penurunan harga ini tidak terkecuali bagi produk Pertamax yang sempat dinaikkan belum lama ini.
Peluang tersebut mencuat menyusul melemahnya harga minyak mentah setelah pengumuman kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan keterangan Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia, harga jual BBM nonsubsidi sejatinya bergerak selaras dengan nilai keekonomian. Jika harga minyak dunia merosot, harga eceran Pertamax cs pun berpeluang untuk ikut turun.
"Apakah harganya bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM non subsidi akan turun. Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau tidak terhindarkan dia akan sesuaikan harga keekonomiannya," beber Anggia di Gedung Bakom, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).
"Kalau tidak ini akan mempengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional," tambahnya.
Harga minyak dunia kembali anjlok berkisar 5% pada sesi perdagangan hari Selasa lalu hingga menyentuh level paling rendah dalam jangka tiga bulan terakhir.
Penurunan ini disebabkan oleh tercapainya pakta perdamaian Amerika Serikat (AS) bersama Iran serta kembali dibukanya Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut sekaligus membuka jalan bagi Iran untuk menyalurkan kembali komoditas minyaknya ke pasar global.
Mengutip laporan Reuters, nilai minyak mentah jenis Brent menyusut US$ 4,21 atau 5,1% menuju posisi US$ 78,96 per barel, sedangkan komoditas minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 4,70 atau 5,8% ke level US$ 76,05 per barel.
Posisi penutupan itu menjadi yang terendah bagi jenis Brent semenjak tanggal 2 Maret serta untuk varian WTI semenjak 4 Maret.
Sebagai pembanding, sebelum gejolak konflik AS-Iran meletus pada 28 Februari silam, nilai Brent bertengger di posisi US$ 72,48 per barel dan WTI berada pada angka US$ 67,02 per barel.
Anggia mengimbuhkan bahwa selama ini langkah pengerekan harga BBM nonsubsidi di sejumlah negara tetangga telah bergulir. Sebaliknya, Indonesia sempat berupaya menahan lonjakan harga tersebut demi memproteksi daya beli masyarakat.
"Kita tahu April kemarin sesuai arahan Presiden pemerintah masih mencoba harga kestabilan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat, ada diskusi dengan badan usaha pelat merah dan badan usaha swasta untuk mempertahankan BBM subsidi. Tapi seiring berjalannya waktu fluktuasi harga yang makin dinamis pelaku usaha sesuaikan harga keekonomiannya," pasar Anggia.
Dirinya kembali menegaskan, jika nilai minyak dunia terus menunjukkan tren pelemahan, maka tidak menutup kemungkinan bakal dilakukan kalkulasi ulang pada harga BBM nonsubsidi.
"Kalau ditanya harga minyak dunia akan turun nggak? Pasti nanti akan ada penyesuaian juga harga BBM nonsubsidi," beber Anggia.
Secara terpisah, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat turut angkat bicara perihal peluang penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi menyusul merosotnya harga minyak dunia. Ia mengutarakan, untuk saat ini harga minyak mentah varian Brent sudah merosot di bawah angka US$ 80 per barel.
"Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun. Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$ 80 gitu kan, otomatis pasti akan ada penyesuaian lagi," ungkap Firman kepada media di kantor Kementerian PPN/Bappenas.
Firman menaruh optimisme bahwa pakta perdamaian tersebut secara konsisten bakal mengunci harga minyak dunia tetap berada di bawah level US$ 80 per barel. Terlebih lagi, untuk saat ini ketersediaan pasokan minyak dunia relatif berada dalam kondisi surplus.
"Sebenarnya sebelum perang kondisi supply minyak di dunia itu sebenarnya sangat banyak, 3,8 million barrel per day surplusnya sebelum perang gitu kan. Nah yang terjadi nih gangguan harga kenapa bisa US$ 100 itu lebih karena distribusi gitu kan. Ketika masalah perangnya sudah selesai, distribusi Hormuz-nya bisa lebih lancar. Nah supply ini kan akan masih tetap banyak gitu ya," terang Firman.