Prospek Menarik Obligasi dan Saham Asia pada Semester Dua 2026
JAKARTA – Manulife Investment Management (Manulife IM) menilai aset-aset di Asia, baik obligasi maupun saham, masih menawarkan prospek menarik pada semester II/2026 di tengah ketidakpastian arah suku bunga global dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan.
Head of Asia Fixed Income Manulife Investment Management Murray Collis mengatakan obligasi Asia tetap berada pada posisi yang baik karena mampu menawarkan kombinasi imbal hasil yang relatif tinggi dengan durasi yang lebih pendek dibandingkan instrumen sejenis di pasar global.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Obligasi Asia menawarkan kombinasi yang menarik antara imbal hasil yang lebih tinggi dan durasi yang lebih pendek dibandingkan instrumen global sejenis. Hal ini memberikan bantalan pendapatan yang lebih resilien terhadap volatilitas suku bunga," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (14/6/2026).
Menurut Collis, peluang investasi masih terbuka pada obligasi Asia berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) maupun obligasi mata uang lokal di sejumlah negara yang didukung kebijakan pemerintah dan fundamental ekonomi yang solid.
Dia juga melihat prospek positif pada obligasi korporasi berimbal hasil tinggi (high yield) di Asia karena menawarkan potensi imbal hasil yang menarik seiring membaiknya fundamental emiten.
Sementara itu, obligasi berperingkat investasi (investment grade) diperkirakan tetap ditopang pertumbuhan ekonomi kawasan yang sehat.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Di pasar obligasi lokal, selektivitas menjadi kunci. Jepang dan India menawarkan peluang yang berbeda seiring kondisi kebijakan dan dinamika pasar yang mendukung pergerakan suku bunga maupun mata uang," katanya.
Selain faktor fundamental, Collis menilai pasokan bersih obligasi dolar AS di Asia yang masih terbatas turut menopang valuasi. Kondisi tersebut diyakini membuat obligasi Asia tetap menarik sebagai sumber pendapatan sekaligus instrumen diversifikasi portofolio pada paruh kedua tahun ini.
Sementara itu, dari pasar ekuitas, Head of Asia Equities Manulife Investment Management June Chua memperkirakan prospek saham Asia tetap konstruktif menjelang semester II/2026.
Optimisme tersebut didorong oleh membaiknya prospek laba emiten, kondisi likuiditas yang lebih longgar, serta beragam pendorong pertumbuhan di masing-masing negara.
Di China, Manulife IM memperkirakan prospek laba perusahaan akan membaik dalam 12 hingga 18 bulan ke depan seiring pemulihan ekonomi yang semakin luas dan stabilnya siklus industri.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami tetap melihat peluang pada tema-tema seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), semikonduktor, manufaktur canggih, dan peralatan kelistrikan. Didukung kebijakan pemerintah dan valuasi yang masih menarik, kami melihat latar belakang yang lebih konstruktif bagi saham China dalam jangka menengah," ujar Chua.
Menurutnya, Taiwan dan Korea Selatan juga diperkirakan melanjutkan momentum positif berkat pesatnya pengembangan ekosistem AI. Rantai pasok semikonduktor yang kuat serta peningkatan teknologi dinilai terus mendorong pertumbuhan laba perusahaan di kedua negara tersebut.
Sementara itu, di kawasan ASEAN, Chua menilai prospek pasar saham mulai membaik meski tantangan jangka pendek masih membayangi. Dia melihat penguatan permintaan domestik dan berbagai kebijakan pemerintah di kawasan berpotensi menopang pemulihan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami memandang saham Asia tetap menawarkan sumber pertumbuhan dan diversifikasi yang berbeda. Namun, perbedaan kinerja antarnegara dan sektor masih tinggi sehingga pengelolaan investasi secara aktif dengan pendekatan yang disiplin dan selektif menjadi semakin penting," katanya.