Emas Geser Obligasi AS Jadi Cadangan Terbesar Bank Sentral Dunia

Ilustrasi Emas. (Foto: metrotv.com)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 03 Juni 2026 | 12:02:48 WIB

JAKARTA - Emas secara konsisten melanjutkan dominasinya di kancah pasar keuangan dunia selaku instrumen cadangan aset bagi bank-bank sentral di berbagai negara.

Disadur dari Kitco News, Rabu (3/6/2026), Bank Sentral Eropa (ECB) lewat perilisan laporan tahunannya mengonfirmasi bahwa komoditas emas kini telah menggeser posisi obligasi pemerintah AS sebagai porsi terbesar dari total aset cadangan dunia.

Perkembangan tren tersebut tetap berjalan walaupun aktivitas permintaan emas di lingkup bank sentral sempat mengalami perlambatan pada tahun yang lalu.

Sejumlah analis di ECB memaparkan, instrumen emas merepresentasikan sekitar 27% dari total aset cadangan dunia pada penghujung tahun 2025. Padahal pada akhir tahun 2024, akumulasi kepemilikan emas baru menyentuh angka 20% dari keseluruhan cadangan global.

Selaras dengan lonjakan pada sisi permintaan serta harga emas, porsi kepemilikan atas obligasi pemerintah AS (U.S. Treasuries) justru menunjukkan grafik penurunan, di mana saat ini hanya mewakili sekitar 22% dari akumulasi cadangan, merosot dari posisi 25% yang tercatat pada tahun 2024.

“Perkembangan ini sebagian besar mencerminkan efek valuasi. Secara nominal, harga emas melonjak sekitar 60% and 30% pada tahun 2025 dan 2024, yang secara mekanis meningkatkan pangsa emas dalam total cadangan devisa resmi. Dengan mengoreksi efek valuasi tersebut menggunakan harga emas pada akhir tahun 2023, pangsa euro (16%) tetap setara dengan pangsa emas (16%), sementara pangsa obligasi pemerintah AS terus jauh lebih tinggi (26%),” kata para analis di ECB dalam laporan tersebut.

Pada catatan sebelumnya, Dewan Emas Dunia (World Gold Council) melayangkan laporan bahwa jajaran bank sentral telah menambah cadangan emas resmi mereka hingga sebesar 863 ton, capaian yang terpaut tipis di bawah angka pembelian 1.000 ton yang sempat dilakukan pada masing-masing periode tiga tahun sebelumnya.

Bank Sentral Eropa (ECB) mengemukakan, di luar fungsinya sebagai instrumen diversifikasi, jajaran bank sentral pun memandang emas sebagai alat lindung nilai (hedging) terhadap risiko geopolitik.

“Bank sentral dengan pembelian emas yang lebih besar cenderung berlokasi di wilayah yang menghadapi risiko konflik eksternal yang tinggi. Sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, Tiongkok telah membeli lebih dari 350 ton emas, diikuti oleh Polandia (320 ton), Turki (220 ton), dan India (130 ton). Selain itu, Polandia, dengan sekitar 100 ton, tetap menjadi pembeli sektor resmi terbesar pada tahun 2025, diikuti oleh Kazakhstan, Brasil, Tiongkok, dan Turki,” papar ECB.

Bagaimana Kelanjutan Tren Permintaan Emas Bank Sentral?

Walaupun emas telah menembus sebuah pencapaian yang krusial, pihak ECB tidak memproyeksikan bahwa tren penguatan ini akan terus bertahan di masa mendatang.

“Ke depannya, emas menghadapi keterbatasan sebagai aset cadangan resmi dibandingkan dengan mata uang fiat utama: harganya fluktuatif, tidak memberikan imbalan, dan, jika disimpan dalam bentuk fisik, biaya penyimpanannya mahal,” kata para analis di ECB.

"Lebih penting lagi, pasokan emas tidak sepenuhnya elastis dan tidak menyesuaikan diri secara mulus dengan pergeseran permintaan likuiditas internasional," tambah mereka.

Meski tingkat permintaan dari bank sentral dilaporkan melandai semenjak awal tahun, para analis menggarisbawahi bahwa ritme penurunan tersebut tidak terlalu drastis. Pihak WGC memprediksi bank-bank sentral masih akan melakukan aksi beli sekitar 850 ton emas pada tahun ini.

Reporter: Ibtihal