Breaking

Pergerakan Rupiah Fluktuatif, Sempat Melemah ke Rp17.984 per Dolar AS

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 29 Mei 2026
Pergerakan Rupiah Fluktuatif, Sempat Melemah ke Rp17.984 per Dolar AS
Petugas penukaran uang menghitung uang Rupiah di sebuah gerai penukaran mata uang. (Foto: kumparan)

JAKARTA - Nilai kontrak rupiah di pasar global dilaporkan bergerak fluktuatif hingga sempat mendekati angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan Kamis (28/5/2026) siang waktu Indonesia akibat tertekan oleh sentimen kebijakan domestik.

Merujuk data perdagangan yang dihimpun dari Bloomberg Technoz, mata uang Garuda dibuka stagnan di posisi Rp17.866 per dolar AS pada transaksi Jumat (29/5/2026) sebelum akhirnya terapresiasi tipis 0,17 persen ke level Rp17.836 per dolar AS pada pukul 07:24 WIB.

Situasi ini terjadi setelah rupiah di pasar internasional sempat bertengger di posisi Rp17.984 per dolar AS pada perdagangan hari sebelumnya pukul 10:57 WIB lantaran melemahnya sentimen pasar terkait konsistensi kebijakan pemerintah Indonesia.

Langkah penahanan inflasi domestik melalui penjagaan transmisi lonjakan harga minyak dunia agar tidak membebani harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai ikut memicu mata uang rupiah semakin terdepresiasi di pasar global.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menjelaskan bahwa mata uang nasional saat ini menjadi tumpuan penyesuaian utama dari berbagai tekanan ekonomi yang sedang terjadi.

"Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, di mana pelemahannya sudah bergerak lebih dalam dibanding yang dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia," kata Fakhrul.

Berdasarkan penjelasan Fakhrul, tekanan ekonomi dalam kondisi normal akibat kenaikan harga energi global seharusnya terbagi ke sektor inflasi, fiskal, domestik, dan sebagian pada nilai tukar.

Struktur ekonomi domestik juga dinilai membebani laju mata uang jika dibandingkan dengan negara kawasan lain seperti Malaysia yang mendapat keuntungan dari ekspor minyak, gas, dan CPO saat harga komoditas melambung, serta Singapura dengan kerangka kebijakan yang kredibel.

"Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, di mana pelemahannya sudah bergerak lebih dalam dibanding yang dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia," kata Fakhrul.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan struktur ekonomi masing-masing negara sangat menentukan perilaku mata uangnya, di mana pasar keuangan Singapura yang dalam membuatnya lebih stabil, sementara Thailand yang sensitif terhadap energi tetap mendapat pasokan devisa dari sektor pariwisata.

Fluktuasi nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah pada rentang Rp17.780 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua