Breaking

Akses Pembiayaan Buka Jalan Usaha Wingko Babat Semarang Berkembang

IB
Ibtihal

Editor: Mazroh Atul Jannah

Sabtu, 09 Mei 2026
 Akses Pembiayaan Buka Jalan Usaha Wingko Babat Semarang Berkembang
Pasangan suami istri Slamet dan Novi ketika membuat wingko babat di tempat produksinya (Foto: net).

SEMARANG – Aroma khas ketan dan kelapa menyeruak dari sebuah hunian produksi yang bersahaja di sudut Kota Semarang. 

Di kediaman tersebut, Slamet bersama Novi, istrinya, rutin meracik adonan wingko babat yang merupakan panganan tradisional dari perpaduan kelapa muda, tepung ketan, dan gula. 

Di balik operasional tungku tersebut, terselip kisah mengenai keberanian keluar dari zona nyaman guna mengembangkan usaha di tengah fluktuasi harga bahan baku melalui bantuan permodalan.

Slamet awalnya adalah seorang karyawan di perusahaan mebel besar yang merasa jenuh dengan rutinitasnya. Sejak 2010, ia mulai mendalami pembuatan wingko babat dari seorang pedagang asal Lamongan sebagai usaha sampingan sebelum akhirnya memutuskan untuk fokus sepenuhnya empat tahun kemudian.

Ia merintis bisnisnya dari skala kecil dengan mengolah dua hingga tiga kilogram bahan baku saja. Seiring meningkatnya pesanan, Slamet mulai memanfaatkan akses pembiayaan formal. 

Awalnya, ia mengambil pinjaman senilai Rp5 juta dari bank milik pemerintah. Dana tersebut menjadi krusial untuk meningkatkan efisiensi produksi, salah satunya dengan membeli mesin parut kelapa sendiri sehingga menekan biaya produksi harian.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Dulu kompor itu hanya dua tungku. Sekarang ada enam kompor, jadi ada 12 tungku,” tutur Slamet menceritakan perkembangan usahanya.

 Meski dipasarkan secara konvensional dengan menitipkan ke warung-warung tanpa label merek, produknya mampu mencapai produksi 15 hingga 20 loyang per hari dengan omzet harian berkisar antara Rp300.000 sampai Rp500.000.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Jualnya kami sudah punya langganan sendiri. Kami tidak ada mereknya, jadi bisa dipakai, ndak apa-apa, asal fair-fair saja,” katanya. 

Kendati menghadapi tantangan pascapandemi dan kenaikan harga bahan baku, Slamet memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga loyalitas pelanggan. Untuk menopang usahanya, ia juga berjualan kelapa parut sebagai penghasilan tambahan.

Guna memperkuat daya tahan bisnis di tengah kenaikan biaya operasional, Slamet kembali mencairkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp50 juta dengan jangka waktu tiga tahun. Ia merasa lebih aman karena kredit tersebut telah mendapatkan penjaminan dari PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Bunganya terjangkau. Ini ambil (tenor) tiga tahun. Baru pencairan, sudah dapat setahun,” kata Slamet.

Branch Manager Askrindo Semarang, Gami Aji L, menjelaskan bahwa pihaknya menjamin KUR yang digunakan oleh pelaku usaha seperti Slamet. Hingga April 2026, total penjaminan KUR Askrindo di Cabang Semarang telah mencapai Rp1,3 triliun bagi sekitar 24.000 debitur. 

Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo, R Mahelan Prabantarikso, menyatakan bahwa Askrindo telah menanggung akumulasi KUR sebesar Rp810,3 triliun sejak 2007 hingga Maret 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Partisipasi aktif kami dalam program KUR merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk mendukung inklusi keuangan dan penguatan sektor UMKM,” kata Mahelan. 

Kisah Slamet menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara ketekunan pelaku usaha dan akses modal yang dijamin oleh ekosistem keuangan dapat membantu UMKM tetap tangguh dan bertumbuh.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua