Ekspektasi Suku Bunga dan Penguatan Rupiah Dongkrak Saham Perbankan
JAKARTA — Saham bank-bank besar kompak menguat pada perdagangan Selasa (1 September 2026) seiring sentimen positif terhadap prospek sektor perbankan.
Data BEI pukul 09.20 WIB mencatat saham BBRI naik 1,54 persen ke Rp3.300 per unit, dengan kenaikan sepekan 3,77 persen. BMRI menguat 0,95 persen ke Rp4.270, BBNI naik 0,78 persen ke Rp3.890, dan BBCA terapresiasi 0,77 persen ke Rp6.525.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai pergerakan saham perbankan ditopang ekspektasi arah suku bunga dan penguatan rupiah.
“Kenaikan suku bunga serta penurunan dolar terhadap rupiah, menjadi salah satu katalis dari perbankan,” kata Michael, Selasa (1 September 2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menambahkan bank dengan porsi CASA tinggi memiliki keunggulan menjaga biaya dana, sehingga margin tetap terjaga saat suku bunga naik.
Secara teknikal, BBRI dinilai keluar dari fase konsolidasi dengan potensi menuju Rp3.500, support di Rp3.190. Untuk BBCA, level Rp6.500 menjadi area penting, dengan peluang melanjutkan penguatan ke Rp7.500.
Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan menilai kualitas pendanaan menjadi pembeda utama kinerja bank pada paruh kedua 2026.
CASA BBCA tumbuh 10,9 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan kredit 8,4 persen, sementara deposito berjangka turun 5 persen. Struktur ini menjaga LDR BBCA di level 79,6 persen.
Sebaliknya, kredit BMRI tumbuh 19,5 persen, lebih cepat dari CASA 6,6 persen. Deposito berjangka melonjak 61,1 persen, mendorong LDR naik ke 94,8 persen dan meningkatkan tekanan biaya dana.
Menurut UOB Kay Hian, likuiditas semakin penting karena pertumbuhan kredit masih terkonsentrasi pada segmen korporasi dan investasi. Likuiditas dari pemerintah dan BI dapat meredakan tekanan jangka pendek, tetapi belum menyelesaikan persoalan struktural pendanaan.
Pada paruh kedua 2026, kemampuan bank menaikkan imbal hasil aset lebih cepat dibandingkan biaya pendanaan akan menjadi faktor penting bagi laba. Pembayaran kembali kredit Koperasi Desa Merah Putih (KopDes) pada September–Desember juga menjadi ujian likuiditas bagi bank Himbara.