Indika Energy (INDY) Produksi 22 Juta Ton Tertekan Harga Batu Bara
- Kamis, 27 November 2025
JAKARTA - PT Indika Energy Tbk. (INDY) mencatat produksi batu bara mencapai 22,2 juta ton hingga kuartal III/2025, atau 74% dari target tahunan 30 juta ton.
Meski volume ini masih signifikan, angka tersebut turun dari 23,4 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya.
Produksi batu bara INDY mayoritas berasal dari PT Kideco Jaya Agung. Manajemen INDY menargetkan stripping ratio 5,5 kali untuk tahun ini, serta pengupasan lapisan tanah penutup (overburden) sebanyak 165 bank cubic meter.
Baca JugaAstra Infra Catat 5,3 Juta Kendaraan Melintasi Tol Selama Lebaran 2026
Belanja Modal Tetap Tinggi di Tengah Produksi
Sampai akhir September 2025, INDY telah mengeluarkan belanja modal (capex) sebesar US$82,1 juta atau 33,4% dari bujet tahunan US$246,1 juta. Capex terbesar dihabiskan oleh Awakmas sebesar US$53,3 juta.
Anak usaha lainnya, Tripatra, membelanjakan US$6,5 juta, sementara Kideco mencatat belanja modal US$5 juta dari total anggaran US$16 juta. Anggaran ini mencerminkan fokus perusahaan pada pemeliharaan dan pengembangan aset operasional.
Pendapatan Tertekan Harga Jual dan Permintaan
Pendapatan INDY turun 19,1% year-on-year (YoY), dari US$1,78 miliar menjadi US$1,44 miliar. Kideco tetap menjadi kontributor utama, menyumbang US$1,15 miliar, sementara Indika Resources mencatat penurunan drastis menjadi US$47,2 juta, turun 66% YoY.
Manajemen menyebut penurunan pendapatan Kideco dipicu harga jual rata-rata batu bara yang turun 14,7%, sedangkan Indika Resources tertekan oleh melemahnya volume perdagangan dari 2,7 juta ton menjadi 0,5 juta ton.
Pasar Domestik dan Ekspor Kideco
Dari sisi pasar, Kideco menyalurkan 43% atau 9,6 juta ton ke pasar domestik, dan 57% atau 12,6 juta ton ke pasar ekspor. Meski ekspor tetap tinggi, permintaan global melemah ikut menekan pendapatan, terutama akibat harga batu bara yang turun di pasar internasional.
Manajemen INDY menekankan bahwa kombinasi faktor harga dan volume perdagangan menjadi penyebab utama tekanan laba. Lini bisnis lain seperti Tripatra, Interport, dan pendapatan lain-lain memberikan kontribusi tambahan namun tidak cukup menutupi penurunan utama.
Laba Bersih Nyaris Merosot Hingga 98,6%
Hingga kuartal III/2025, INDY hanya membukukan laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar US$479.123 atau setara Rp7,9 miliar. Angka ini ambrol 98,6% dibandingkan US$34,4 juta pada periode sama tahun lalu.
Laba yang menurun drastis menjadi refleksi tekanan harga batu bara dan penurunan volume perdagangan, yang menekankan ketergantungan perusahaan pada pasar ekspor dan kinerja Kideco.
Strategi Menghadapi Tahun Depan
Manajemen INDY menegaskan fokus pada pengelolaan biaya, efisiensi operasional, dan penyesuaian strategi penjualan. Capex tetap dialokasikan untuk pemeliharaan dan pengembangan aset agar produksi tetap optimal meski harga batu bara fluktuatif.
Dengan kondisi pasar batu bara yang masih menantang, INDY juga mempertimbangkan diversifikasi bisnis dan optimasi lini non-batu bara untuk menjaga stabilitas pendapatan di masa mendatang.
Wildan Dwi Aldi Saputra
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Pink Moon April 2026 Muncul Rabu Malam, BRIN Jelaskan Waktu dan Cara Melihatnya
- Selasa, 31 Maret 2026
Ditjenpas Siap Terapkan WFH Sesuai Regulasi Pemerintah Pusat Secara Bertahap
- Selasa, 31 Maret 2026
Garuda Indonesia Setop Rute Jakarta Bengkulu, Ini Alasan Resmi Kemenhub
- Selasa, 31 Maret 2026
Berita Lainnya
Pelni Dorong Efisiensi Logistik Dengan Diskon Tarif Kontainer Pascaleberan Lebaran
- Selasa, 31 Maret 2026
Jasa Raharja Tingkatkan Perlindungan Korban Kecelakaan Selama Arus Mudik Lebaran
- Selasa, 31 Maret 2026
Mitra Keluarga Cetak Laba Bersih Rp1,36 Triliun di 2025, Tumbuh 19,05 Persen
- Selasa, 31 Maret 2026













.jpg)