Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Selasa 31 Maret 2026
- Selasa, 31 Maret 2026
JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut pada perdagangan hari ini, Selasa, 31 Maret 2026.
Sejumlah faktor global dan domestik terus membayangi pergerakan mata uang Garuda, mulai dari penguatan dolar AS hingga ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.
Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati, terutama menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting. Di tengah tekanan tersebut, rupiah diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan dengan potensi menyentuh level psikologis tertentu.
Baca Juga5,5 Juta Wajib Pajak Belum Lapor SPT, Ini Panduan dan Contoh Isi Coretax
Rupiah Ditutup Melemah di Awal Pekan
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (30/3/2026). Melansir Bloomberg, rupiah ditutup terdepresiasi 0,13% atau 22 poin ke Rp17.002 per dolar AS.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,10% ke level 100,24. Penguatan dolar ini menjadi salah satu faktor utama yang memberikan tekanan terhadap rupiah di pasar keuangan.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen global masih mendominasi arah nilai tukar, terutama dalam kondisi pasar yang dipenuhi ketidakpastian.
Penguatan Dolar dan Geopolitik Tekan Rupiah
Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar keuangan saat ini masih tertekan oleh penguatan dolar AS yang terus menguat di tengah konflik Timur Tengah.
Laporan Trading Economics menyebut adanya kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi penting, termasuk data inflasi bulan Maret 2026 dan data perdagangan Februari 2026.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada kondisi fiskal dalam negeri yang tengah disorot oleh lembaga pemeringkat global seperti Moody's dan Fitch.
"Pemerintah menegaskan kembali bahwa tidak berniat melanggar batas defisit anggaran 3%, meskipun harga minyak yang terus tinggi dapat menguji sikap ini dan mendorong penyesuaian kebijakan," tulis laporan tersebut.
Sentimen global dan domestik ini secara bersamaan memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Tekanan Energi dan Kebijakan Bank Sentral
Pasar juga menunggu langkah-langkah baru dari bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, upaya tersebut dinilai akan menghadapi tantangan apabila harga energi global terus meningkat.
"Sebagai importir bersih minyak dan gas, Indonesia tetap rentan terhadap kenaikan biaya energi global yang terus membebani rupiah," tulis laporan tersebut.
Kondisi ini menegaskan bahwa faktor eksternal, khususnya harga energi, memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Dengan ketergantungan terhadap impor energi, setiap kenaikan harga global berpotensi menambah tekanan pada mata uang domestik.
Proyeksi Rupiah Jangka Pendek dan Panjang
Berdasarkan sejumlah sentimen yang berkembang, Trading Economics memperkirakan rupiah akan berada di posisi Rp16.975 per dolar AS pada akhir kuartal I/2026.
Sementara dalam jangka panjang, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada di level Rp16.615,80 per dolar AS dalam waktu 12 bulan ke depan.
Proyeksi ini menunjukkan adanya potensi penguatan dalam jangka menengah hingga panjang, meskipun dalam waktu dekat masih dibayangi tekanan.
Prediksi Analis: Rupiah Bisa Sentuh Rp17.100
Terpisah, pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai rupiah kemungkinan besar akan terus melemah dalam pekan ini. Ia melihat kecenderungan indeks dolar yang masih akan menguat.
“Range rupiah dalam satu minggu ke depan adalah Rp16.880-Rp17.100 per dolar AS,” kata Ibrahim.
Sementara itu, indeks dolar diperkirakan akan bergerak di kisaran 99.300 hingga 101.600. Menurutnya, sentimen utama yang memengaruhi pergerakan mata uang dan komoditas berasal dari kondisi geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas.
Ia juga menyoroti isu pembatasan transportasi di Selat Hormuz serta penundaan serangan oleh Amerika Serikat selama tujuh hari terhadap wilayah tersebut.
“Perang pun juga masih terus terjadi dan wilayah-wilayah basis Amerika yang ada di Timur Tengah, yaitu di Irak, di Uni Emirat Arab, di Arab Saudi, itu pun juga dibombardir,” tuturnya.
Di sisi lain, Ibrahim memperkirakan Kevin Warsh akan menjabat sebagai Ketua The Fed pada April ini, dengan arah kebijakan yang kemungkinan diumumkan pada Mei.
Ia juga memperkirakan Federal Reserve di bawah kepemimpinan Warsh akan mengikuti langkah Donald Trump untuk menurunkan suku bunga.
Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global dan kebijakan ekonomi internasional.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Pemutakhiran DTSEN Ditekankan Mensos Demi Ketepatan Penyaluran Bansos Nasional
- Selasa, 31 Maret 2026
Peran Orang Tua Ditekankan Menteri PPPA Sukseskan Implementasi PP Tunas
- Selasa, 31 Maret 2026
Rekomendasi Saham AMMN, GOTO, INDF Hari Ini, Simak Analisis Teknikalnya
- Selasa, 31 Maret 2026
Pendapatan Trimitra Trans Tembus Rp1,33 Triliun, Laba Bersih 2025 Naik Signifikan
- Selasa, 31 Maret 2026
Berita Lainnya
Rekomendasi Saham AMMN, GOTO, INDF Hari Ini, Simak Analisis Teknikalnya
- Selasa, 31 Maret 2026
Pendapatan Trimitra Trans Tembus Rp1,33 Triliun, Laba Bersih 2025 Naik Signifikan
- Selasa, 31 Maret 2026
Bank BJB Gelar Ultimate10K Series 2026 Hubungkan Ekonomi Kota Besar Jawa
- Selasa, 31 Maret 2026
Update Harga Emas Antam 31 Maret 2026: 1 Gram Rp2,820.000, Semua Ukuran Turun
- Selasa, 31 Maret 2026









.jpg)
