Arus Kas Operasi TMPO Minus Rp 17,01 Miliar, Saham Tetap Reli di Pasar
JAKARTA - Saham PT Tempo Inti Media Tbk menjadi salah satu saham top gainer di Bursa Efek Indonesia. Saham media dan percetakan ini menguat 34,76% di level Rp 252 per saham pada Rabu 26 Agustus 2026. Penguatan harga saham tersebut membuat saham TMPO menguat 121,05% dalam sebulan.
Berdasarkan laporan keuangan per semester I 2026, kinerja TMPO masih belum sepenuhnya pulih. Pendapatan perusahaan ini turun, sementara arus kas dari kegiatan operasional justru semakin tertekan.
Meski begitu, ada sedikit perbaikan pada hasil akhir. Hingga 30 Juni 2026, TMPO mencatat rugi bersih Rp 6,58 miliar. Kerugian ini lebih kecil dibandingkan rugi Rp 7,11 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan usaha TMPO sepanjang enam bulan pertama 2026 mencapai Rp 79,73 miliar. Jumlah tersebut turun 3,96% dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp 83,01 miliar.
Penurunan pendapatan menjadi tantangan karena beban pokok pendapatan justru sedikit meningkat. Beban ini tercatat Rp 52,04 miliar, naik dari Rp 51,51 miliar pada tahun sebelumnya.
Akibatnya, laba kotor Tempo Inti Media ikut turun menjadi Rp 27,69 miliar dari Rp 31,50 miliar.
Di tingkat operasional, TMPO masih membukukan rugi Rp 6,36 miliar. Angka ini hampir sama dengan rugi usaha pada semester I 2025 yang mencapai Rp 6,33 miliar.
Namun, perusahaan ini berhasil mengurangi sejumlah biaya. Beban pemasaran dan penjualan, misalnya, turun cukup signifikan menjadi Rp 13,80 miliar dari sebelumnya Rp 17,21 miliar.
Beban umum dan administrasi juga sedikit turun menjadi Rp 20,43 miliar dari Rp 20,59 miliar.
Penghematan biaya tersebut membantu TMPO memperkecil kerugian. Rugi yang menjadi bagian pemilik perusahaan juga turun menjadi Rp 5,75 miliar dari Rp 6,61 miliar.
Sejalan dengan itu, rugi per saham dasar membaik menjadi Rp 5,44 per saham dari Rp 6,25 per saham pada semester I 2025.
Di balik perbaikan rugi bersih, kondisi kas TMPO justru perlu menjadi perhatian.
Total aset perseroan pada akhir Juni 2026 tercatat Rp 429,72 miliar. Jumlah ini turun dari Rp 443,22 miliar pada akhir Desember 2025.
Sementara total ekuitas terkoreksi menjadi Rp 249,21 miliar dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp 255,79 miliar.
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi membengkak menjadi minus Rp 17,01 miliar, dibandingkan minus Rp 8,14 miliar pada Juni 2025. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan.
Posisi kas dan setara kas akhir periode per 30 Juni 2026 tersisa Rp 11,62 miliar, turun dari Rp 25,22 miliar pada awal tahun.