Harga CPO KPBN Turun Jadi Rp15.650 per kg Saat Bursa Malaysia Tertekan
JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) penetapan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat mengalami penurunan tipis pada Kamis (6/8/2026). Kondisi ini terjadi seiring melemahnya sebagian besar kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia akibat potensi lonjakan pasokan serta tekanan pasar minyak nabati dunia.
Untuk CPO Franco Dumai, nilainya dipatok sebesar Rp15.650/kg, atau merosot Rp38/kg (sekitar 0,24%) jika dibandingkan dengan harga penawaran tertinggi pada Rabu (5/8/2026) senilai Rp15.688/kg.
Rincian tender KPBN menunjukkan harga FOB Talang Duku dibuka Rp15.400/kg, tetapi berujung withdraw (WD) dengan angka penawaran tertinggi Rp15.317/kg. Pada saat yang sama, Franco Teluk Bayur dibuka Rp15.450/kg dan turut ditarik setelah tawaran tertingginya menyentuh Rp15.325/kg.
Di sektor crude palm kernel oil (CPKO), tender Franco Dumai yang dibuka pada Rp29.528/kg berakhir withdraw dengan tawaran tertinggi Rp28.900/kg. Adapun FOB Lampung dibuka sebesar Rp29.454/kg dan ditarik kembali usai mendapati penawaran tertinggi pada Rp28.300/kg.
Mengenai palm kernel (PK), tender Franco Belawan dimulai dari angka Rp13.821/kg, namun transaksi gagal terealisasi lantaran penawaran tertinggi cuma di level Rp13.605/kg.
Sementara itu, aktivitas perdagangan CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup dominan melemah pada Kamis (6/8/2026). Penurunan tersebut terdorong oleh merosotnya harga minyak mentah global dan minyak kedelai, di tengah proyeksi peningkatan produksi maupun stok minyak sawit Malaysia dalam beberapa pekan mendatang.
Pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena memperkirakan pasokan minyak sawit akan terus meningkat, sehingga membatasi minat beli di pasar berjangka sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Saat penutupan pasar, kontrak September 2026 tergerus RM21 ke posisi RM4.625 per ton, lalu kontrak Oktober 2026 turun RM16 menjadi RM4.686 per ton, serta kontrak November 2026 menyusut RM12 ke level RM4.733 per ton.
Kontrak Desember 2026 terakumulasi turun RM8 menjadi RM4.775 per ton, dan kontrak Januari 2027 melemah tipis RM2 ke posisi RM4.815 per ton.