Harga Daging Ayam Melonjak Tinggi Paling Parah Sepanjang Tahun Ini

Ilustrasi Daging Ayam (FOTO: NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 29 Juli 2026 | 00:29:52 WIB

JAKARTA – Daging ayam menjadi bahan pangan dengan kenaikan harga paling tinggi sepanjang tahun ini. Harganya pun masih terus bergerak naik pada bulan Juli.

Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, rata-rata harga daging ayam ras sepanjang bulan Juli menyentuh Rp37.769 per kilogram, naik 0,87 persen jika dibandingkan dengan rata-rata bulan Juni yang sebesar Rp37.445 per kilogram.

Harga ayam bahkan sanggup bertahan di kisaran Rp39.000-Rp39.100 per kilogram dalam tiga hari terakhir. Sebaliknya, rata-rata harga telur ayam justru turun menjadi Rp29.228 per kilogram dari Rp30.030 per kilogram pada bulan Juni atau melemah kisaran 2,67 persen secara bulanan.

Apabila dihitung sepanjang tahun ini (Januari-Juli 2026) dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, daging ayam menjadi komoditas pangan yang mengalami kenaikan paling tinggi.

Melansir data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, rata-rata daging ayam pada Januari-Juli 2026 dijual Rp 39.925,17 per kg, sedangkan pada Januari-Juli 2025 berada di angka Rp 36.453,94 per kg.

Bahkan pada Juli 2025, harga daging ayam hanya menyentuh angka Rp 35.250/kg.

Di posisi setelah daging ayam, terdapat telur ayam dan minyak goreng yang menjadi komoditas dengan kenaikan harga tertinggi.

Membaiknya harga ayam terjadi seiring bertambahnya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi menyampaikan bahwa penyerapan ayam oleh program tersebut mulai mengikis kelebihan pasokan yang membebani pasar dalam dua bulan terakhir.

"Harga ayam sudah mulai bergerak naik, mulai hari Senin 13 Juli 2026 setidaknya kerugian para peternak berkurang. Saat ini harga ayam hidup (di peternak) di kisaran Rp20.000 per kg, dibandingkan dengan Juni yang Rp13.000 (per kg). Artinya ada kenaikan. Biaya pokok peternak saat ini Rp20.000-Rp22.000 per kg," kata Sugeng sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun harganya mulai pulih, titik keseimbangan pasar belum sepenuhnya dapat dicapai.

Menurut Sugeng, tingkat produksi ayam nasional masih berada di atas kebutuhan sehingga lonjakan permintaan dari MBG baru mampu menyerap sebagian dari surplus yang sudah ada.

Di sisi lain, biaya produksi juga terus melambung tinggi. Harga day old chick (DOC) mengalami kenaikan dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp6.500 per ekor, sedangkan harga pakan membengkak sekitar Rp1.000 per kilogram sejak awal Mei. Pakan menyumbang porsi sekitar 70 persen dari biaya pokok produksi, sehingga tiap kenaikan harga bahan baku langsung menambah beban para peternak.

Meningkatnya permintaan melalui MBG memang memberikan peluang bagi industri perunggasan. Program yang ditargetkan mampu menyasar sekitar 82,9 juta penerima manfaat tersebut memerlukan pasokan protein hewani dalam kuantitas besar secara konsisten.

Kendati demikian, pola permintaan dari program pemerintah memiliki perbedaan dengan pola konsumsi rumah tangga. Tingkat penyerapan amat bergantung pada pelaksanaan program, termasuk agenda kegiatan belajar di sekolah. Apabila sekolah memasuki masa libur atau penyaluran makanan berkurang sementara, kebutuhan ayam dari MBG bisa ikut menurun. Jika produksi tetap tinggi pada kurun waktu tersebut, potensi tekanan pasokan dapat kembali muncul.

Pada waktu yang bersamaan, pemerintah membuka keran impor sebesar 580.000 ekor grand parent stock (GPS) ayam dari Amerika Serikat menggunakan skema Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Besaran nilai impor tersebut diproyeksikan mencapai US$17-20 juta. Pemerintah turut membuka impor mechanically deboned meat (MDM) berkisar 120.000-150.000 ton per tahun guna mencukupi kebutuhan industri makanan olahan seperti sosis, nugget, dan bakso.

GPS merupakan rantai tertinggi dalam sistem pembibitan ayam komersial. Bibit ini bertugas menghasilkan parent stock yang nantinya memproduksi final stock sebagai sumber day old chick (DOC) bagi para peternak. Penambahan GPS ini akan mendongkrak kapasitas pembibitan nasional dalam beberapa siklus produksi mendatang.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai bahwa Indonesia masih bergantung pada pasokan impor GPS. Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Yudhistira Nugraha menyebutkan bahwa produksi GPS dunia masih dikuasai negara-negara yang sudah membangun riset pembibitan selama puluhan hingga ratusan tahun.

Kondisi ini mendorong pihak BRIN untuk merancang dan mengembangkan GPS ayam lokal yang berbasis pada sumber daya genetik Indonesia.

Berdasarkan keterangan BRIN, pengembangan GPS lokal amat diperlukan demi memperkuat fondasi industri perunggasan nasional, sekaligus menyokong peningkatan kebutuhan protein hewani, termasuk untuk kebutuhan program MBG.

Rencana impor tersebut berjalan serentak dengan langkah pemerintah yang tengah membangun industri ayam terintegrasi melalui investasi Danantara bernilai Rp20 triliun. Program ini dirancang guna mengukuhkan rantai pasok perunggasan dari hulu hingga hilir agar pemenuhan kebutuhan protein nasional dapat dipasok dari produksi dalam negeri.

Ekonom Senior Indef Tauhid Ahmad berpendapat bahwa pembukaan impor ayam wajib kalkulasikan secara matang agar tidak menekan daya saing industri yang sedang dibangun oleh pemerintah. Menurutnya, proyek hilirisasi ayam lewat Danantara telah mulai berjalan di beberapa wilayah sebagai proyek percontohan.

"Pemerintah kan punya hilirisasi ayam (Danantara), sudah ada pilot project dan sudah dilakukan di beberapa lokasi," kata kata Tauhid sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Tauhid, persaingan nantinya bakal sangat ditentukan oleh efisiensi dari biaya produksi. Produk impor memiliki peluang lebih cepat untuk menembus pasar, sedangkan proyek hilirisasi masih membutuhkan waktu dalam meningkatkan kapasitas produksinya.

"Menurut saya bukan terancam gagal, tapi market akan milih mana yang lebih murah. Kami belum tahu harga yang akan dihasilkan oleh Danantara berapa banyak dan berapa besar, tetapi kalau misalnya impor ini bisa jauh lebih murah, pasti konsumen akan milih harga yang lebih murah," ujar Tauhid sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Situasi tersebut membuat keseimbangan antara pertumbuhan produksi dan permintaan menjadi tantangan utama bagi industri perunggasan. Program MBG memberikan ruang tambahan bagi pasar untuk menyerap hasil produksi ayam nasional. Di saat yang sama, ekspansi kapasitas pembibitan melalui impor GPS membutuhkan perencanaan terukur agar pertumbuhan pasokan dapat berjalan seirama dengan kebutuhan konsumsi.

Reporter: Akbar