Spalletti Kritik Keputusan Juventus Usai Tersingkir Telak dari Atalanta Coppa Italia
- Jumat, 06 Februari 2026
JAKARTA - Kekalahan telak Juventus dari Atalanta di perempat final Coppa Italia menjadi bahan evaluasi serius bagi Luciano Spalletti.
Pelatih Bianconeri itu menilai timnya gagal mengambil keputusan tepat di momen-momen krusial pertandingan yang berlangsung di Bergamo, Jumat dini hari WIB. Hasil 0-3 bukan sekadar skor, melainkan cerminan masalah yang muncul ketika tekanan meningkat.
Juventus sejatinya datang dengan rasa percaya diri tinggi. Mereka membawa bekal hasil positif dalam beberapa laga terakhir serta pengalaman menundukkan Atalanta di final Coppa Italia 2021 dan 2024. Namun, semua modal itu tak mampu diterjemahkan menjadi performa solid di lapangan.
Baca JugaHansi Flick Ungkap Strategi Barcelona Raih Gelar Liga Champions Musim Ini
Sejak awal laga, Atalanta tampil agresif dan disiplin. Juventus kesulitan keluar dari tekanan, sementara setiap kesalahan kecil langsung dimanfaatkan lawan. Spalletti menilai perbedaan kualitas justru terlihat jelas ketika pertandingan memasuki fase penentuan.
Hasil akhir pun menjadi pelajaran pahit. Juventus harus angkat koper lebih cepat dari Coppa Italia, sementara Atalanta melaju dengan penuh kepercayaan diri berkat penampilan efektif mereka sepanjang laga.
Awal Pertandingan yang Mengubah Arah Laga
Momen krusial pertama hadir melalui gol pembuka Atalanta yang lahir dari titik penalti. Keputusan itu diambil setelah VAR menilai umpan silang Ederson mengenai tangan Gleison Bremer di kotak terlarang. Meski sempat menuai kontroversi, wasit tetap menunjuk titik putih.
Gianluca Scamacca yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna. Gol tersebut langsung mengubah dinamika pertandingan dan memberi keuntungan psikologis bagi tuan rumah.
Setelah tertinggal, Juventus mencoba menaikkan tempo permainan. Namun, upaya mereka sering kandas akibat keputusan yang dianggap kurang tepat di sepertiga akhir lapangan. Spalletti melihat timnya mulai kehilangan kejernihan berpikir saat situasi menuntut ketegasan.
Atalanta justru tampil semakin nyaman. Mereka menunggu kesalahan Juventus sambil menjaga organisasi permainan tetap rapi, sebuah pendekatan yang akhirnya terbukti sangat efektif.
Pergantian Pemain yang Menentukan
Pada babak kedua, Juventus mencoba mengubah jalannya laga dengan memasukkan beberapa pemain baru. Nama seperti Jeremie Boga dan Emil Holm diharapkan mampu memberi energi tambahan serta variasi serangan.
Namun, dampak signifikan justru datang dari bangku cadangan Atalanta. Kamaldeen Sulemana dan Mario Pasalic tampil sebagai pembeda setelah masuk ke lapangan.
Kedua pemain tersebut sukses mencatatkan nama di papan skor, sekaligus mematikan harapan Juventus untuk bangkit. Situasi ini kembali menegaskan perbedaan efektivitas kedua tim dalam memanfaatkan pergantian pemain.
Spalletti menilai keputusan yang diambil timnya tidak memberikan dampak maksimal. Sebaliknya, Atalanta mampu membaca kebutuhan pertandingan dan memilih opsi yang paling tepat.
Penilaian Spalletti terhadap Momen Penentuan
Luciano Spalletti tidak menutup mata terhadap keunggulan lawan. Ia secara terbuka mengakui Atalanta tampil lebih baik di fase-fase krusial pertandingan.
“Mereka lebih baik dari kami di momen penentuan pertandingan. Saat Anda mengomentari kekalahan 0-3, tidak banyak yang bisa dikatakan. Kami memberi selamat kepada Palladino dan Atalanta, mereka tim yang dibangun dengan baik dan memainkan sepak bola yang bagus,” ujar Luciano Spalletti kepada Sport Mediaset.
Ia menambahkan bahwa perbedaan utama terletak pada pengambilan keputusan ketika situasi menjadi sulit. Dalam pandangannya, Juventus justru membuat pilihan keliru di saat Atalanta tampil tegas.
“Kami membuat pilihan yang salah ketika situasi menjadi sulit. Dalam momen seperti itu, Anda harus mengambil keputusan yang tepat dengan cepat dan tegas. Dalam momen itu kami salah memilih, mereka membuat pilihan yang benar,” kata Spalletti.
Masalah Lama yang Kembali Terulang
Kekalahan ini, menurut Spalletti, bukanlah insiden tunggal. Ia melihat pola yang sama sudah beberapa kali muncul sepanjang musim, terutama ketika Juventus berada di bawah tekanan tinggi.
Salah satu sorotan utama adalah ketidakmampuan tim membaca situasi ruang terbuka. Dalam beberapa kesempatan, Juventus seharusnya bisa memaksimalkan peluang dua lawan satu.
Namun, alih-alih mengambil opsi paling efektif, bola justru dibawa ke area yang tidak menguntungkan. Kesalahan membaca situasi inilah yang membuat peluang emas terbuang percuma.
“Ada ruang untuk mengirim pemain dalam situasi dua lawan satu, tetapi kami justru membawanya ke dekat bendera sudut. Terkadang kami kurang pengalaman untuk mengenali situasi seperti itu,” ujar Spalletti.
Ketajaman dan Fokus Jadi Catatan Penting
Selain soal keputusan taktis, Spalletti juga menyoroti karakteristik pemainnya. Ia menilai Juventus belum konsisten menunjukkan ketajaman dan fokus jernih di momen-momen krusial.
“Kami juga harus melihat karakteristik pemain yang kadang ada dan kadang tidak. Kami tampak tidak memiliki ketajaman dan fokus jernih di momen penentuan. Hal itu terjadi lagi,” tutur Spalletti.
Evaluasi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Juventus ke depan. Kekalahan telak dari Atalanta bukan hanya soal tersingkir dari Coppa Italia, tetapi juga peringatan bahwa masalah pengambilan keputusan masih membayangi.
Bagi Spalletti, hasil ini harus dijadikan titik balik. Juventus dituntut belajar dari kesalahan, memperbaiki detail kecil, dan tampil lebih berani dalam mengambil keputusan saat tekanan datang. Tanpa itu, ambisi besar mereka di kompetisi lain akan kembali terancam.
Mazroh Atul Jannah
teropongbisnis.id adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Standar Baru Industri Nikel: MMP Prioritaskan K3 dan Operasi Berkelanjutan
- Jumat, 06 Februari 2026
Prabowo-Albanese Perkuat Kemitraan Strategis Hilirisasi dan Ketahanan Pangan
- Jumat, 06 Februari 2026
Jadwal Liga Inggris Pekan Ini: Ujian Carrick dan Duel Panas Anfield
- Jumat, 06 Februari 2026
Strategi Transfer Liverpool: Tikung Chelsea Demi Jeremy Jacquet Rp1,4 Triliun
- Jumat, 06 Februari 2026
Berita Lainnya
Lamine Yamal Jadi Ancaman Utama Barcelona dengan Dribel Paling Efektif Liga Spanyol
- Jumat, 06 Februari 2026
Eden Hazard Nilai Kenan Yildiz Lebih Cocok Bersinar Bersama Real Madrid
- Jumat, 06 Februari 2026
Cristiano Ronaldo Absen Lagi, Al Nassr Hadapi Al Ittihad Tanpa Andalan Utama
- Jumat, 06 Februari 2026
Klasemen Liga Spanyol Musim 2025 2026 Memanas Real Madrid Bayangi Barcelona
- Jumat, 06 Februari 2026












