Pendekatan Sun to Sea GEA Indonesia Atasi Susut Hasil Perikanan

ILUSTRASI, Program Sun to Sea bertujuan memperkuat rantai nilai dan konservasi ekosistem laut bagi masyarakat pesisir. (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 08 Juli 2026 | 14:35:14 WIB

JAKARTA – GEA Indonesia, berkolaborasi dengan Konservasi Indonesia serta para mitra, tengah menggalakkan solusi terpadu demi mendongkrak kesejahteraan warga pesisir. Langkah ini diwujudkan melalui pengadaan energi bersih, penguatan rantai nilai sektor perikanan, serta konservasi ekosistem laut.

Inisiatif yang diawali di wilayah Maluku ini turut menggandeng International Pole and Line Foundation (IPNLF) dan GIZ. 

Program tersebut difokuskan untuk menyokong masyarakat pesisir dalam menaikkan taraf pendapatan, sekaligus memperkokoh ketahanan ekonomi yang bertumpu pada potensi laut.

Indonesia Country Lead GEA Indonesia, Rizky Fauzianto, memaparkan bahwa potensi ekonomi biru yang dipunyai Indonesia tergolong masif, namun faedahnya belum optimal dinikmati oleh warga pesisir.

Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, angka ekspor perikanan tanah air pada 2025 menembus US$6,27 miliar. Di sisi lain, Indonesia pun menyimpan cadangan karbon mangrove paling besar di dunia yang berkisar di angka 3,1 miliar ton. 

Kendati demikian, minimnya sarana rantai dingin (cold storage), proses pengolahan, aspek logistik, beserta keterbatasan akses pasar menyebabkan margin keuntungan lebih banyak diperoleh pihak lain.

"Yang dibutuhkan adalah investasi yang menghubungkan energi bersih, infrastruktur, akses pasar, dan pengelolaan ekosistem agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar," ujar Rizky dalam keterangan pers, Rabu (8/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada mayoritas desa nelayan, para pekerja laut terpaksa melepas hasil tangkapan mereka dengan instan pada harga yang murah lantaran ketiadaan fasilitas penyimpanan dingin serta suplai listrik yang stabil. 

Malahan, tingkat kerugian pascapanen di beberapa daerah diproyeksikan menyentuh angka 30% hingga 50%.

Persoalan yang sepadan juga dirasakan oleh para pembudi daya rumput laut. Dari total hasil produksi nasional yang mencapai kisaran 10,8 juta ton pada 2024, mayoritas komoditas tersebut masih dikirim ke luar negeri dalam wujud bahan mentah tanpa melalui proses pengolahan yang memuat nilai tambah.

Lewat metode bernama ‘Sun to Sea’, GEA Indonesia mengupayakan optimalisasi energi bersih demi menyokong pembuatan es, operasional cold storage, pemrosesan produk perikanan, hingga pemanfaatan jaringan digital. 

Lewat strategi ini, komoditas tangkapan dapat diawetkan dalam jangka waktu yang lebih lama, kualitasnya tetap bermutu, serta dapat dipasarkan dengan nilai jual yang lebih kompetitif.

Bukan sekadar mendongkrak pemasukan finansial masyarakat, metode tersebut juga berkontribusi pada proteksi kawasan ekosistem pesisir, seperti hutan mangrove, padang lamun, maupun terumbu karang, yang memegang peran vital sebagai penyokong sektor perikanan sekaligus wilayah penyerapan karbon.

Untuk langkah pembuka, GEA Indonesia bersama pihak mitra bakal memberikan bimbingan kepada sejumlah komunitas percontohan guna menguji coba skema pembangunan yang berbasiskan masyarakat.

Apabila skema ini memperlihatkan hasil yang positif, model berkelanjutan tersebut diproyeksikan dapat diimplementasikan secara luas di pelbagai kawasan pesisir lain di Indonesia melalui sokongan pemerintah, badan pendanaan pembangunan, pelaku industri, serta para penanam modal.

Reporter: Gemilang Ramadhan