Surge Optimistis Obligasi Rp2,5 Triliun Diserap Pasar Indonesia
JAKARTA – PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) atau Surge masuk dalam jajaran emiten yang tengah mematangkan agenda penerbitan surat utang. Menilik data dari dokumen prospektusnya, WIFI berencana melepas Obligasi dan Sukuk Berkelanjutan I Solusi Sinergi Digital Tahap I Tahun 2026 dengan target perolehan nilai pokok mencapai Rp2,5 triliun.
Lewat langkah strategis ini, WIFI bakal menawarkan masing-masing tiga seri untuk produk obligasi maupun sukuk, dengan jangka waktu tenor yang dipatok selama 1—3 tahun.
Walau demikian, tingkat imbal hasil yang akan diberikan kepada investor pada masing-masing produk tersebut hingga kini belum diumumkan secara terperinci.
Di lain sisi, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah menetapkan peringkat Single A serta Single A Syariah untuk kedua instrumen surat utang yang bakal dirilis oleh WIFI tersebut.
Sementara itu, mengacu pada data yang dihimpun PHEI, tingkat yield untuk surat utang berperingkat Single A saat ini berada pada rentang 8,98—9,19 persen untuk jangka waktu tenor 1—3 tahun.
Manajemen Surge menerangkan bahwa seluruh dana segar yang dihimpun dari hasil penawaran umum obligasi serta sukuk ini nantinya akan disalurkan secara penuh demi menyokong pembiayaan bagi anak usaha lewat mekanisme fasilitas pembiayaan pembelian.
Direktur Solusi Sinergi Digital Shannedy Ong menjelaskan bahwa aspek krusial yang mendasari langkah WIFI menggelar penerbitan obligasi di tengah kondisi pasar saat ini adalah untuk mendapatkan fleksibilitas pendanaan, ketimbang memilih opsi instrumen pendanaan lain yang tersedia bagi perseroan.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Shannedy Ong mengatakan, ”Pertimbangan utama perseroan adalah karakteristik obligasi yang memberikan fleksibilitas lebih besar dibandingkan dengan fasilitas pinjaman perbankan, sehingga dana dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk mendukung ekspansi dan pengembangan usaha,” katanya, dikutip Minggu (28/6/2026).
Lebih lanjut, Shannedy Ong mengungkapkan bahwa pihaknya menaruh rasa optimisme yang tinggi bahwa perilisan surat utang tersebut bakal disambut dengan sangat positif oleh para investor.
Para pemilik modal dianggap telah mengerti dengan baik mengenai prospek berkelanjutan dari bisnis perseroan, sehingga surat utang tersebut dipercaya akan terserap secara maksimal di pasar. Menurut jadwal, kedua jenis surat utang kepunyaan WIFI ini bakal mulai tercatat secara resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 29 Juni 2026.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Shannedy Ong menegaskan, ”Perseroan melihat minat investor terhadap instrumen yang diterbitkan masih cukup baik. Hal tersebut tecermin dari proses bookbuilding yang sudah fully subscribed. Kami menilai investor memahami prospek bisnis perseroan yang inovatif dan disruptif untuk internet terjangkau, sehingga kami optimistis penerbitan memperoleh respons yang baik,” tegasnya.
Jika melihat pada Data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Jumat (26/6/2026), telah tercatat sebanyak 71 emisi dari total 43 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) yang sukses menghimpun pendanaan mencapai Rp76,09 triliun.
Sementara di dalam antrean (pipeline), saat ini masih terdapat 33 penerbit dengan total 48 emisi yang sedang berada dalam proses persiapan untuk merilis surat utang mereka.
Situasi pasar ini bergulir di saat data dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menunjukkan bahwa yield SBN dengan tenor 10 tahun sekarang ini telah menyentuh posisi 7,24 persen.
Angka tersebut dinilai sudah tidak lagi murah apabila disandingkan dengan kondisi pada Juli 2025 yang berada di level 6,62 persen serta kondisi Januari 2026 yang menempati posisi di angka 6,11 persen.