TEROPONGBISNIS.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jayawijaya mencatat inflasi year on year Papua Pegunungan sebesar 3,77 persen pada Agustus 2026. Angka itu melanjutkan penurunan dari Juli yang tercatat 4,64 persen, setelah sempat melonjak ke 7,84 persen pada Juni 2026.

Penurunan ini menjadi bahan utama dalam high level meeting dan capacity building Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua bersama Pemprov Papua Pegunungan dan pemkab setempat, Rabu pekan ini.

Tren Perbaikan Terlihat, Target 3,19% Masih Jauh

Kepala Perwakilan BI Papua Warsono mengatakan perbaikan inflasi bulan lalu patut dijaga, tetapi belum cukup. "Walaupun pada rilis BPS untuk Agustus 2026 tercatat inflasi Papua Pegunungan membaik menjadi 3,77 persen tetapi perlu terus dikawal hingga masuk dalam sasaran inflasi nasional yaitu 3,19 persen," katanya.

Pertemuan ini digelar untuk merumuskan langkah pengendalian yang lebih konkret. Sebab, lonjakan inflasi pada Juni lalu menunjukkan kerentanan harga di wilayah pegunungan tengah Papua terhadap gangguan pasokan.

Cabai, Tomat, dan Daging Ayam Ras Jadi Penyumbang Inflasi

Bupati Jayawijaya Atenius Murib menyebutkan sejumlah komoditas pangan strategis masih memberi andil besar terhadap inflasi. "Beberapa komoditas yang memberikan andil cukup bear terhadap inflasi antara lain tomat, cabai rawit, bayam serta daging ayam ras," ujarnya.

Tingginya harga komoditas hortikultura ini berakar pada sisi produksi. Warsono menilai keseimbangan antara pasokan dan permintaan harus dijaga, salah satunya lewat peningkatan produktivitas petani lokal.

BI Pastikan Kecukupan Uang Rupiah di Papua Pegunungan

Stabilisasi harga juga tidak bisa dilepaskan dari kelancaran transaksi ekonomi. Bank Indonesia, kata Warsono, terus menghitung kebutuhan uang rupiah masyarakat Papua Pegunungan agar perekonomian bergerak optimal.

"BI terus menjaga kecukupan uang rupiah di Papua Pegunungan dengan memperhitungkan kebutuhan masyarakat guna dapat diserap dengan optimal dalam menunjang perekonomian," jelasnya. Dukungan pengembangan kompetensi petani dan TPID juga bakal terus didorong melalui berbagai kesempatan sinergi.

Kemandirian Pangan Lokal Jadi Andalan Jayawijaya

Atenius mengapresiasi koordinasi TPID kabupaten dan provinsi yang selama ini berjalan. Menurutnya, sinergi tersebut mulai membuahkan hasil dengan penurunan inflasi dari 4,64 persen pada Juli 2026 menjadi 3,77 persen bulan berikutnya.

Namun ia mengingatkan agar penurunan ini tidak membuat pemerintah lengah. "Kita perlu terus memperkuat berbagai Langkah pengendalian agar inflasi dapat bergerak pada tingkat yang rendah dan stabil 3,19 persen sehingga daya beli serta kesejahteraan masyarakat Papua Pegunungan dan Jayawijaya tetap terjaga," katanya.

Untuk jangka panjang, Atenius mendorong penguatan kemandirian pangan. "Papua Pegunungan memiliki potensi sumber daya alam dan kesuburan tanah yang sangat baik untuk pengembangan berbagai komoditas hortikultura antara lain cabai, tomat, aneka bawang, sayuran serta komoditas pangan lokal lainnya," ujarnya.

Menurutnya, high level meeting dan capacity building kali ini menjadi momentum untuk menyepakati langkah konkret yang bisa segera dieksekusi masing-masing perangkat daerah. Kolaborasi dengan BPS, Bulog, pelaku usaha, dan petani perlu terus diperluas.

"Pengendalian inflasi bukan tugas satu instansi melainkan membutuhkan kerja Bersama dan komitmen seluruh pihak di daerah ini," tegas Atenius.

Reporter: Redaksi