Breaking

Saham Teknologi Melonjak, Wall Street Kembali Cetak Rekor Tertinggi

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 03 Juni 2026
Saham Teknologi Melonjak, Wall Street Kembali Cetak Rekor Tertinggi
Ilustrasi indeks saham S&P500 mengalami bullish (kenaikan harga) (Gambar: NET)

JAKARTA – Indeks-indeks saham di bursa Wall Street secara bersamaan kembali menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) pada sesi perdagangan Selasa (2/6/2026).

Bahkan, indeks S&P 500 mencatatkan sejarah baru dengan finis di atas angka psikologis 7.600, yang disokong oleh besarnya optimisme pada sektor teknologi serta perkembangan dinamika terbaru di Iran.

Indeks S&P 500 mengalami kenaikan sebesar 0,13 persen ke posisi 7.609,78, yang menjadi rekor ATH saat penutupan. Di waktu yang sama, Dow Jones Industrial Average melesat 228,91 poin atau 0,45 persen ke angka 51.307,79, setelah sebelumnya sempat menembus rekor ATH intraday yang baru. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite terpantau merangkak tipis 0,03 persen ke level 27.093,90.

Lonjakan di Wall Street ini membumbung di tengah fluktuasi yang bervariasi pada saham-saham sektor teknologi. Saham Alphabet merosot mendekati 4 persen seusai induk usaha Google tersebut membeberkan strategi penghimpunan dana senilai US$ 80 miliar lewat penjualan saham demi memperdalam pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dari total dana tersebut, sekitar US$ 10 miliar di antaranya disuntik oleh investasi dari Berkshire Hathaway.

Walakin, sektor semikonduktor hadir menjadi penopang utama laju pasar. Saham Marvell Technology terbang hingga 32 persen pasca Chief Executive Officer (CEO) Nvidia, Jensen Huang, menyebutkan bahwa korporasi tersebut berpeluang menjadi emiten berikutnya yang meraih kapitalisasi pasar senilai US$ 1 triliun. Menurut Huang, tingginya kebutuhan konektivitas data pada pusat data (data center) menjadikan peran Marvell kian krusial di dalam ekosistem AI.

Sinyal positif juga dihadirkan oleh Hewlett Packard Enterprise (HPE). Nilai saham korporasi tersebut melompat di atas 19 persen setelah mengumumkan proyeksi performa kuartal berjalan yang melampaui taksiran para analis sekaligus menaikkan target kinerja untuk sepanjang tahun. Catatan keuntungan kuartal II dari HPE ini pun menjadi kejutan positif paling besar sejak tahun 2018.

Sentimen Iran

Wakil Presiden Manajemen Portofolio Mercer Advisors, David Krakauer, mengutarakan bahwa kondisi pasar terbilang masih cukup tangguh walaupun tensi geopolitik global belum mereda secara utuh. "Investor masih berharap ada kesepakatan dengan Iran. Namun, secara umum kondisi pasar terlihat relatif stabil," ujar Krakauer sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada sektor komoditas, harga minyak dunia terpantau merangkak naik. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkerek 1,74 persen dan bertengger di US$ 93,76 per barel, sedangkan minyak jenis Brent menguat di atas 1 persen menuju level US$ 96 per barel.

Apresiasi harga minyak ini tersulut oleh pemberitaan media pemerintah Iran yang mengabarkan bahwa tim negosiator dari negara mereka telah menghentikan proses komunikasi pesan dengan pihak AS yang selama ini dijembatani oleh mediator. Media Tasnim turut mengabarkan bahwa Iran mempunyai rencana untuk memblokade total wilayah Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan tersebut, dipastikan tidak bakal ada perundingan lanjutan hingga pihak Israel menyudahi seluruh bentuk agresi di Lebanon serta Gaza, sekaligus menarik mundur pasukannya dari area yang dikuasai di Lebanon. Merespons situasi ini, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu memedulikan andai proses negosiasi damai bersama Iran harus menyentuh titik akhir.

Akan tetapi, lewat pernyataan terpisah di platform Truth Social, Trump mengonfirmasi bahwa dirinya telah melangsungkan dialog yang produktif bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan meyakinkan bahwa proses komunikasi dengan Iran saat ini masih terus berjalan secara cepat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua