Harga Nikel Dunia Melemah Akibat Proyeksi Pasokan Indonesia

Ilustrasi Biji Nikel. (Foto: Istimewa)
Penulis: Ibtihal
Kamis, 09 Juli 2026 | 16:40:14 WIB

JAKARTA - Nilai nikel dunia bergerak melemah ke angka 16.310,75 USD per ton dalam sesi perdagangan Kamis (9/7/2026) sejalan dengan respons pasar atas rencana penyesuaian suplai global. 

Komoditas logam tersebut mencatatkan penyusutan senilai 0,67 persen bila disandingkan dengan hari sebelumnya, sekaligus mendekati angka paling rendah semenjak akhir Desember silam.

Penyusutan nilai komoditas ini dipicu oleh sentimen pasar global, khususnya berkaitan dengan kebijakan Indonesia yang tengah mengkaji kenaikan kuota pertambangan dalam jumlah besar. 

Langkah Indonesia selaku salah satu produsen paling besar diprediksi bakal menambah total volume suplai nikel di pasar internasional dalam tempo pendek.

Nilai komoditas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu. Berbelanja dengan bijak dan pantau informasi harga resmi dari pemerintah.

Merujuk pada data pasar komoditas paling baru, naik-turun nilai nikel memperlihatkan volatilitas yang tergolong tinggi sepanjang bulan berjalan. 

Walau mendapatkan koreksi harian pada hari ini, nilai perdagangan nikel saat ini terpantau masih lebih tinggi jika disandingkan dengan kurun waktu yang sama pada tahun silam.

Sebelum merosot pada sesi perdagangan hari ini, nilai nikel pada Rabu, 8 Juli 2026 sempat merangkak naik dan ditransaksikan pada angka 16.420 USD per ton, atau terkerek sekitar 0,89 persen dari hari sebelumnya. 

Akan tetapi, jika dikalkulasikan sepanjang satu bulan ke belakang, nilai komoditas ini sudah menyusut sebesar 8,00 persen.

Walaupun melewati tren penurunan bulanan, posisi nilai nikel sekarang ini secara umum masih berada 6,71 persen lebih tinggi disandingkan dengan pergerakan harga pada satu tahun yang lalu. 

Pergerakan pasokan dan permintaan dari negara konsumen utama tetap menjadi penggerak utama volatilitas nilai di bursa logam global.

Untuk perdagangan nikel kontrak tiga bulan ke depan, data harian mencatat pergerakan yang tipis pada rentang rata-rata transaksi harian senilai US$16.330 per ton. 

Indikator kuartalan memperlihatkan adanya koreksi performa semenjak awal tahun yang dipicu oleh penumpukan stok di sejumlah gudang komoditas utama dunia.

Berikut adalah perbandingan data harga nikel berdasarkan kurun waktu perdagangan terbaru:

  • Performa dan Fluktuasi Harga Komoditas Nikel Dunia per Juli 2026:
  • Harian (9 Juli vs 8 Juli 2026): -0,67% (Status Performa Pasar: Melemah)
  • Bulanan (Satu Bulan Terakhir): -8,00% (Status Performa Pasar: Menurun)
  • Tahunan (Terhadap Tahun Lalu): +6,71% (Status Performa Pasar: Meningkat)
  • Terhadap Harga Tertinggi 2026: -16,87% (Status Performa Pasar: Terkoreksi)

Merosotnya nilai nikel yang mendekati angka terendah dalam beberapa bulan terakhir ini tidak lepas dari rencana peninjauan volume produksi di sektor hulu. 

Para pelaku pasar terus memantau realisasi kebijakan operasional serta regulasi dari negara-negara produsen utama di kawasan Asia Tenggara.

Situasi pasar saat ini amat dipengaruhi oleh kabar mengenai Indonesia yang sedang mempertimbangkan untuk menaikkan kuota pertambangan tahun 2026. 

Pemerintah Indonesia tengah melihat opsi untuk mengerek kuota menjadi kisaran 360 juta ton dari target awal yang dipatok sebesar 260 juta ton.

Rencana penambahan kuota mencapai 100 juta ton tersebut menyulut ekspektasi di mata pelaku pasar mengenai bakal terjadinya banjir pasokan di pasar internasional.

 Dugaan inilah yang membuat nilai nikel terus tertekan di bursa komoditas dalam beberapa sesi perdagangan belakangan.

Kendati saat ini nilai nikel mendapatkan tekanan jangka pendek akibat sentimen kelebihan suplai, model makro global menyajikan estimasi yang kontras untuk jangka menengah. 

Para analis komoditas memprediksi nilai nikel bakal melewati konsolidasi dan kembali terangkat ke level yang lebih ajek menjelang tutup tahun. Kesepakatan para analis memperkirakan nilai nikel dapat ditransaksikan di kisaran 16.540,47 USD per metrik ton pada akhir kuartal berjalan ini. 

Lebih jauh lagi, dalam jangka panjang atau 12 bulan ke depan, nilai nikel diproyeksikan punya potensi merangkak naik hingga menyentuh angka 17.581,83 USD per metrik ton seiring penyesuaian kebutuhan industri baterai global.

Sampai dengan saat ini, para pelaku industri pertambangan dalam negeri dikabarkan masih terus memantau penyesuaian regulasi terkait formula Harga Patokan Mineral yang dikeluarkan oleh pihak berwenang guna menjaga stabilitas margin operasional. 

Dinamika nilai komoditas logam ini diperkirakan masih bakal bergerak fluktuatif mengikuti rilis data cadangan gudang global pada akhir pekan.

Reporter: Ibtihal