Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Level Rp17.693 per USD Pada Jumat

Ilustrasi Tukar Rupiah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 00:19:27 WIB

JAKARTA – Nilai tukar mata uang rupiah ditutup menguat pada sesi perdagangan hari Jumat, 28 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda mengalami kenaikan sebesar 51 poin atau 0,29 persen menuju posisi Rp17.693 per USD.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pasar memberikan respons positif atas keputusan Komisi XI DPR RI yang merestui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih periode 2026–2031. Penetapan tersebut disepakati melalui musyawarah mufakat pada Kamis, 27 Agustus 2026, seusai pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).

“Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara (Pjs) BI menyusul mundurnya Perry Warjiyo, diusulkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai calon tunggal. Dengan keputusan ini, dia selangkah lagi mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia secara definitif,” tulis Ibrahim dalam risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, Ibrahim menilai para pelaku pasar cenderung bersikap menahan diri dari pengambilan posisi agresif hingga data inflasi resmi dirilis pada pekan mendatang. Angka inflasi tersebut menjadi penentu krusial bagi Bank Sentral dalam menetapkan kebijakan moneter serta tingkat suku bunga selanjutnya, di mana inflasi yang terkendali memberikan ruang pelonggaran sedangkan inflasi tinggi menuntut ketatnya suku bunga.

Dari ranah eksternal, laporan Wall Street Journal mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump berulang kali menegaskan kepada para mediator mengenai ketidaktertarikan mereka untuk menghidupkan kembali nota kesepahaman bulan Juni, sehingga diplomasi pembukaan kembali perundingan kian sulit. Pada hari Kamis sebelumnya, pihak Washington menyatakan tidak sedang dalam proses pembicaraan dengan Iran, meskipun terdapat upaya diplomasi dari negara-negara lain untuk mempertemukan kedua pihak.

Sementara itu, tensi geopolitik mengalami peningkatan usai Moskow melayangkan peringatan mengenai potensi serangan terhadap target militer Inggris di dalam maupun luar Ukraina sebagai balasan atas gempuran Kyiv ke wilayah Rusia memakai rudal jelajah jarak jauh buatan Inggris. Meski begitu, Trump berpendapat bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan melancarkan serangan ke negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), sekaligus menepis pemberitaan media terkait peringatan Direktur CIA John Ratcliffe kepada pejabat Rusia pada pekan ini.

Pelaku pasar turut mengadopsi sikap waspada menjelang digelarnya pidato Warsh pada pukul 10.00 pagi waktu setempat (14.00 GMT) hari Jumat. Pidato perdana beliau sebagai Ketua Fed dalam forum Jackson Hole tersebut disimak secara saksama guna menemukan sinyal terkait inflasi dan petunjuk arah suku bunga AS.

Kondisi prospek pelonggaran moneter kian rumit seiring keluarnya data ekonomi terbaru. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi tolok ukur inflasi acuan Fed tercatat naik 3,7 persen secara tahunan hingga Juli, sehingga memperkuat dugaan bahwa bank sentral berpeluang menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Merujuk pada perangkat CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sebesar 34 persen bagi kenaikan suku bunga di bulan September dan probabilitas sebesar 74 persen untuk kenaikan pada bulan Desember. Berpatokan pada dinamika sentimen tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah untuk perdagangan hari Senin mendatang diperkirakan tetap rentan fluktuatif namun berpotensi melemah dalam kisaran Rp17.690 - Rp17.750 per USD.

Reporter: Akbar