Breaking

Gejolak Pasar Modal, Saham Lapis Kedua Anjlok 20 Persen Lebih

AK
Akbar

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 25 Mei 2026
Gejolak Pasar Modal, Saham Lapis Kedua Anjlok 20 Persen Lebih
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI) (Foto: NET)

JAKARTA – Guncangan yang terjadi di pasar modal merembet ke bermacam jenis saham, tidak terkecuali saham-saham lapis kedua (second liner) yang pada masa-masa sebelumnya sering kali menjadi pilar penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), laju indeks IDX Small Mid Cap (SMC) Composite mengalami koreksi sebesar 20,21% year to date (ytd) menuju posisi 401,560 sampai dengan Jumat (22/5).

Kondisi serupa juga melanda IDX SMC Liquid yang merosot hingga 14,65% ytd ke posisi 307,785. Kejatuhan kinerja pada kedua indeks kelompok saham lapis kedua ini searah dengan laju pergerakan IHSG yang ikut terperosok alias turun sebanyak 28,64% ytd semenjak awal tahun ke posisi 6.162,045.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memaparkan, penurunan tajam pada saham-saham lapis kedua tidak semata-mata dipicu oleh dampak penyesuaian bobot (rebalancing) MSCI ataupun FTSE, melainkan juga akibat efek domino dari sejumlah faktor krusial lainnya.

Beberapa faktor tersebut mencakup lonjakan tindakan risk-off secara besar-besaran karena ketidakpastian kondisi geopolitik global serta keluarnya dana asing (outflow), tindakan ambil untung (profit taking), hingga efek kepanikan yang menjalar dari saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar.

"Saham dengan beta tinggi, likuiditas tipis, dan narasi tanpa earnings paling rawan tertekan, karena exit cost-nya paling mahal," ujar dia, Jumat (22/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sependapat dengan hal itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima turut menilai bahwa penurunan mendalam pada IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid dipengaruhi oleh perpaduan situasi pasar yang tengah bergejolak, derasnya outflow dana asing, dampak penyesuaian indeks MSCI dan FTSE, ketidakpastian perihal kebijakan dari pemerintah, status High Shareholder Concentration (HSG) yang secara spesifik berimbas pada emiten kelas kakap (big caps), sampai dengan aksi ambil untung setelah sebelumnya banyak saham lapis kedua melambung tinggi.

Sejumlah saham big caps dengan likuiditas jumbo serta saham-saham kelas dua terlihat cenderung lebih peka terhadap tekanan jual, sehingga koreksi harganya menjadi kian tajam di kala sentimen pasar tengah memburuk.

"Turunnya minat spekulasi investor ritel ikut membuat saham lapis kedua kehilangan momentum, karena banyak informasi negatif," kata dia, Jumat (22/5) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, Raden memproyeksikan bahwa masa depan saham-saham lapis kedua masih tetap menjanjikan kelak. Penilaian ini didasari oleh valuasi beberapa saham yang sudah mulai kembali ke level menarik serta ditopang oleh fundamental yang tetap mencatatkan pertumbuhan positif.

Terlebih lagi, mengacu pada rekam jejak historis, saham-saham lapis kedua kerap kali menunjukkan kinerja yang melampaui pasar (outperform) ketika pasar mulai pulih, sebab pemodal lazimnya memburu potensi ekspansi kinerja yang lebih masif jika dibandingkan dengan saham berkapitalisasi pasar besar.

"Namun, kondisi sekarang membuat investor harus lebih selektif dengan fokus pada saham yang likuid, fundamental kuat, laba bertumbuh, dan memiliki katalis yang jelas," terang dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, menurut pandangan Wafi, kejayaan dari saham-saham lapis kedua tidaklah berakhir, melainkan hanya bergeser ke tahapan yang berbeda. Untuk saat ini, sebagian pemodal tengah melakukan rotasi investasi ke saham-saham big caps lantaran mempunyai kelebihan dari segi nilai valuasi maupun fundamental.

Apabila kondisi pasar kelak sudah stabil, saham lapis kedua berpeluang menghasilkan pertumbuhan yang besar, khususnya pada emiten-emiten yang mengantongi laba bersih nyata, arus kas berkondisi positif, serta memiliki keterkaitan dengan komoditas strategis.

"Valuasi saham lapis kedua sekarang jauh lebih menarik dibandingkan awal tahun," imbuh dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berangkat dari kondisi itu, Wafi memaparkan langkah ideal yang dapat diaplikasikan oleh para pemodal, yaitu menyaring saham lapis kedua secara cermat dan masuk berinvestasi secara bertahap.

Waktu masuk yang paling pas dinilai terjadi di kala aliran keluar dana pasif akibat penyesuaian bobot MSCI telah rampung dan posisi IHSG sudah bergerak stabil di kisaran area batas bawah (support) 6.200. Investor disarankan untuk mengutamakan saham lapis kedua yang membukukan keuntungan positif, memiliki porsi saham publik (free float) di atas 15%, serta berada di sektor yang berbasis komoditas.

"Hindari saham story-driven tanpa laba, leverage tinggi, serta sektor properti, konstruksi, dan teknologi yang masih premium tanpa katalis jelas," jelas dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lebih lanjut, Wafi memprediksikan saham-saham lapis kedua yang berpotensi mencatatkan performa gemilang di atas rata-rata berasal dari sektor energi seperti ENRG dan MEDC, kemudian sektor pertambangan mineral dan batu bara seperti PTRO dan BRMS, hingga sektor konsumer serta kesehatan yang bersifat defensif seperti JPFA, MIKA, dan HEAL.

Di sisi lain, Raden meyakini bahwa waktu masuk yang jauh lebih menguntungkan bagi pemodal adalah ketika tekanan dari aksi jual oleh pihak asing mulai menyusut. Berkaitan dengan hal ini, pemodal dapat mencoba menanti hingga proses penyesuaian bobot MSCI selesai pada tanggal 29 Mei 2026.

Berdasarkan opininya, baik untuk keperluan berdagang harian (trading) maupun investasi jangka panjang, saham lapis kedua tetap menyajikan peluang yang memikat. Kendati begitu, faktor risiko berupa tingkat likuiditas yang tipis, fluktuasi harga yang tinggi, serta potensi terjadinya aksi distribusi oleh bandar tetap wajib diwaspadai dengan menerapkan pengelolaan risiko secara ketat dalam jangka pendek.

Berpatokan pada hal tersebut, Raden memberikan rekomendasi kepada pemodal untuk mencermati saham-saham lapis kedua seperti BUVA dan RAJA. Saham BUVA dipatok memiliki target harga di level Rp 1.000 per saham dan batas penghentian kerugian (stop loss) di level Rp 650 per saham, sedangkan untuk saham RAJA ditargetkan mampu menembus level Rp 4.000–Rp 4.150 per saham disertai batas stop loss pada level Rp 3.200 per saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua