Breaking

Dampak Geopolitik, Premi Reasuransi Merosot di Kuartal Satu

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 25 Mei 2026
Dampak Geopolitik, Premi Reasuransi Merosot di Kuartal Satu
Ilustrasi Geopolitik (Gambar: NET)

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan bahwa premi reasuransi mengalami kemerosotan pada kuartal I-2026 di kala meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendatangkan tekanan bagi industri reasuransi di dalam negeri.

Mengacu pada data yang dirilis OJK per Maret 2026, perolehan premi reasuransi berada di angka Rp 7,62 triliun atau menyusut sebesar 1,43% secara tahunan (year-on-year/YoY), yang mana nilai tersebut setara dengan penurunan berkisar Rp 110 miar.

Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono memaparkan, guncangan situasi geopolitik, termasuk konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran, memiliki potensi untuk memperbesar tekanan terhadap lini bisnis reasuransi semenjak awal tahun ini.

“Gejolak geopolitik meningkatkan eksposur risiko, khususnya pada lini usaha yang sensitif terhadap perdagangan global dan energi,” tulis Ogi dalam lembar jawaban tertulis, belum lama ini sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut pemaparan Ogi, situasi tersebut turut memicu kenaikan risiko klaim yang disebabkan oleh hambatan operasional serta aktivitas pada perdagangan internasional.

Di samping itu, sektor industri reasuransi juga tengah menghadapi tekanan pada harga premi yang cenderung mengalami penyesuaian atau dikenal dengan istilah hardening. OJK memberikan catatan bahwa penurunan nilai premi melanda beberapa lini usaha yang punya kaitan erat dengan sektor energi sekaligus perdagangan global.

Nilai premi reasuransi pada lini Rangka Kapal dilaporkan menyusut sebanyak Rp 40 miliar atau sebesar 11,40% YoY. Sementara itu, perolehan premi reasuransi untuk sektor Energi Onshore terkoreksi senilai Rp 300 miar atau anjlok 17% YoY. Di sisi lain, akumulasi premi reasuransi pada Energi Offshore pun turut membukukan penurunan yang cukup tajam secara tahunan, yakni sebesar Rp 10 miar.

Tekanan yang mendera lini-lini usaha tersebut dianggap tidak lepas dari eskalasi ketidakpastian berskala global yang ikut memengaruhi jalannya aktivitas niaga, rantai pasok logistik, hingga sektor energi di kancah internasional.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua