BEI Sebut 92 Anggota Bursa Siap Hadapi Harga Minimum Rp1
JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan sebanyak 92 Anggota Bursa (AB) telah siap mengikuti penerapan perdagangan saham dengan harga minimum Rp1 yang akan mulai berlaku pada 28 September 2026.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, dari total 92 AB tersebut, kini hanya tersisa satu anggota bursa yang masih dalam proses finalisasi kesiapan. Sebelumnya, terdapat lima AB yang belum siap menerapkan mekanisme perdagangan baru tersebut.
"Terakhir saya update progress-nya adalah masih ada lima anggota bursa yang belum siap. Saat ini, per hari ini tinggal satu anggota bursa yang masih kita tunggu kesiapannya," ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (16/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Jeffrey optimistis satu AB tersebut dapat mengikuti Market Operational Capability (MOC) pada Sabtu mendatang dan selanjutnya siap mengikuti perdagangan pada 28 September 2026.
"Oleh karena itu kami sangat optimis untuk MOC di hari Sabtu ini, satu anggota bursa itu bisa ikut MOC ini dan kemudian siap untuk bisa ikut dalam perdagangan di tanggal 28 nanti yang sudah tidak lagi menggunakan harga minimum 50," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dengan demikian, Jeffrey menyebut seluruh 92 AB pada prinsipnya sudah siap. Sementara itu, kendala yang masih tersisa dinilai bersifat teknis dan tidak berkaitan dengan persoalan fundamental dalam penerapan mekanisme baru.
"Berarti 92 sudah siap. Harusnya kendala yang sifatnya sangat teknis, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Jadi sangat teknis, harusnya aman," ucap Jeffrey, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Jeffrey menegaskan kesiapan infrastruktur BEI menjadi tahap pertama yang perlu dipastikan sebelum pengujian dilakukan bersama seluruh Anggota Bursa.
Menurut dia, infrastruktur bursa saat ini sudah sangat siap. Setelah itu, BEI mengajak para Anggota Bursa untuk mengikuti rangkaian pengujian sistem.
"Kalau infrastruktur bursa sudah sangat siap, oleh karena itu waktu di pengujian pertama itu tentu yang harus siap itu adalah infrastruktur bursa. Setelah itu baru kita ajak seluruh anggota bursa untuk ikut pengujian," jelas Jeffrey, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada tahap awal pengujian, sekitar 83 hingga 87 Anggota Bursa telah menyatakan kesiapan. Kini, jumlah tersebut telah meningkat hingga hampir seluruh AB.
"Di tahap awal itu saja sudah ada 83 atau 87 waktu itu yang sudah siap. Nah sekarang sudah hampir semuanya siap dan yang paling harus siap pertama ya infrastruktur bursa," ungkap dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Terkait potensi volatilitas harga saham setelah penerapan harga minimum Rp1, Jeffrey mengatakan fokus mitigasi BEI bukan terhadap pergerakan harga, melainkan potensi peningkatan traffic atau lalu lintas transaksi pada sistem perdagangan.
"Sebenarnya yang kita antisipasi dari sisi bursa sebagai penyedia infrastruktur perdagangan bukan volatilitas harganya, tetapi adalah traffic ke sistem. Itu yang kita antisipasi," kata Jeffrey, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BEI telah melakukan sejumlah pengujian terhadap sistem perdagangan. Jeffrey berharap seluruh proses tersebut dapat berjalan lancar ketika mekanisme baru diterapkan.
"Itu sudah dilakukan juga pengujian-pengujian, mudah-mudahan semuanya lancar," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sementara itu, BEI belum menetapkan penyesuaian terhadap jam perdagangan bursa sebagai bagian dari persiapan penerapan mekanisme baru.
Jeffrey mengatakan BEI sebelumnya telah melakukan kajian dan survei kepada Anggota Bursa terkait kemungkinan perubahan jam perdagangan. Namun, dengan sejumlah agenda yang telah dijalankan BEI, pembahasan mengenai jam perdagangan untuk sementara ditunda.
"Untuk jam perdagangan bursa mungkin sementara kita pending untuk kemudian kita kaji lagi lebih lanjut nanti," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski demikian, peluang penyesuaian jam perdagangan masih terbuka. BEI akan mempertimbangkan perubahan tersebut berdasarkan kebutuhan pasar.
"Peluang kita untuk melakukan penyesuaian pada jam perdagangan tetap terbuka, sesuai dengan kebutuhan pasar nantinya," ujar Jeffrey, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia belum menyampaikan kapan penyesuaian jam perdagangan tersebut akan diputuskan.
"Terbuka peluang, untuk kapannya yang belum. Nanti kami update lagi kapannya," tutupnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.