Militer AS Lanjutkan Serangan ke Iran, Pasokan Minyak Dunia Terancam

Ilustrasi WTI menguat ke posisi 84,38 dolar AS per barel seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 20 Juli 2026 | 11:24:45 WIB

JAKARTA — Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin (20/7/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data CNBC International, harga minyak jenis Brent untuk kontrak pengiriman September naik sekitar 2,54 persen hingga menembus level dolar AS 90 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus menguat sekitar 2,29 persen menjadi dolar AS 84,38 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik setelah militer AS mengonfirmasi bahwa seorang personel militernya kembali tewas dalam operasi terbaru.

Pada saat yang sama, tim investigasi menemukan jenazah yang belum teridentifikasi di dekat lokasi serangan Iran di Yordania yang sebelumnya menewaskan dua personel militer AS dan menyebabkan satu lainnya dinyatakan hilang.

Di sisi lain, militer AS melanjutkan serangan terhadap target-target di Iran untuk malam kesembilan secara berturut-turut.

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/Centcom) menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial serta pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz.

"Serangan akan terus dilakukan untuk mengurangi kemampuan militer Iran yang digunakan dalam serangan terhadap kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz," demikian pernyataan Centcom melalui platform X.

Eskalasi terbaru itu kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute pengiriman minyak paling penting di dunia.

Dalam operasi tersebut, Centcom menargetkan sistem pengawasan pantai dan pertahanan udara Iran, aset-aset maritim, serta fasilitas penyimpanan rudal dan pesawat nirawak.

Militer AS juga menyerang unit-unit Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) yang disebut terkait dengan serangan terhadap personel militer AS di Yordania pada 17 Juli lalu.

Analisis Quantum Strategy David Roche menilai pasar minyak global kini semakin ketat karena ekspor minyak dari kawasan Teluk terus menyusut.

Dalam catatannya pada Senin, Roche memperkirakan penyusutan persediaan minyak akan semakin terasa mulai September jika kondisi saat ini berlanjut, termasuk bagi pasar energi Amerika Serikat.

"Pada laju penurunan seperti ini, persediaan minyak akan menjadi sangat ketat pada September dan bahkan Amerika Serikat akan mulai mengalami tekanan. Kondisi itu akan meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump. Kami tetap merekomendasikan posisi beli pada Brent dengan target harga Dolar AS 95 hingga Dolar AS 105 per barel," tulis Roche.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham atau komoditas. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Reporter: Ibtihal