Potensi Panen 10 Ton Per Hektar Petani Merauke Gunakan Metode PM AAS
MERAUKE - Abdul Rokhim bersama Angga Dwi Hardianto memandang barisan rumpun padi di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Pada hari itu, cuaca terik namun hembusan angin dari Laut Arafuru sesekali memberikan kesejukan. Abdul dan Angga merupakan keturunan dari keluarga transmigran asal Jawa yang berpindah ke Papua pada era 1980-an. Saat ini, keduanya tergabung dalam kelompok tani yang sama.
Mereka tengah mempraktikkan metode pertanian baru gagasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yakni Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Melalui metode tersebut, Abdul yang mengelola 3 hektar lahan sawah mampu menekan biaya produksi berkisar Rp 2,4 juta hingga Rp 3 juta per hektar, atau mencapai Rp 9 juta untuk satu kali masa tanam.
“Ya sekarang kami hitung saja kalau tanam pindah itu kan Rp 2,8 juta, taruhlah Rp 3 juta. Sementara yang pakai metode paralon (PM-AAS) cuma Rp 600 ribu gitu. Jadi kami bisa menghemat biaya itu sekitar Rp 2,4 juta per hektar,” kata Abdul sebagaimana dilansir dari berita sumber saat ditemui di area persawahan Distrik Kurik, Jumat (2/7/2026).
Sebelum beralih ke metode PM-AAS, Abdul bersama rekan-rekannya menggunakan sistem tanam pindah. Melalui sistem lama itu, petani harus menyemai benih terlebih dahulu di lahan terpisah. Ketika usia bibit mencapai 15 hingga 21 hari, bibit tersebut dicabut untuk ditanam kembali di lahan utama. Penggunaan metode lawas ini menuntut biaya yang besar, khususnya untuk upah buruh tani.
Sebagai gambaran, proses mencabut bibit saja memerlukan biaya Rp 800.000. Sementara itu, ongkos untuk menanam di lahan utama mencapai Rp 2 juta per hektar.
“Kalau dari sisi efisien anggaran, memang biasanya kalau memang ‘tapin’, tanam pindah itu kan mahal. Itu butuh biaya besar, butuh waktu,” ujar Abdul sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Metode PM-AAS Memanfaatkan Teknologi
Berbeda dengan sistem tanam pindah, sistem PM-AAS menerapkan metode tanam benih langsung (Tabela). Dengan begitu, tahapan memindahkan bibit ke lahan utama tidak perlu dilakukan lagi.
Dalam implementasi PM-AAS, para petani menyemai benih menggunakan pipa paralon yang telah diisi penuh oleh benih padi. Kedua ujung pipa tersebut dipasangi roda, sedangkan bagian batangnya dilubangi dengan jarak tertentu yang telah diatur. Melalui lubang-lubang kecil tersebut, benih padi langsung disemai ke tanah.
Perputaran pipa paralon yang dibantu roda membuat jarak persemaian benih menjadi lebih presisi. Penggunaan alat bantu tanam ini membuat petani tidak perlu lagi mempekerjakan tenaga kerja tambahan.
“Jadi satu hari dua orang selesai gitu, dengan ditarik paralon itu,” tutur Abdul sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Serupa dengan Abdul, Angga juga merasakan bahwa metode ini memberikan efisiensi yang tinggi bagi petani. Ia mengonfirmasi bahwa metode ini sukses menekan ongkos produksi dan mempercepat proses kerja.
Proses pengerjaan persawahan ini juga disokong oleh pemanfaatan teknologi modern berupa drone. Dalam penerapannya, petani mendapatkan pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) serta Dinas Pertanian setempat.
“Kemarin kami penyemprotan kami pakai drone, pemupukan juga kami memakai drone. Jadi lebih hemat tenaga lebih banyak,” kata Angga sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Baik Abdul maupun Angga mengakui bahwa penerapan sistem PM-AAS menghasilkan karakteristik tanaman yang berbeda. Tanaman padi yang dijadwalkan panen pada Agustus mendatang kini terlihat gemuk, rapat, serta memiliki batang yang lebih kokoh.
Kondisi tersebut tampak berbanding terbalik dengan hamparan padi di petak-petak sawah tetangga yang belum menerapkan sistem PM-AAS.
Sebagai seorang petani, Abdul mengklaim sudah dapat memprediksi potensi hasil panen yang lebih melimpah hanya dengan melihat kondisi tanaman saat ini.
Ia merasa optimis bahwa metode PM-AAS yang didukung jaminan benih serta nutrisi selama masa tanam mampu mendatangkan hasil hingga 10 ton per hektar. Padahal, produktivitas pertanian di Merauke biasanya hanya berkisar antara 4,5 sampai 5 ton per hektar.
“Yang namanya petani kan jelas (memahami) pertumbuhan padi yang begini nanti hasilnya begini kan sudah bisa membacalah. Itu sekarang pertumbuhannya lebih bagus dari yang biasanya gitu,” ucap Abdul sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Inovasi Amran Siap Diterapkan di Lahan Seluas 1 Juta Hektare
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, memaparkan bahwa metode PM-AAS telah mulai diimplementasikan sejak dua tahun yang lalu.
Konsep PM-AAS ini dirumuskan oleh Amran setelah mempelajari sistem pertanian padi di Amerika Serikat (AS), China, dan Vietnam. Berdasarkan variasi teknik pertanian tersebut, Amran mengombinasikannya menjadi sebuah metode baru bagi para petani di Indonesia.
Kementerian Pertanian sebelumnya telah menguji coba proyek percontohan ini di wilayah Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, serta Lampung, dan memperoleh hasil yang sangat positif.
“Dari mulai pertama itu 20 hektar, ada yang 40 hektar, ternyata promising, kami dapat 10,4 (ton). Kemarin, tahun kemarin kami coba di 300 hektar di Sukamandi, di BRIN Padi ya, 8-9 ton. Jadi pada musim gadu, potensinya di atas 10 ton,” kata Djufry sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain mengubah sistem penanaman, Kementerian Pertanian juga melakukan penyesuaian terhadap varietas padi serta teknologi yang sesuai dengan karakter lahan, mulai dari lahan kering, lahan rawa, hingga sawah dengan irigasi teknis. Sistem PM-AAS juga membuat tatanan hasil tanam menjadi lebih rapi.
Pada metode tanam pindah konvensional, populasi tanaman biasanya berkisar antara 250.000 hingga 300.000 rumpun per hektar. Akan tetapi, karena jarak tanam konvensional tersebut, pertumbuhan padi yang lebih rapat sering kali hanya terkonsentrasi di area tepi pematangkan sawah.
“Populasinya kalau yang biasa tanam pindah 600 ribu, 250 sampai 600 ribu per rumpun, yang cara tanam sekarang ini 800 sampai 1 juta. Jadi bisa dibayangkan kemungkinan besar untuk double karena double populasinya kan?” ucap Djufry sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Implementasi model PM-AAS selama dua tahun ke belakang terbukti mendongkrak hasil produksi pertanian hingga dua kali lipat, dari yang semula 4,5 sampai 5 ton menjadi 10 ton per hektar.
Djufry membenarkan bahwa metode ini memerlukan volume benih serta pupuk yang lebih banyak. Meski demikian, pemerintah memberikan dukungan berupa bantuan dan menekan biaya operasional tenaga kerja.
”Kalau terpenuhi pupuknya, terpenuhi kebutuhan haranya bisa double produksinya dan itu sudah kami buktikan di dua musim tanam ini,” ujar Djufry sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pihak BRMP juga telah mengalkulasi bahwa volume produksi beras nasional akan meningkat tajam dari angka 34,7 juta ton pada tahun 2025.
Mengacu pada rata-rata konsumsi warga secara nasional yang mencapai 2,5 juta ton per bulan serta ketersediaan lahan baku sawah sebesar 7,3 juta hektar, Indonesia diproyeksikan akan mengalami surplus yang jauh lebih besar.
“Bayangkan kalau kami nambah 2 ton saja dikali 10 juta hektar, 11 juta yang kami tanam setiap tahun berarti kan nambah 20 juta itu,” kata Djufry sebagaimana dilansir dari berita sumber.
“Jadi bukan main loncatannya apalagi kalau sempat dua kali lipat. Jadi bukan main tambahan petani dengan metode baru ini,” imbuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Djufry menambahkan bahwa saat ini sistem PM-AAS sudah diimplementasikan di atas lahan seluas 2.400 hektar yang tersebar di wilayah Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Utara, Bengkulu, Papua Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Tenggara.
Beberapa wilayah di antaranya bahkan sudah mendekati masa panen.
“Tapi target kami 6 bulan, Juli sampai Desember ini 1 juta hektar,” pungkas Djufry sebagaimana dilansir dari berita sumber.