Target Cuan Ancol dan Bluebird Melonjak di Tengah Momen Libur Sekolah

ILUSTRASI, Ancol siapkan program atraksi khusus untuk memaksimalkan kunjungan libur sekolah 2026. (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 30 Juni 2026 | 13:31:10 WIB

JAKARTA – Masa liburan sekolah diperkirakan bakal menjadi pendorong utama bagi emiten pariwisata PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) beserta emiten transportasi PT Blue Bird Tbk. (BIRD) di paruh kedua tahun 2026. Pihak PJAA memproyeksikan terjadinya lonjakan kunjungan wisata keluarga pada periode tersebut, sedangkan BIRD mengantisipasi permintaan layanan transportasi akan terus merangkak naik selaras dengan mobilitas masyarakat yang tinggi menuju tempat-tempat rekreasi.

Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk., Daniel Windriatmoko, mengungkapkan bahwa perseroan telah mempersiapkan beragam program, atraksi, serta penyelenggaraan acara guna memaksimalkan momentum bergengsi ini. "Libur sekolah merupakan salah satu momentum paling penting bagi Ancol setiap tahunnya. Pada periode ini kami melihat peningkatan minat masyarakat untuk berwisata bersama keluarga, sehingga secara historis jumlah kunjungan maupun aktivitas ekonomi di kawasan Ancol cenderung meningkat," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Senin (29/6/2026).

Pihak manajemen menaruh optimisme tinggi bahwa pergerakan angka kunjungan selama masa libur sekolah tahun ini akan jauh lebih baik ketimbang periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kendati demikian, pencapaian performa yang riil nantinya tetap akan dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, seperti kondisi perekonomian, situasi cuaca, hingga daya beli masyarakat.

Daniel menerangkan bahwa target yang dibidik oleh perseroan tidak semata-mata bertumpu pada pertambahan jumlah pelancong, melainkan juga berupaya mendongkrak kualitas kunjungan lewat perpanjangan durasi tinggal wisatawan serta besaran pengeluaran selama berekreasi di kawasan Ancol. 

Sejumlah unit rekreasi diperkirakan tetap menjadi motor penggerak utama pertumbuhan, mulai dari kawasan Pantai Ancol, Dunia Fantasi (Dufan), Sea World, Samudra, Jakarta Bird Land, hingga bermacam festival yang digelar sepanjang liburan.

Bukan cuma sektor hiburan, Ancol juga memperkirakan lini bisnis penunjang seperti kuliner, ritel, dan akomodasi perhotelan bakal turut kecipratan lonjakan permintaan karena semakin banyak pelancong yang menghabiskan waktu lebih lama di destinasi wisata tersebut. 

Bidang rekreasi dinilai masih memegang peluang ekspansi yang lebar pada semester II/2026 seiring menguatnya pergerakan warga serta tingginya kebutuhan atas tempat wisata yang mudah dijangkau.

Meskipun begitu, perusahaan tetap mewaspadai tantangan berupa naik-turunnya daya beli masyarakat, persaingan dengan destinasi wisata kompetitor, hingga faktor cuaca yang berisiko memengaruhi volume kedatangan pengunjung. 

Demi menjaga tren pertumbuhan yang berkelanjutan, Ancol bakal mengandalkan inovasi produk, penyajian acara yang kian menarik, peningkatan kualitas pelayanan, serta efisiensi operasional demi menjaga stabilitas performa keuangan korporasi.

Sampai dengan saat ini, merujuk pada laporan keuangan resmi, perolehan pendapatan usaha PJAA tercatat di angka Rp207,58 miIiar pada kuartal I/2026, atau mengalami koreksi tipis sebesar 1,52% dari posisi Rp 210,80 miliar pada kuartal I/2025. 

Sejalan dengan penurunan pendapatan itu, nilai rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berada di angka Rp38,80 miliar, atau membengkak dari semula Rp11,17 miliar pada periode yang sama di tahun lalu.

Kondisi yang serupa juga melanda momentum libur sekolah yang ikut memberikan stimulus positif bagi emiten transportasi. 

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk., Andre Djokosoetono, menyampaikan bahwa lonjakan aktivitas wisata dan perjalanan keluarga biasanya selalu dibarengi dengan kenaikan kebutuhan akan sarana transportasi.

Andre mencermati bahwa tren di tahun sebelumnya memperlihatkan adanya pertumbuhan permintaan pada berbagai lini bisnis Bluebird Group. Pada Juli 2025, sebagai contoh, permintaan jasa taksi Bluebird naik mendekati 10% jika dibandingkan dengan Juni 2025.

Lonjakan tersebut dipicu oleh tingginya keperluan armada transportasi menuju destinasi wisata, pusat kegiatan, stasiun, hingga bandar udara.

Selain layanan taksi reguler Bluebird, korporasi juga mengendus potensi ekspansi dari lini premium Silverbird, penyewaan kendaraan Goldenbird, bus Bigbird, sampai layanan antarkota Cititrans yang kerap dimanfaatkan oleh keluarga maupun kelompok selama musim liburan. "Kami melihat layanan transportasi yang aman, nyaman, dan andal masih menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam mendukung aktivitas selama masa libur sekolah," tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Apabila ditilik dari aspek performa, emiten taksi kepunyaan keluarga Djokosoetono tersebut mengantongi pendapatan senilai Rp1,45 triliun pada kuartal I/2026, atau tumbuh sebesar 11,6% bila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang senilai Rp1,3 triliun.

Akan tetapi, performa pertumbuhan pendapatan tersebut rupanya belum berbanding lurus dengan capaian laba bersih perseroan. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan hingga 31 Maret 2026, BIRD membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp155,5 miliar. 

Laba bersih ini mencatatkan penurunan sebesar 6% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang bernilai Rp165,4 miliar. Sementara itu, nilai EBITDA perseroan sukses menyentuh angka Rp341,8 miliar.

Reporter: Gemilang Ramadhan