Rabu, 01 April 2026

OJK Akan Hapus KBMI 1, Ini Daftar Bank Mini Konglomerat RI

OJK Akan Hapus KBMI 1, Ini Daftar Bank Mini Konglomerat RI
OJK Akan Hapus KBMI 1, Ini Daftar Bank Mini Konglomerat RI

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana menghapus kategori kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 1 sebagai bagian dari upaya mendorong konsolidasi perbankan nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut langkah ini dilakukan agar bank-bank kecil bisa bergeser ke KBMI II melalui merger atau akuisisi, sehingga struktur perbankan lebih efisien.

“Dalam jangka waktu yang mungkin tidak terlalu lama, saya akan menghapuskan KBMI I. Jadi, yang ada cuma tiga kelompok, enggak ada empat,” ujar Dian dalam Indonesia Islamic Finance Summit 2025 di Surabaya.

Baca Juga

Kurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Global

Pengelompokan Bank Berdasarkan Modal Inti

Sebelumnya, OJK mengelompokkan bank berdasarkan modal inti melalui POJK No.12/POJK.03/2021. Berikut kategorinya:

KBMI 1: Bank dengan modal inti hingga Rp6 triliun

KBMI 2: Modal inti lebih dari Rp6 triliun sampai Rp14 triliun

KBMI 3: Modal inti lebih dari Rp14 triliun sampai Rp70 triliun

KBMI 4: Modal inti di atas Rp70 triliun

Dengan penghapusan KBMI 1, bank-bank kecil akan terdorong bergabung dengan KBMI II, memperkuat skala usaha dan daya saing industri perbankan nasional.

Konglomerat Pemilik Bank KBMI 1

Tak banyak diketahui publik, sejumlah konglomerat besar Indonesia memiliki bank kategori KBMI 1. Beberapa di antaranya adalah:

Superbank: Dimiliki Eddy Kusnadi Sariaatmadja, salah satu pendiri Emtek, dengan modal inti Rp4,88 triliun hingga September 2025.

Bank Nobu: Dimiliki Mochtar Riady melalui putranya James Riady, modal inti Rp3,82 triliun.

Bank Artha Graha: Anak usaha Artha Graha Network milik Tomy Winata, modal inti Rp3,61 triliun.

Bank Ina: Dimiliki Anthoni Salim melalui PT Indolife Pensiontama, modal inti Rp3,32 triliun.

MNC Bank: Milik Hary Tanoesoedibjo, modal inti Rp3,27 triliun, lahir dari akuisisi PT Bank ICB Bumiputera Tbk.

Bank Sampoerna: Bagian dari Sampoerna Strategic Group, modal inti Rp3,13 triliun.

Bank Multiarta Sentosa: Milik Wings Group (Johanes Ferdinand Katuari & Harjo Sutanto), modal inti Rp3,96 triliun.

Bank Mega Syariah: Dimiliki Chairul Tanjung melalui PT Mega Corpora, modal inti Rp2,67 triliun.

Selain Bank Mega Syariah, Chairul Tanjung juga memiliki Bank Mega Tbk (KBMI 3, modal inti Rp22,61 triliun) dan Allo Bank Indonesia (KBMI 2, modal inti Rp7,27 triliun).

Tujuan Penghapusan KBMI 1

Langkah ini dinilai OJK sebagai strategi untuk:

Mendorong Ekspansi Anorganik: Bank kecil terdorong melakukan merger atau akuisisi agar lebih kompetitif.

Memperkuat Daya Saing Industri: Bank dengan modal terbatas bisa bergabung dengan bank lain sehingga skala usaha lebih besar.

Meningkatkan Stabilitas Perbankan: Konsolidasi membantu memperkuat permodalan dan risiko operasional.

Menurut Dian, penghapusan KBMI 1 bukan berarti mengurangi kesempatan bank kecil, melainkan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang secara berkelanjutan.

Dampak Bagi Industri Perbankan

Dengan penghapusan KBMI 1, diperkirakan akan terjadi dinamika merger dan akuisisi antarbank, khususnya bank milik konglomerat. Hal ini membuka peluang bagi bank kecil untuk mendapatkan dukungan modal lebih besar, teknologi perbankan, serta integrasi jaringan yang lebih luas.

Selain itu, konsolidasi juga memungkinkan bank-bank ini meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat pengawasan internal, dan menyesuaikan produk agar lebih sesuai kebutuhan pasar modern.

Peran Konglomerat dalam KBMI 1

Keberadaan bank KBMI 1 yang dimiliki konglomerat menunjukkan peran strategis mereka dalam mendukung inklusi keuangan di Indonesia. Meskipun modal inti relatif kecil, bank-bank ini sering menargetkan segmen niche, seperti UMKM, komunitas lokal, atau sektor syariah, yang membantu memperluas akses keuangan bagi masyarakat.

Chairul Tanjung, Tomy Winata, Hary Tanoesoedibjo, Anthoni Salim, dan keluarga Sampoerna menunjukkan bagaimana konglomerat tidak hanya berinvestasi pada bisnis besar, tetapi juga mengelola bank menengah untuk memperkuat jaringan ekonomi dan keuangan nasional.

Tantangan dan Peluang

Bank KBMI 1 menghadapi tantangan besar setelah kebijakan penghapusan diberlakukan. Mereka harus menyesuaikan modal inti dan strategi operasional, termasuk kemungkinan merger atau penambahan modal melalui investor.

Namun, bagi bank yang mampu menyesuaikan diri, peluang untuk masuk ke KBMI II memberikan prospek pertumbuhan yang lebih besar, akses teknologi perbankan lebih modern, dan kemampuan bersaing lebih tinggi di era digital.

Penghapusan KBMI 1 oleh OJK adalah langkah strategis untuk memperkuat konsolidasi perbankan di Indonesia. Bank-bank milik konglomerat yang selama ini berada di kategori ini akan terdorong naik ke KBMI II melalui merger atau akuisisi, meningkatkan daya saing dan stabilitas industri.

Langkah ini tidak hanya memengaruhi struktur modal bank, tetapi juga mendorong inklusi keuangan dan memperkuat peran konglomerat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Bagi masyarakat, kebijakan ini diharapkan menciptakan bank yang lebih sehat, berkapasitas besar, dan mampu menghadapi tantangan industri keuangan modern.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Bursa Asia Menguat Pagi Ini Dipicu Harapan Berakhirnya Konflik Iran Global

Bursa Asia Menguat Pagi Ini Dipicu Harapan Berakhirnya Konflik Iran Global

Saldo Minimum Bank Mandiri BRI BNI Terbaru April 2026 Lengkap Terbaru

Saldo Minimum Bank Mandiri BRI BNI Terbaru April 2026 Lengkap Terbaru

BRImo Kian Ramah Pengguna Permudah Transaksi Digital Masyarakat Indonesia Masa Kini

BRImo Kian Ramah Pengguna Permudah Transaksi Digital Masyarakat Indonesia Masa Kini

Strategi Jasindo Antisipasi Lonjakan Klaim Asuransi Tani Padi Akibat El Nino Ekstrem

Strategi Jasindo Antisipasi Lonjakan Klaim Asuransi Tani Padi Akibat El Nino Ekstrem

Allo Bank Antisipasi Risiko Kredit dengan Naikkan Impairment Awal Tahun 2026

Allo Bank Antisipasi Risiko Kredit dengan Naikkan Impairment Awal Tahun 2026