JAKARTA - PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), emiten pertambangan batu bara afiliasi konglomerat Garibaldi Thohir, kembali menarik perhatian analis pasar modal.
Baru-baru ini, UBS merevisi peringkat saham ADMR menjadi “beli” pada 12 Maret 2026, menempatkan target harga di Rp2.500 per saham. Keputusan ini menegaskan optimisme terhadap prospek jangka menengah ADMR meskipun kinerja keuangan perusahaan mengalami tekanan tertentu di tahun sebelumnya.
Mayoritas sekuritas menaruh pandangan positif pada ADMR, dengan 16 dari 17 analis memberikan rekomendasi beli dan hanya satu yang memberi peringkat hold. Konsensus target harga 12 bulan ke depan berada di Rp2.313,33 per saham, menegaskan bahwa saham ini masih menjadi pilihan menarik bagi investor yang mencari eksposur di sektor pertambangan domestik.
Baca JugaArus Mudik Lebaran 2026, ADHI Siapkan Fungsional Jalan Tol Solo-Jogja Sampai Purwomartani
Revisi UBS dan Rekomendasi Analis
Langkah UBS menjadi sorotan karena menambah panjang daftar sekuritas yang menilai saham ADMR layak dibeli. Peningkatan target harga ini menunjukkan keyakinan analis terhadap prospek jangka panjang, meski kinerja kuartal III/2025 menunjukkan penurunan pendapatan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Pendapatan usaha ADMR tercatat sebesar US$675,14 juta sampai akhir kuartal III/2025, turun 19,72% secara tahunan dari US$841 juta. Pendapatan ini berasal dari penjualan ke pihak berelasi sebesar US$320,7 juta dan ke pihak ketiga sebesar US$351,2 juta. Secara rinci, penjualan ke pihak berelasi, AIS, mencapai US$316,6 juta, sedangkan pihak ketiga terdiri dari PT Risun Wei Shan Indonesia sebesar US$59,04 juta dan Posco International Corporation senilai US$39,3 juta.
Kinerja Keuangan ADMR Kuartal III/2025
Meskipun pendapatan menurun, ADMR mencatat beban pokok pendapatan yang hanya meningkat tipis 0,70% menjadi US$407,2 juta dari US$404,42 juta. Namun, tekanan pada laba bruto cukup signifikan, turun 38,64% menjadi US$267,8 juta dari sebelumnya US$436,5 juta. Penurunan laba bruto ini mengindikasikan margin keuntungan yang lebih tipis akibat biaya produksi yang tetap tinggi meskipun pendapatan menurun.
Laba bersih ADMR tercatat US$204,18 juta, setara Rp3,4 triliun, turun 38,68% dibandingkan US$332,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama karena kombinasi antara penurunan penjualan dan tekanan biaya produksi. Meski demikian, UBS dan analis lain tetap melihat saham ini menarik karena faktor fundamental jangka panjang dan posisi ADMR sebagai pemain strategis di sektor batu bara domestik.
Posisi Aset dan Liabilitas
Sampai akhir September 2025, total aset ADMR tercatat sebesar US$2,65 miliar, naik dari US$2,07 miliar pada akhir 2024. Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh investasi perusahaan dan pengelolaan modal yang terus berkembang. Di sisi lain, total liabilitas meningkat dari US$571,3 juta menjadi US$996,02 juta per akhir kuartal III/2025, mencerminkan peningkatan pembiayaan atau kewajiban jangka pendek dan jangka panjang.
Total ekuitas ADMR juga mencatat kenaikan dari US$1,5 miliar menjadi US$1,65 miliar year to date, menunjukkan bahwa meski terjadi tekanan pada laba bersih, perusahaan tetap berhasil memperkuat struktur modal dan meningkatkan nilai pemegang saham.
Faktor Pendukung Prospek Saham ADMR
Meskipun laporan keuangan menunjukkan penurunan laba bersih, beberapa faktor mendukung optimisme UBS dan analis lain terhadap saham ADMR. Pertama, ADMR memiliki posisi strategis di sektor batu bara dengan jaringan distribusi yang mapan dan pelanggan tetap, baik pihak berelasi maupun pihak ketiga.
Kedua, manajemen perusahaan terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional, mengelola biaya produksi, dan memanfaatkan peluang pasar domestik serta ekspor. Ketiga, dukungan afiliasi dengan konglomerat Garibaldi Thohir memberikan kredibilitas dan akses ke sumber daya yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Kesimpulan: Peluang Jangka Menengah Masih Menjanjikan
Dengan peringkat beli dari UBS dan mayoritas analis lainnya, saham ADMR tetap dianggap prospektif bagi investor yang mencari eksposur di sektor pertambangan. Meskipun laba bersih menurun, struktur aset yang meningkat, ekuitas yang kuat, serta prospek pasar batu bara domestik dan ekspor tetap menjadi faktor penentu optimisme jangka menengah.
Investor disarankan untuk memperhatikan konsensus target harga, risiko fluktuasi harga batu bara, dan strategi manajemen ADMR untuk tetap menjaga kinerja keuangan yang sehat. Dengan pendekatan ini, saham ADMR bisa menjadi salah satu pilihan strategis dalam portofolio yang fokus pada sektor pertambangan dan energi.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
7 Zodiak Introvert yang Diam-Diam Menyimpan Keberuntungan dan Kekuatan Besar
- Senin, 16 Maret 2026
BYD Atto 3 2026 Hadir Bodi Lebih Besar RWD dengan Fitur Canggih SUV Listrik
- Senin, 16 Maret 2026













