PLN EPI Kembangkan Pertanian Terpadu sebagai Solusi Energi
- Selasa, 15 Oktober 2024
Tasikmalaya - Subholding PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meresmikan program "Pengembangan Ekosistem Biomassa Berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Pertanian Terpadu," yang dikenal sebagai Green Economy Village (GEV), di Desa Bojongkapol, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, pada Kamis (26/09). Program ini bertujuan untuk mengintegrasikan masyarakat lokal dalam pengelolaan biomassa untuk co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) serta meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dan mendukung perekonomian setempat.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi kepada PLN EPI atas inisiatifnya dalam memberdayakan masyarakat melalui ekosistem biomassa berbasis ekonomi kerakyatan. Ia menekankan dukungan Kementerian Pertanian untuk berkolaborasi dalam menjamin keberhasilan program ini, termasuk dengan memberikan pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat.
“Kami dari Kementerian Pertanian siap berkolaborasi dan memberikan dukungan penuh. Program ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan energi terbarukan, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. Ini adalah inisiatif yang sangat menguntungkan bagi rakyat,” ujar Sudaryono.
Baca JugaJadwal Terbaru KRL Jogja Solo 1- 2 April 2026, Rute dan Jam Keberangkatan Lengkap
Direktur Utama PLN EPI, Iwan Agung Firstantara, menjelaskan bahwa biomassa merupakan kunci strategis untuk mencapai target bauran energi sebesar 23% pada tahun 2025 dan Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk masyarakat, untuk memastikan program ini berhasil.
Iwan menambahkan bahwa sebagian besar biomassa yang digunakan untuk co-firing di PLTU PLN berasal dari limbah pertanian dan perkebunan. PLN EPI mendorong masyarakat Tasikmalaya untuk memanfaatkan peluang ekonomi yang ditawarkan melalui pengembangan biomassa ini.
“Kami menargetkan pemanfaatan biomassa sebesar 2,2 juta ton pada tahun 2024 dan meningkat menjadi 10 juta ton pada tahun 2025 untuk memenuhi kebutuhan 52 PLTU,” ungkap Iwan. Dia juga menjelaskan bahwa pengembangan biomassa tidak hanya penting untuk energi bersih, tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui program pertanian terpadu di lahan kritis.
Program GEV telah diluncurkan sejak tahun 2023 dan melibatkan tiga lokasi: Tasikmalaya, Cilacap, dan Gunungkidul. Di Tasikmalaya, program ini direncanakan akan berkembang hingga 100 hektar pada tahun 2025, dengan fokus pada pengembangan tanaman Indigofera yang berfungsi sebagai bahan baku biomassa dan pakan ternak.
“Dengan program ini, PLN berharap dapat menciptakan ekosistem biomassa yang berkelanjutan serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup Iwan.
PJ Bupati Tasikmalaya menyatakan bahwa program ini memberikan dukungan signifikan bagi kemajuan Kabupaten Tasikmalaya, terutama di sektor pertanian yang merupakan tumpuan ekonomi masyarakat setempat.
"Ini adalah dukungan luar biasa bagi kemajuan daerah kami, khususnya dalam pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya. Kabupaten Tasikmalaya memiliki kekayaan alam dan sumber daya pertanian, tetapi tantangan besar yang kita hadapi adalah bagaimana mengelola potensi tersebut dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa biomassa sebagai sumber energi terbarukan merupakan solusi relevan untuk memanfaatkan limbah pertanian dan hutan sebagai bahan baku energi. Menurutnya, program ini tidak hanya membantu menjaga kelestarian lingkungan tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Redaksi
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.





.jpg)

.jpg)




