Breaking

Harga Emas Dunia Naik Jadi USD 4.031 Usai Tekanan Inflasi Menyusut

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 02 Juli 2026
Harga Emas Dunia Naik Jadi USD 4.031 Usai Tekanan Inflasi Menyusut
Ilustrasi Emas. (Foto: net)

JAKARTA - Harga komoditas emas global bergerak meningkat pada Rabu (1/7/2026) setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang berada di bawah prediksi serta pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh yang memberikan sinyal bahwa risiko inflasi mulai berkurang.

Harga emas spot terangkat 0,60 persen ke level USD4.031,71 per troy ons setelah sebelumnya sempat anjlok ke titik terendah sejak November pada sesi perdagangan terdahulu. Logam mulia ini juga sempat mencatatkan pelemahan secara kuartalan pada transaksi Selasa.

"Emas mencatatkan kenaikan yang cukup baik hari ini. Data ADP yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu awal, sementara komentar Ketua The Fed Warsh mengenai penurunan inflasi mendorong imbal hasil turun dan membuat pasar emas yang sebelumnya lesu kembali bergerak naik," kata trader logam independen Tai Wong, dikutip Reuters.

"Emas kemungkinan telah membentuk titik terendah setidaknya untuk jangka pendek, kecuali jika laporan ketenagakerjaan nonpertanian besok menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari perkiraan," ujar Wong menambahkan.

Menjelang rilis laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Kamis, indikator ketenagakerjaan nasional versi ADP menunjukkan bahwa sektor swasta di AS membuka 98.000 lapangan pekerjaan baru pada bulan lalu, menyusul penambahan 122.000 pekerjaan pada Mei yang posisinya tidak mengalami perubahan.

Sejumlah ekonom dalam survei Reuters sebelumnya memperkirakan perolehan lapangan kerja baru di sektor swasta mampu mencapai angka 118.000.

Di sudut lain, Warsh memaparkan bahwa proyeksi serta risiko inflasi terpantau semakin berkurang dalam beberapa minggu terakhir. Walaupun demikian, pihak bank sentral kembali menegaskan komitmen The Fed untuk menekan laju inflasi menuju target di posisi 2 persen.

Meskipun emas umum dipandang sebagai instrumen lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi inflasi, kebijakan pengetatan atau peningkatan suku bunga acuan biasanya akan mengikis daya tarik aset logam mulia yang karakteristiknya tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding) ini.

Para pelaku pasar saat ini memproyeksikan adanya peluang penurunan suku bunga pada September nanti di kisaran 65 persen berdasarkan perangkat CME FedWatch Tool.

Dari ranah geopolitik, pihak Amerika Serikat (AS) bersama Iran melangsungkan perundingan teknis di Doha pada Rabu untuk merumuskan kesepakatan terkait kelancaran jalur laut di Selat Hormuz sekaligus mengupayakan langkah gencatan senjata yang bersifat permanen, seturut penjelasan seorang pejabat Iran.

Pada sektor logam lainnya, harga perak spot melesat 2,5 persen ke posisi USD60,01 per ons, beriringan dengan komoditas paladium yang ikut terangkat 1,2 persen ke level USD1.218,75 per ons.

Harga platinum meningkat 2,2 persen ke angka USD1.584,75 per ons setelah sempat merosot ke level terendah sejak November pada pembukaan sesi transaksi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua