The Fed Naikkan Bunga 25 Bps, Rupiah dan IHSG Berisiko Tertekan
JAKARTA - Pasar keuangan Indonesia bersiap menghadapi keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026. Keputusan tersebut diperkirakan berdampak terhadap sejumlah aset, mulai dari rupiah, obligasi, hingga saham domestik.
Saat ini pelaku pasar tengah menunggu hasil rapat FOMC yang berlangsung pada 15–16 September 2026 waktu setempat. Pengumuman suku bunga beserta pernyataan resminya dijadwalkan dirilis pada Kamis, 17 September 2026 pukul 01.00 WIB.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mencermati pasar Indonesia telah mengantisipasi sebagian besar kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps. Pasalnya, probabilitas pasar menjelang keputusan berada di atas 90%. Dengan demikian, kenaikan yang sesuai ekspektasi tidak serta-merta memicu sell-off baru.
“Risiko justru terletak pada pesan setelah keputusan, apakah The Fed memberi sinyal kenaikan lanjutan pada Oktober atau Desember, dan seberapa tinggi jalur suku bunga yang dianggap perlu untuk menahan inflasi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Syafruddin mengatakan tekanan terhadap aset domestik mulai terlihat sebelum keputusan FOMC. Rupiah tercatat sempat bergerak ke atas Rp 17.700 per dolar AS pada sesi perdagangan intraday hari ini. Namun, rupiah akhirnya ditutup melemah tipis 0,01% ke Rp 17.696 per dolar AS.
Sementara itu, IHSG kembali ditutup melemah 0,38% ke 6.436,85 setelah sebelumnya tampil perkasa pada sesi pertama.
Jika komunikasi The Fed lebih hawkish dibandingkan ekspektasi pasar, investor berpotensi menaikkan tingkat imbal hasil yang disyaratkan atau required return terhadap aset Indonesia. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), pelemahan rupiah, serta koreksi pada saham berbeta tinggi.
“Keputusan suku bunga sudah banyak di-pricing. Perubahan besar setelah FOMC akan lebih ditentukan oleh forward guidance, proyeksi inflasi, dan arah US Treasury daripada angka 25 bps itu sendiri," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sisi mata uang, rupiah menghadapi bias pelemahan dalam jangka pendek. Indeks dolar AS bahkan telah menguat ke level 99,6 pada Rabu (16/9/2026). Selain itu, yield US Treasury 10 tahun sempat bergerak di atas 5%, sedangkan Brent berada di sekitar US$ 107 per barel.
Sejumlah kondisi tersebut mengurangi daya tarik carry trade rupiah sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya impor energi dan transaksi berjalan.
Meski demikian, rupiah masih memiliki ruang untuk menguat apabila The Fed menaikkan suku bunga 25 bps tanpa memberikan sinyal pengetatan agresif berikutnya. Cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar dan BI-Rate 5,75% juga dinilai memberikan kapasitas bagi Bank Indonesia untuk meredam volatilitas nilai tukar.
Lebih lanjut, Syafruddin mengatakan dampak keputusan FOMC terhadap rupiah, SBN, dan saham akan berbeda karena masing-masing aset memiliki kanal transmisi yang berbeda.
Rupiah cenderung merespons paling cepat melalui perubahan dolar AS, selisih suku bunga, dan arus modal. Sementara itu, SBN lebih sensitif terhadap pergerakan US Treasury dan perubahan required return. Adapun saham dipengaruhi oleh discount rate, arus modal asing, prospek laba emiten, dan pertumbuhan ekonomi.
Untuk kondisi saat ini, SBN tenor 10 tahun disebut menjadi aset yang paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan The Fed. Pasalnya, yield US Treasury 10 tahun telah menembus 5%, sedangkan yield SBN 10 tahun berada di sekitar 7,1%. Spread sekitar dua poin persentase terlihat cukup besar secara nominal, tetapi investor asing juga menanggung risiko depresiasi rupiah.
“IHSG dapat lebih beragam karena eksportir komoditas atau emiten berpendapatan dolar memperoleh penyangga, sedangkan bank, properti, teknologi, dan saham berdurasi panjang lebih rentan terhadap kenaikan biaya modal dan penurunan valuasi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Memasuki akhir 2026, Syafruddin memperkirakan rupiah berada dalam rentang Rp 17.400–Rp 18.000 per dolar AS. Sementara itu, yield SBN 10 tahun diproyeksikan bergerak pada kisaran 6,9%–7,4% dan IHSG berada di rentang 6.300–6.900.
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi The Fed menaikkan suku bunga 25 bps pada September dan masih mempertahankan opsi satu kali kenaikan tambahan. Di sisi lain, yield US Treasury 10 tahun diperkirakan bergerak di sekitar 4,8%-5,2%, sedangkan harga Brent tetap tinggi tetapi tidak mengalami lonjakan permanen jauh di atas US$ 110 per barel.
Namun, risiko tetap berasal dari kombinasi harga minyak yang tinggi, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang telah mencapai 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II 2026, serta potensi pembalikan arus modal atau capital reversal apabila yield US Treasury bertahan tinggi.
Dalam skenario negatif, rupiah berpotensi menembus Rp 18.000 per dolar AS, yield SBN 10 tahun dapat bergerak ke 7,5% atau lebih, sementara IHSG berisiko menguji level 6.000–6.200.