Breaking

Terburuk Sejak Pandemi, Harga Minyak Dunia Alami Penurunan Kuartalan

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 01 Juli 2026
Terburuk Sejak Pandemi, Harga Minyak Dunia Alami Penurunan Kuartalan
Ilustrasi harga minyak dunia. (Foto: FREEPIK)

NEW YORK – Nilai minyak dunia ditutup melosot pada sesi perdagangan Selasa (30/6/2026) waktu setempat.

Tak hanya itu, minyak Brent beserta West Texas Intermediate (WTI) menorehkan penyusutan bulanan dan kuartalan paling dalam semenjak pandemi Covid-19 di tahun 2020.

Merujuk pada data dari Reuters, harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus merosot 23 sen (0,3%) ke posisi US$ 72,92 per barel.

Adapun kontrak Brent Agustus berakhir pada Selasa dan perannya bakal digantikan kontrak September yang diperdagangkan pada kisaran US$ 73,31 per barel. Sementara itu, nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 1,25 (1,8%) menjadi US$ 69,50 per barel.

Penurunan harga emas hitam ini terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang dialog lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, kendati gencatan senjata temporer dalam perselisihan yang telah berjalan selama empat bulan tersebut masih berstatus rentan.

Menariknya, nilai Brent dan WTI saat ini kembali mendekati posisi sebelum pecahnya konflik bersenjata AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu. Pada momen tersebut, Brent bertengger di level US$ 72,48 per barel dan WTI berada pada posisi US$ 67,02 per barel.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengungkapkan, pasar sejatinya masih mempertahankan premi risiko geopolitik, tetapi mulai muncul suplai tambahan seiring kapal-kapal yang sebelumnya tertahan di wilayah Teluk kembali berlayar.

"Saya tidak mengatakan premi risiko sudah hilang sepenuhnya. Namun, bertambahnya kapal yang kembali keluar dari Teluk menciptakan tambahan pasokan sementara sehingga menekan harga minyak," ujar Staunovo.

Sejalan dengan hal itu, Morgan Stanley memproyeksikan pasar minyak global bakal mengalami kelebihan pasokan berkisar 4,8 juta barel per hari pada 2027, yang berpeluang menahan laju kenaikan harga dalam jangka menengah.

Walau begitu, kans tercapainya perdamaian langgeng dinilai masih belum pasti. Seorang otoritas Qatar menyebut utusan khusus AS yang mendarat di Doha tidak akan melangsungkan pertemuan tingkat tinggi bersama pihak Iran.

Sebagai gantinya, kedua belah pihak hanya akan mengadakan pembicaraan teknis terkait persoalan keamanan kawasan yang di kemudian hari dapat dinaikkan menjadi pembahasan pada level yang lebih tinggi.

Sebelumnya, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner tiba di Doha usai sempat terjadi aksi saling serang pada akhir pekan lalu yang menguji komitmen kesepakatan gencatan senjata temporer yang mulai diaplikasikan pada 17 Juni.

Kedua negara mempunyai waktu selama 60 hari demi merundingkan gencatan senjata permanen sekaligus menyelesaikan beraneka isu strategis, termasuk masa depan rute pelayaran Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak bumi dunia sebelum konflik meletus.

Sepanjang Juni, harga Brent telah ambles sekitar 21%, menyusul penurunan sekitar 19% pada Mei. Depresiasi bulanan tersebut menjadi yang paling buruk sejak Maret 2020, saat pandemi Covid-19 meremukkan permintaan energi secara global.

Secara kuartalan, Brent terpuruk sekitar 38% pada kuartal II-2026, berbalik arah selepas sempat melonjak mendekati 94% pada kuartal I. Kemerosotan tersebut menjadi yang terburuk semenjak kuartal I-2020.

Di lain sisi, volume produksi minyak AS terpantau terus merangkak naik. Data Energy Information Administration (EIA) memperlihatkan produksi minyak mentah Negeri Paman Sam menembus rekor bulanan di angka 13,93 juta barel per hari pada April, yang dipicu oleh tingginya harga minyak selama periode konflik Iran.

Para pelaku pasar sekarang ini tengah menantikan rilis laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute (API) dan EIA guna mendapatkan sinyal teranyar mengenai ekuilibrium pasokan serta permintaan.

Para analis memprediksi cadangan minyak mentah AS menyusut sekitar 4,5 juta barel pada pekan lalu. Apabila kondisi tersebut terealisasi, maka hal itu akan menjadi penurunan stok selama 10 minggu berturut-turut, menyamai rekor yang terakhir kali tercipta pada Januari 2018.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua