Timnas Indonesia Tanpa Playmaker Herdman Andalkan Kolektivitas Lini Tengah FIFA Series
- Rabu, 25 Maret 2026
JAKARTA - Ketiadaan sosok playmaker dalam skuad menjadi isu menarik jelang kiprah Timnas Indonesia di FIFA Series 2026.
Situasi ini memunculkan banyak pertanyaan tentang bagaimana tim akan membangun serangan tanpa figur pengatur permainan yang jelas.
Pilihan pemain tengah yang dibawa pelatih John Herdman memperlihatkan arah berbeda. Tidak ada nama yang benar-benar dikenal sebagai kreator utama di lini tengah. Hal ini menandakan adanya pendekatan taktik yang mungkin berubah.
Baca JugaReal Madrid Menang Derby Kabar Baik Datang Perburuan Gelar La Liga
Dalam kondisi tersebut, perhatian tertuju pada bagaimana strategi akan dijalankan. Tim dituntut menemukan cara baru untuk menjaga keseimbangan permainan. Terutama dalam fase transisi dari bertahan ke menyerang.
Pengamat sepak bola nasional pun mulai memberikan pandangan. Mereka melihat ada kemungkinan besar perubahan filosofi permainan. Tim bisa saja lebih mengandalkan kerja sama kolektif dibanding peran individu.
komposisi lini tengah tanpa sosok kreator utama
Daftar gelandang yang dipanggil menunjukkan karakter berbeda. Nama-nama seperti Joey Pelupessy, Ivar Jenner, Eliano Reijnders, dan Nathan Tjoe-A-On lebih dikenal sebagai pemain pekerja keras.
Kemungkinan tambahan seperti Jordi Amat juga memperkuat karakter tersebut. Ia bahkan sempat bermain sebagai gelandang bertahan di level klub. Hal ini memperlihatkan kecenderungan pilihan pemain bertipe defensif.
"Tapi, dari semua pemain tengah itu tak ada spesialis playmaker. Padahal, Timnas Indonesia butuh seorang pengatur serangan," kata Alexander Sununu.
Pernyataan tersebut menegaskan kekosongan peran penting di lini tengah. Tanpa playmaker, kreativitas menjadi tantangan utama. Tim harus mencari solusi alternatif.
Situasi ini membuat publik penasaran dengan pendekatan yang akan digunakan. Apakah akan ada perubahan sistem permainan? Atau justru muncul pemain baru yang mengambil peran tersebut.
pelatih masih mencari formula terbaik
Menurut Alexander Sununu, pendekatan Herdman masih sulit ditebak. Hal ini wajar mengingat ia baru memulai tugasnya bersama tim. Proses adaptasi masih berlangsung.
"Kita tak tahu game plan apa yang akan dipakai John Herdman. Karena ini debut dia di Timnas Indonesia, kita penasaran juga. Saya kira dia masih bereksperimen. Tanpa playmaker, John Herdman mau seperti apa permainan Timnas Indonesia nanti," ujarnya.
Eksperimen menjadi bagian penting dalam fase awal kepelatihan. Herdman perlu memahami karakter pemain. Ia juga harus menemukan kombinasi terbaik.
Dalam proses ini, beberapa keputusan tentu memunculkan pertanyaan. Salah satunya adalah tidak masuknya Ricky Kambuaya. Padahal, ia dikenal memiliki kemampuan individu yang baik.
"Saya tak tahu alasan Ricky Kambuaya dicoret. Padahal, dia punya skill individu bagus dan berani pegang bola. Kambuaya juga berani improvisasi di area serang permainan," ucapnya.
Absennya pemain dengan karakter kreatif semakin memperjelas arah tim. Herdman tampaknya memiliki visi berbeda dalam membangun permainan.
arah permainan menuju kolektivitas tim
Dengan komposisi yang ada, pendekatan kolektif menjadi opsi paling realistis. Tim tidak bergantung pada satu pemain. Sebaliknya, semua lini harus berkontribusi.
"Mungkin, mungkin ya. Tanpa playmaker, John Herdman akan mengandalkan kolektivitas. Nathan Tjoe-A-On sebagai penghubung lini tengah dan depan. Ivar Jenner atau Eliano Reijnders jadi destroyer. Sementara Joey Pelupessy dan Jordi Amat fokus di gelandang bertahan. Tapi, mereka harus bermain kolektif saling menutup jika ada kebocoran di tengah," ulas Sununu.
Skema ini menuntut kerja sama tinggi antar pemain. Setiap individu harus memahami peran masing-masing. Koordinasi menjadi kunci utama.
Pendekatan kolektif juga memberikan fleksibilitas. Tim bisa beradaptasi dengan berbagai situasi. Namun, hal ini membutuhkan disiplin tinggi.
Jika berhasil diterapkan, strategi ini bisa menjadi kekuatan baru. Tim tidak mudah ditebak lawan. Variasi permainan bisa lebih beragam.
tantangan kreativitas dan transisi serangan
Meski kolektivitas menjadi solusi, tantangan tetap ada. Kreativitas dalam membangun serangan masih menjadi perhatian. Terutama saat melakukan transisi cepat.
Tim membutuhkan pemain dengan kemampuan umpan akurat. Peran ini penting untuk membuka ruang. Tanpa itu, serangan bisa mudah dipatahkan.
"Tampaknya John Herdman ingin pemain tengah pekerja, bukan yang stylish. Tapi, siapa di antara gelandang itu yang punya kualitas umpan bagus through pass atau ke sisi dua flank nanti. Skill itu dimiliki Thom Haye. Sayang dia absen di FIFA Series 2026 nanti," kata Sununu.
Absennya Thom Haye semakin mempertegas kekurangan kreativitas. Tim harus menemukan alternatif. Mungkin melalui rotasi atau perubahan posisi.
Selain itu, kemampuan membaca permainan juga menjadi faktor penting. Pemain harus cepat mengambil keputusan. Hal ini menentukan efektivitas serangan.
ujian awal bagi strategi herdman di timnas
FIFA Series 2026 akan menjadi ajang pembuktian bagi Herdman. Ini adalah kesempatan pertama untuk melihat implementasi strategi. Publik tentu menaruh harapan besar.
Tanpa playmaker, pendekatan yang diambil akan menjadi sorotan. Jika berhasil, ini bisa menjadi identitas baru tim. Namun, jika gagal, kritik akan datang.
Timnas Indonesia harus mampu beradaptasi dengan cepat. Setiap pemain dituntut memberikan kontribusi maksimal. Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Dengan segala tantangan yang ada, perjalanan ini akan menarik untuk disimak. Apakah kolektivitas bisa menggantikan peran playmaker? Jawabannya akan terlihat di lapangan.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
AAJI Dukung Program Penjaminan Polis Asuransi Resmi Diluncurkan Tahun 2027
- Rabu, 25 Maret 2026
Berita Lainnya
Beckham Putra Bangga Masuk Timnas Indonesia Siap Buktikan Diri FIFA Series
- Rabu, 25 Maret 2026












