APPBI Sebut Libur Panjang Bantu Sektor Ritel Tetap Positif
JAKARTA – Situasi pergerakan di pusat perbelanjaan dalam negeri terpantau masih berada dalam jalur yang positif meski industri ritel kini mulai memasuki periode sepi (low season) setelah selesainya bulan Ramadan. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai bahwa kenaikan tajam angka kunjungan masyarakat ke mal pada momen liburan panjang kemarin menjadi indikator valid bahwa konsumsi rumah tangga serta perputaran ekonomi domestik masih berjalan dengan baik.
Ketua Umum APPBI, Alphonsuz Widjaja, menerangkan bahwa momen libur panjang akhir pekan kemarin sukses memicu kenaikan jumlah kunjungan ke mal sebesar 10-15% jika dibandingkan dengan akhir pekan biasa, di mana sektor kuliner dan hiburan menjadi penyumbang utamanya. “Libur panjang ini sangat membantu sektor ritel. Pusat perbelanjaan menjadi salah satu destinasi utama masyarakat untuk mengisi waktu liburan sehingga terjadi peningkatan kunjungan dibandingkan akhir pekan normal,” ujar Alphonsuz dalam keterangannya sebagaimana dilansir dari berita sumber, Selasa (2/6/2026). Sesuai dengan pemaparan Alphonsuz, tingginya arus masyarakat ke pusat perbelanjaan menjadi bukti bahwa aktivitas konsumsi domestik masih terus bergerak, walaupun industri ritel saat ini sedang berada dalam fase low season pasca-Ramadan dan Idulfitri.
Kondisi tersebut tampak jelas dari ramainya pusat perbelanjaan, terutama di area kuliner dan hiburan yang menjadi pilihan utama masyarakat untuk mengisi waktu libur mereka.
Lebih lanjut Alphonzus menjelaskan bahwa berdasarkan data historis, triwulan II dan III memang menjadi periode yang pergerakannya lebih lambat bagi industri ritel.
Meski begitu, para pelaku usaha di sektor ritel telah melakukan antisipasi lewat penyiapan beragam program diskon dan kegiatan menarik untuk menjaga konsistensi momentum belanja masyarakat.
Dalam waktu dekat, industri ritel diprediksi akan kembali memperoleh suntikan positif dari momen liburan sekolah, yang biasanya efektif mendongkrak angka kunjungan ke pusat perbelanjaan. Setelah periode tersebut berlalu, rangkaian festival serta program belanja menarik pun telah dipersiapkan untuk diselenggarakan di berbagai daerah hingga akhir tahun nanti.
Ia menilai bahwa peran pusat perbelanjaan pada masa kini tidak lagi sekadar menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, melainkan telah bertransformasi menjadi wadah interaksi sosial dan sarana rekreasi.
Oleh karena itu, mal tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk berkumpul, melepas penat, sekaligus mencari pengalaman langsung yang tidak dapat dihadirkan oleh platform belanja daring.
“Orang datang ke pusat perbelanjaan bukan hanya untuk belanja. They mencari pengalaman, hiburan, dan interaksi sosial yang tidak bisa diperoleh secara online,” kata Alphonzus sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia juga menegaskan bahwa sepanjang daya beli masyarakat dapat terus dijaga, maka sektor ritel akan tetap bertahan sebagai salah satu pilar utama penggerak perekonomian nasional. Karenanya, ketersediaan bermacam instrumen stimulus yang dapat mendorong konsumsi dinilai sangat krusial demi mempertahankan tren pertumbuhan ekonomi.
Pihak APPBI sendiri merasa sangat optimistis bahwa tren kenaikan kunjungan pada libur panjang, yang kemudian dikombinasikan dengan strategi rangkaian promosi serta festival belanja hingga akhir tahun, akan mampu mempertahankan aktivitas di pusat perbelanjaan tetap ramai sekaligus menopang ketahanan ekonomi domestik di tengah masa low season.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pandangan bahwa situasi pelemahan nilai tukar rupiah saat ini masih belum memberikan dampak yang signifikan terhadap jalannya aktivitas ekonomi nasional. Menurut penjelasannya, langkah mitigasi atas depresiasi mata uang rupiah telah diperhitungkan oleh pemerintah sejak proses penyusunan APBN 2026.
Dirinya menekankan bahwa fokus utama yang dikejar oleh pemerintah saat ini adalah menjaga pertumbuhan ekonomi domestik, baik untuk target jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang. Didukung oleh fundamental ekonomi nasional yang dinilai tetap kokoh, situasi pelemahan rupiah saat ini terbukti belum sampai mengganggu jalannya roda ekonomi tanah air.
“Prospek ekonomi Indonesia kuat, and pelemahan rupiah belum menimbulkan dampak yang menghambat aktivitas ekonomi kami,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.