Breaking

Bukan Masalah Fundamental, Isu Kepercayaan Asing Jadi Beban Pasar Modal

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 04 Juni 2026
Bukan Masalah Fundamental, Isu Kepercayaan Asing Jadi Beban Pasar Modal
Ilustrasi BEI (Foto: NET)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berada dalam tekanan hingga mencapai level 5.900, yang dibarengi dengan pelemahan kurs rupiah hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Tekanan yang menimpa pasar keuangan ini dinilai sebagai dampak dari rendahnya kepercayaan investor asing terhadap kebijakan pemerintah.

Praktisi pasar modal dan Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menilai bahwa pelemahan IHSG yang terjadi belakangan ini tidak bersumber dari fundamental ekonomi atau kebijakan regulator pasar modal, melainkan dari kepercayaan investor asing terhadap arah kebijakan pemerintah.

Kondisi ini mendorong investor asing untuk terus melepas kepemilikan saham di Indonesia. Saham-saham sektor perbankan, seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), yang selama ini menjadi favorit asing, terus dijual sehingga nilai pasarnya turun lebih dari 50 persen.

"Asing itu kan memang jualan terus di pasar kami. Sebenarnya (masalah) kami itu bukan masalah fundamental, tapi trust issue (isu kepercayaan) gitu ya. Jadi kami pikir asing itu enggak trust dengan (pemerintah) kami, itu masalahnya," katanya kepada IDX Channel, Rabu (3/6/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hans mencontohkan adanya perbedaan pernyataan antarpejabat terkait sejumlah kebijakan ekonomi yang menimbulkan kebingungan di kalangan pelaku pasar. “Misalnya ada pejabat yang ngomong 'nanti royalti (tambang) kami naikkan' sementara ada pejabat terkait lain ngomong 'Oh dipending dulu'.' Nah, ini trust issue seperti ini yang jadi masalah,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Hans, fundamental ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya cukup kuat di tengah dinamika ekonomi global yang menantang. Angka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, sementara inflasi tetap terkendali sesuai sasaran Bank Indonesia (BI). Kondisi fiskal pun membaik seiring menyempitnya defisit pada April 2026.

Hans menilai, dengan kondisi ekonomi saat ini, pelemahan IHSG seharusnya bersifat temporer. Ia juga berpendapat bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya negatif mengingat Indonesia masih menjadi negara eksportir komoditas yang memperoleh manfaat dari penguatan dolar AS.

"Dari sisi valuasi, IHSG pada level saat ini juga sudah cukup murah jika dilihat dari forward price to earnings ratio (P/E), sehingga pelemahannya seharusnya bersifat sementara," kata Hans sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, menurutnya, ekonomi dalam negeri tetap memiliki risiko. Pelaku pasar kini menanti keputusan Standard & Poor's (S&P) yang berpotensi menurunkan outlook surat utang Indonesia menjadi negatif, serupa dengan langkah Moody's.

Lembaga tersebut masih menyoroti isu terkait APBN, seperti kebijakan yang sulit diprediksi, risiko pelebaran defisit, hingga tingginya rasio pembayaran utang terhadap pendapatan negara. Selain itu, investor mencermati implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), meski dampaknya saat ini belum signifikan karena masih dalam tahap administrasi. Dari sisi global, situasi tetap menantang akibat perang di Timur Tengah yang menjaga harga minyak mentah tetap tinggi serta kebijakan moneter ketat di sejumlah negara.

"Kondisi ini membuat investor global cenderung memilih negara maju yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan dengan pasar negara berkembang seperti Indonesia," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua