The Fed Diperkirakan Pertahankan Kebijakan Moneter Ketat
JAKARTA – Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, menyatakan bank sentral Amerika Serikat (AS) seharusnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan terakhir. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga inflasi kembali ke target 2 persen.
Dalam pidatonya di Brasil, Musalem mengungkapkan dukungan terhadap kenaikan suku bunga federal funds rate pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) akhir Juli lalu.
“Suku bunga (federal funds) merupakan instrumen utama kami dalam menetapkan kebijakan moneter, dan dalam pertemuan tersebut saya menyatakan preferensi untuk menaikkan suku bunga (federal funds) sebesar 25 basis poin,” kata Musalem, seperti dikutip Reuters.
Ia menilai inflasi berpotensi tetap berada di atas target 2 persen dalam satu tahun ke depan apabila kebijakan moneter tidak diperketat. Karena itu, penyesuaian suku bunga sebaiknya dilakukan secara bertahap sejak dini dibandingkan menunggu hingga diperlukan kenaikan yang lebih agresif.
“Kenaikan suku bunga secara bertahap dan perlahan sejak awal lebih baik, tidak terlalu mengganggu, dan tidak terlalu memakan biaya dibandingkan dengan perubahan suku bunga yang mungkin terjadi kemudian secara lebih mendadak.”
Pada pertemuan 29 Juli lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen, meski inflasi masih berada di atas target. Dalam rapat tersebut, tiga pejabat The Fed memberikan suara untuk menaikkan suku bunga, sementara mayoritas memilih mempertahankan kebijakan.
Musalem juga menilai keputusan kebijakan moneter tidak seharusnya bergantung pada ekspektasi pasar. Menurutnya, bank sentral perlu bertindak sesuai kondisi ekonomi meski berpotensi mengejutkan pelaku pasar.
“Jika Anda berpendapat bahwa saat ini adalah waktunya untuk mengubah kebijakan ke arah mana pun, Anda sebaiknya mengubah kebijakan tersebut, terlepas dari apa yang sudah tercermin dalam harga pasar.” Ia menambahkan, ada kalanya bank sentral memang perlu mengambil keputusan yang tidak sepenuhnya telah diantisipasi pasar. “Ada kalanya atau saat-saat tertentu di mana memberikan kejutan kepada pasar adalah hal yang wajar.”
Selain itu, Musalem menilai kondisi keuangan saat ini masih mendukung aktivitas ekonomi dan harga aset tetap berada pada level tinggi. Ia mengingatkan bahwa ekspektasi inflasi masyarakat dapat berubah apabila The Fed gagal mengendalikan tekanan harga. “Terdapat kondisi yang memungkinkan ekspektasi inflasi berpotensi lepas dari jangkar.”
Musalem juga menolak pandangan bahwa bank sentral perlu mempertahankan suku bunga rendah untuk mendukung produktivitas ekonomi dengan harapan inflasi akan mereda di kemudian hari.
“Sangatlah penting bagi kebijakan moneter untuk memberikan batasan yang berarti terhadap inflasi inti, alih-alih menoleransi tingkat inflasi yang agak lebih tinggi saat ini demi mengejar pertumbuhan produktivitas di masa depan.” Ia menegaskan, toleransi terhadap inflasi di atas target berisiko mengikis kredibilitas bank sentral.
“Bank sentral yang dianggap menoleransi inflasi di atas target demi janji lonjakan produktivitas di masa depan dapat membahayakan jangkar tersebut.” sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski demikian, Musalem menilai perekonomian AS masih menunjukkan ketahanan. Ia menyebut pasar tenaga kerja tetap stabil dengan pertumbuhan lapangan kerja yang solid dan tingkat pengangguran yang mendekati tren jangka panjang.